Wujud Cinta Hamba Kepada Allah

Kolom

Wujud Cinta Hamba Kepada Allah

Nusantaramengaji.com - Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Demikian pepatah populer yang sering kita dengar. Benarkah seperti itu, hanya sang pecinta yang mengetahui dan merasakan kebenaran pepatah tersebut.

Ada dua hal yang mendasari cinta seseorang, yaitu cinta karena nafsu dan cinta karena betul-betul cinta, sebuah kata yang tidak dapat didefinisikan tapi dapat dirasakan. Cinta karena nafsu biasanya hanya mengarah pada suatu hal yang menyenangkan saja dan berupaya mendapatkan dan memuaskannya. Jika kesenangan itu menghilang dan kepuasan tidak didapat maka yang ada adalah kekecewaan dan penyesalan.

Berbeda dengan cinta yang murni, ia tidak menuntut syarat apapun dari yang dikasihinya, tidak peduli kondisi senang atau susah, cinta itu akan tetap bersemayam di hatinya. Ia tidak lenyap dan hilang, hatinya selalu dipenuhi kasih sayang, tak lekang oleh waktu dan tak lapuk oleh panas dan hujan. Hati yang diliputi cinta yang terlihat hanya wajah kekasihnya, yang terdengar hanya suara kekasihnya, dan terucap hanya nama kekasihnya.

Maksud cinta di sini adalah cinta hamba kepada Tuhannya. Bagaimanakah bentuk cinta hamba kepada Tuhannya ini. Dalam surah Ali Imran ayat 31 Allah berfirman yang artinya; “ katakanlah; jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku , niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Penganmpun lagi Maha Penyayang".

At- Thabari menjelaskan, dengan mengutip ucapan Abu Ja’far yang mengatakan bahwa para mufassir berbeda pendapat tentang sebab turunnya ayat ini. Sebagian mereka mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan ucapan suatu kaum pada masa Nabi Muhammad yang mengatakan; sesungguhnya kami mencintai Tuhan kami. Kemudian Allah memerintahkan dengan memuliakan Nabi untuk berkata kepada kaum itu; jika kalian adalah orang-orang yang jujur dengan apa yang kalian ucapkan, maka ikutilah aku, karena itulah tanda kebenaran ucapan kalian.

Ayat di atas secara gamblang menjelaskan bahwa cinta kepada Allah itu diwujudkan dengan mencintai sunnah Nabi-Nya. Mencintai sunnah Nabi berarti mengikuti dan mematuhi semua ajarannya. Maksudnya, Kecintaan hamba kepada Tuhannya adalah dengan mematuhi semua perintah dan menjauhi larangan-Nya, mendahulukan ketataan kepada-Nya ketimbang kepada yang lain, dan selalu mengharap pujian dari-Nya. Ini semua hanya bisa dilakukan dengan mengikuti Nabi dan para pewarisnya, yaitu; orang-orang shalih.

Imam Al Ghazali mengatakan barang siapa mengaku empat hal tapi melakukan empat hal lain maka ia telah berdusta, yaitu; barang siapa mengaku mencintai surga tapi ia tidak melakukan ketaatan maka ia telah berdusta. Barang siapa mengaku mencintai Nabi SAW tapi tidak mencintai para ulama dan orang-orang miskin maka ia telah berdusta. Barang siapa mengaku takut akan neraka tapi tidak meninggalkan kemaksiatan maka ia berdusta. Dan barang siapa mengaku cinta kepada Allah tapi mengeluh terhadap ujian maka ia telah berdusta.

Seringkali ekspresi cinta hamba kepada Tuhannya itu terasa aneh dan membingungkan kalau tidak mau dikatakan gila. Ucapan dan perilakunya ganjil, tidak sesuai kewajaaran yang ada di masyarakat umum. Namun, kalau kita mengetahui dan merasakan pula apa yang mereka rasakan maka keganjilan atau kegilaan itu menjadi sangat “rasional” dan dapat dimengerti.

As-Syibli berkata; para pecinta ketika meneguk secawan anggur kecintaan, maka dunia menjadi sempit bagi mereka. Mereka mengenal Allah begitu dalam. Mereka tersesat dalam keagungan-Nya. Mereka kebingungan dalam kekuasaan-Nya. Mereka telah meneguk anggur kecintaan illahi dan tenggelam dalam lautan keakraban dengaNya. Mereka bersenang-senang dengan munajatnya. Lalu beliau bersenandung;

Menyebut Cinta, Tuanku, memabukkanku

Pernahkah engkau melihat pecinta yang tak mabuk

Itulah cinta. Sesuatu yang hanya dapat dirasakan tapi tak dapat dibicarakan. Karena kata-kata hanya akan mengurangi makna cinta. Janganlah heran ketika mendengar atau membaca kisah-kisah para pecinta dengan beragam ekspresinya karena cinta adalah sesuatu yang agung sehingga hati seseorang terkadang tak kuat menanggunya dan membuatnya menjadi mabuk/gila.

