Risalah Nusantara Mengaji

Oleh: Jazilul Fawaid, (Ketua Koordinator Nusantara Mengaji, Ketua Alumni Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta)

"Seandainya hati ini bersih, niscaya tak akan pernah puas membaca Alquran." (Utsman bin Affan, wafat 656 M).

Alhamdulillah. Ada letupan bahagia sekaligus syukur yang tak terhingga dari panitia dan semua pihak yang terlibat menyukseskan Gerakan Nusantara Mengaji (GNM). Animo masyarakat terlibat dalam GNM sejak April lalu sangat besar.

Selama sehari semalam, sejak Sabtu (7/5) malam dan ditutup kemarin, Ahad (8/5), pukul 14.00 WIB, sebanyak 2.089.610 orang mengkhatamkan Alquran sebanyak 313.339 di 67.813 lokasi yang tersebar di 401 kabupaten/kota dari 34 provinsi se-Indonesia.

Apa yang kita lakukan melalui GNM sejatinya adalah satu dari sekian ikhtiar sederhana kita mengajak bangsa Indonesia, dari elite hingga akar rumput kembali berinteraksi dengan Alquran, minimal kembali membaca ayat-ayat suci itu.

GNM yang dipelopori oleh A Muhaimin Iskandar (Cak Imin) ini akan semakin melengkapi upaya kita mewujudkan Indonesia yang Qurani, dimulai dari gemar membaca. Bukankah agama kita hadir kemudian kokoh, bahkan pernah berada di level puncak kejayaah, salah satu faktor utamanya karena pentingnya amar dan semangat membaca? (QS al-'Alaq [96]: 1).

Membaca adalah awal sekaligus muara dari problematika tersingkirnya umat kita dari tatanan nilai agung yang tertuang dalam Alquran. Ada pergeseran tradisi yang sangat signifikan di tengah-tengah kita. Teknologi gadget, tayangan televisi, dan hedonisme mutakhir abad ini, sedikit atau banyak, telah mereduksi minat dan perhatian kita terhadap Alquran.

Kita lebih suka berjam-jam memainkan ponsel pintar kita, menghabiskan masa di pusat perbelanjaan, atau aktivitas duniawi lainnya. Tapi, kita enggan, jangankan membaca, memegang untuk sekadar bertabarukan dengan kitab suci ini.

GNM merupakan tonggak awal menggelorakan cinta Alquran dan mentradisikan kembali budaya mengaji di kalangan umat Islam. Antusiasme tersebut menjadi bukti bahwa umat Islam Indonesia sejatinya rindu mengaji, gandrung membaca Alquran, dan memiliki kerelaan yang tinggi mendoakan bangsa, negeri, dan rakyat Indonesia melalui riadat (olah spiritual) nasional dengan mengkhatamkan Alquran.

Bagaimanapun, Alquran lebih dari sekadar bacaan biasa. Ia adalah identitas, sumber inspirasi, dan ruh bagi mereka yang mengaku mukmin. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan, perumpaan mukmin yang membaca Alquran adalah seperti limau manis, baunya harum dan rasanya juga enak.

Dan, perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Alquran adalah seperti buah kurma, aromanya tidak wangi semerbak, tapi rasanya manis. Riwayat lain menyebut hati mereka yang tak pernah mendapat asupan bacaan Alquran ibarat rumah kosong tak berpenghuni.

Islam, iman, dan ihsan seseorang mustahil terlepas dari Alquran. Begitulah keistimewaan Alquran. Mukmin yang membacanya akan memperoleh energi positif, bukan hanya di hadapan makhluk, melainkan Sang Khalik. Ia bagaikan limau manis dengan dua keunggulan sekaligus, wangi dan enak.

Agama kita menjadikan seberapa besar kedekatan kita dengan Alquran sebagai barometer dan tolok ukur menggapai puncak kegemilangan peradaban. Sejarah telah membuktikan itu. Pasang surut peradaban Islam di masa lalu, jika kita renungkan mendalam, adalah buah keterikatan yang kuat generasi masa lalu dengan Alquran.

Utsman bin Affan, di tengah-tengah kesibukannya menjalakan pemerintahan sebagai khalifah, tetap meluangkan waktu untuk mengkhatamkan Alquran tiap hari, minimal sekali khatam. Imam Syafii, pencetus mazhab Syafii, merampungkan 60 kali khataman Alquran dalam sebulan, terutama ketika Ramadhan.

Alquran sumber inspirasi menggali ilmu pengetahuan sepanjang kejayaan Islam Abad Pertengahan. Alquran memang tak menyimpan detail teori-teori dengan ragam argumentasi ilmiahnya. Namun, kitab ini berisikan indikator-indikator awal dan mendasar menunju riset dan kajian mendalam.

Dalam bahasa Abdullah bin Mas'ud RA, sahabat Rasulullah SAW, di dalam Alquran tersimpan ilmu orang-orang terdahulu dan generasi yang akan datang. Dalam konteks inilah, relevansi GNM itu hadir, hendak mengajak kita kembali dekat dengan Alquran, mulai dari membaca.

Konteks berikutnya, GNM adalah upaya kecil kita untuk turut mendoakan bangsa Indonesia. Semoga, Allah SWT memberikan kesejahteraan, kemakmuran, dan kedamaian Indonesia. Alquran bukan hanya petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 2), melainkan juga obat penawar terhadap penyakit fisik atau nonfisik bagi orang-orang yang beriman. (QS al-Isra' [17]: 82).

Ke depan, GNM akan tetap menjadi gerakan budaya praktis dan bukan politis yang mengajak kita, sekali lagi, kembali dekat dengan Alquran. Bersama-sama, kita akan mengawal gerakan ini dan mengejewantahkannya dalam program-program riil di akar rumput. Menggerakkan mushala, masjid, taklim, dan institusi terkecil masyarakat kita, yaitu keluarga, menggelorakan semangat membaca Alquran.

Dalam program jangka panjang, kita berkeinginan mewujudkan cita-cita besar, program satu desa satu hafiz, bahkan satu masjid satu hafiz. Gerakan ini akan terwujud dengan dukungan berbagai pihak dan potensi berupa ribuan pesantren Alquran. Tentunya, cita-cita mulia itu juga hanya akan terealisasi dengan bantuan semua pihak.

Marilah kita kembali membersihkan hati, menjernihkan pikiran, dan sembari merapatkan barisan. Seperti kata Utsman, hanya dengan hati bersih inilah, kita niscaya dekat dengan Alquran dan tak pernah puas untuk membaca ayat demi ayat di dalamnya lalu menangkap pesan dan nilai-nilai agung; Islam membawa keberkahan dan kasih sayang untuk alam semesta, bukan sebaliknya. (republika.com/Senin, 09 Mei 2016)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00