Bagaiamana menjelaskan cinta Zulaikha kepada Yusuf ketika setiap mendengar kata Yusuf dari seseorang, ia lantas menghadiahkan permatanya kepada orang tersebut sehingga seluruh perhiasannya yang yang konon hanya dapat dipikul oleh tujuh unta itu habis karena senangnya mendengar kata Yusuf. “Hari ini aku telah mendengar nama yusuf” ucapnya dengan gembira.

Ada pula kisah Majnun dan Laila di mana majnun merasa terobati rindunya dengan hanya melihat dinding rumahnya dan tidaklah majun melihat dinding itu tapi pada penghuni yang ada di dalamnya. Ketika dikabarkan kepadanya tentang kematian Laila, ia tidak percaya dan mengatakan bagaimana mungkin Laila bisa mati sedangkan ia selalu hidup dalam hatiku.

Cinta yang membuat seseorang mabuk atau gila merupakan sesuatu yang aneh bagi kebanyakan orang tapi tidak bagi yang pernah merasakannya. Orang yang pernah jatuh cinta akan memaklumi kegilaan yang menimpa para pecinta.

Jadi, janganlah merasa aneh melihat seorang pecinta yang terkadang berperilaku di luar kewaajaran karena itu merupakan ungkapan perasaannya yang meluap-luap sehingga tak tertampung dalam hatinya. Kalau kecintaan pada makhluk saja sudah sedemikian rupa lalu bagaimana kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya, tentu sangat sulit menggambarkanya.

Ada sebuah kisah yang kutip Imam Al Ghazali dalam kitabnya Mukasyafatul Qulub. Pada suatu hari Nabi Isa as melewati seorang pemuda yang sedang menyirami kebunnya. Pemuda itu berkata kepada Nabi isa; mohonkanlah kepada Tuhan anda agar menganugrahi saya kecintaan kepada-Nya walau hanya sebesar biji sawi.

Nabi Isa menjawab; engkau tidak akan mampu menanggungnya walau hanya sebesar biji sawi pun. Kalau begitu setengah biji sawi. Pinta pemuda itu. Lalu Nabi Isa pun berdoa; Ya Tuhanku, anugrahilah ia separuh biji sawi kecintaan kepada-Mu.

Nabi Isa pun berlalu darinya. Setelah beberapa waktu berlalu, Nabi Isa lewat lagi di tempat pemuda itu. Beliau bertanya kepada orang-orang tentang pemuda itu. Mereka menjawab bahwa pemuda itu adalah jin dan dia telah pergi ke puncak gunung.

Lalu Nabi Isa berdoa agar diperlihatkan kepadanya pemuda itu dan beliau melihatnya di puncak gunung. Pemuda itu berdiri di atas sebuah batu seorang diri dan kepalanya memandang ke langit. Nabi Isa mengucap salam kepadanya tetapi ia tidak menjawab, lalu Nabi Isa berkata aku adalah Isa.

Allah SWT lalu berfirman kepadanya; bagaimana Ia dapat mendengar ucapan manusia sedangkan di dalam kalbunya terdapat setengah biji sawi kecintaan kepada-Ku. Oleh karena itu, demi Kemuliaan dan keagungan-Ku, kalaupun engkau memotongnya dengan gergaji niscaya ia tidak akan merasakan hal itu.

Kisah-kisah yang dikutip oleh para ulama di atas menggambarkan bahwa mahabbah/cinta itu tidak dapat diwakili oleh kata-kata atau pandangan umum. Ia bersemayam dalam hati seorang hamba yang suci hatinya dan terkadang karena ketidakmampuan menampungnya ia seolah-olah menjadi mabuk atau gila.

Saya kira tidak ada kata yang mampu menjelaskan makna cinta ini selain orang-orang yang merasakannya dan kalaupun mampu pasti tak lebih dari sedikit apa yang dirasakan bukan dari keseluruhannya. Wallahu a’lam bisshowab. (Lutfi Syarqawi)

 

 

   

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00