Ramadhan Loncatan Perubahan

Oleh: Jazilul Fawaid, SQ, MA (Ketua Koordinator Nasional Gerakan Nusantara Mengaji dan Ketua Umum Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Ilmu Alquran(IKAPTIQ).

“Tiap hari sejatinya adalah Idul Fitri, selama tidak kemasiatan terhadap Sang Khaliq.” (Hasan al-Bashri /w 728 M)

Kita memang harus mengakui, segudang persoalan masih menumpuk di pundak bangsa Indonesia. Korupsi masih merajalela, degradasi etika sosial, suramnya potret dunia pendidikan, krisis ketaladanan, dan kondisi ekonomi yang tak menentu.

Namun, percayalah, kita sebagai sebuah bangsa, negara dengan mayoritas penduduknya Muslim, terbesar di dunia saat ini, masih menyimpan optmisme yang begitu besar. Saya pun memiliki keyakinan yang sama.

Secercah asa, bahkan sederet kebaikan sebenarnya tetap kokoh dalam budaya, karakter, dan keseharian kita serta terhampar di banyak pribadi-pribadi umat Indonesia. Meski ia terkadang tak tampak, tertutupi oleh hiruk pikuk dan kegaduhan politik, kesibukan elite, dan kealfaan para agamawan kita.

Awal tahun ini, YouGov, lembaga riset yang bermarkas di Amerika Serikat, menempatkan Indonesia, dalam peringkat kedua sebagai negara yang paling optimis memandang perubahan dunia yang serba hipokrit dan tidak konstan. Posisi ini berada di bawah tepat ranking Tiongkok yang didaulat sebagai negara paling optimis.

Laporan tersebut menyebutkan sebanyak 23 persen masyarakat Indonesia menganggap dunia sedang menuju ke arah yang lebih baik. Meski jika dibandingkan dengan persentase mereka yang pesimistik, jumlahnya masih 42 persen. Tetapi, peringkat itu masih lebih bagus dibandingkan negara lainnya.

Di bawah Tiongkok dan Indonesia, ada negara Arab Saudi, Thailand, Uni Emirat Arab, dan Swedia. Sedangkan Prancis dan Australia adalah negara yang paling pesimis dengan jumlah masyarakat yang optimis masing-masing hanya sebesar tiga persen.

Optimisme itulah yang juga saya lihat dari antusiasme dan animo Muslim Tanah Air terlibat aktif menyukses Gerakan Nusantara Mengaji. Sebuah ikhtiar sederhana untuk kembali mengajak masyarakat kembali, minimal membaca Alquran.

Pada 7-8 Mei, selama kurang lebih 24 jam, gerakan ini mengkhatamkan Alquran sebanyak 342 ribu kali yang dilakukan oleh 3,2 juta pembaca dalam waktu 24 jam. Ini berlangsung di 67.865 lokasi yang tersebar di 34 provinsi.

Dan Alhamdulillah, capaian ini mencetak rekor Museum Republik Indonesia (MURI),  bahkan rekor dunia, dengan kategori pengkhataman Alquran dan pembaca terbanyak di lokasi yang tersebar di Indonesia.

Respons yang sangat luar biasa tersebut, sekali lagi membuktikan apa yang saya sebut dengan masih kuatnya optimisme kita di tengah-tengah krisis multidimensi.

Sekaligus membuktikan bahwa umat Islam Indonesia sejatinya rindu mengaji, gandrung membaca Alquran, dan memiliki kerelaan yang tinggi mendoakan bangsanya. Kita, sejatinya merindukan nilai-nilai dan semangat positif yang memang beranjak pudar.

Maka dalam konteks itulah, Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi ini, menjadi momentum untuk memperbarui iman, Islam, dan ihsan, serta komitmen kita berkontribusi, atau setidaknya terlibat menjadi bagian dalam gerbong perbaikan.

Inilah yang sejatinya menjadi spirit Ramadhan. Ia memberikan energi itu. Energi terbarukan yang membawa kita ke perubahan mendasar. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah bersabda, kesuksesan puasa akan membawa kita dalam kondisi ‘terlahir kembali’.

Tentu, bukan secara tekstual kita memahaminya, hadis tersebut menegaskan orang yang berhasil benar-benar puasa, tak sekadar menahan haus dan dahaga, akan menatap hari-hari ke depan pasca-Ramadhan dengan semangat perubahan, motivasi yang baru, singkat kata, ia akan melalui fase, reorientasi hidup menuju level yang lebih baik. Bukan sebaliknya.

Selama Ramadan ini, kita ditempa untuk memaksimalkan dua potensi sekaligus. Pertama, potensi sebagai seorang makhluk dan hamba Allah SWT. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, ada dua elemen utama menggapai kesuksesan Ramadhan, yaitu penguasaan dan pengelolaan atas keimanan pada masing-masing individu dan kedua adalah komitmen dan konsistensi yang diungkapkan dengan istilah ihtisaban.

Dalam bahasa Hasan al-Bashri, tokoh sufi terkemuka abad ke-2 Hijriyah, Ramadhan dijadikan sebagai ajang kontestasi oleh Sang Khalik untuk para hamba-Nya. Mereka dituntut untuk berlomba-lomba meraih kebajikan.

Ada peserta yang serius dan berkomitmen menyuguhkan permainan sebaik mungkin, mengisi Ramadhan dengan riyadhah , olah spiritual ada pula yang biasa-biasa saja juga yang gagal menjadi pemenang. Beruntunglah mereka yang mampu meraih predikat juara.

Dan potensi kedua, ialah faktor transendental. Seberapapun usaha yang kita tempuh, jangan pernah mengabaikan begitu saja faktor eksternal, yaitu ‘sentuhan’ Sang Khaliq. Ramadhan melatih kita senantiasi mempunyai keterikatan kuat dengan-Nya,.

Allah memberikan peluang berharga untuk segenap Muslim pada bulan ini, yaitu kehadiran lailatul qadar, malam istimewa. Keberadaannya sengaja tak pernah dipastikan oleh Rasulullah. Ia ada di Ramadhan, begitu saja. Hanya pembatasan probabilitas waktu kehadirannya, yaitu pada sepuluh hari terakhir.

Menurut Imam al-Qurthubi, dalam kitab tafsirnya, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, Itu pun bukan penegasan, sifatnya sekadar antisipatif agar kita, umat Islam, termotivasi memaksimalkan hari demi hari Ramadhan.

Ada rahasia mengapa malam ini bisa dijadikan sebagai titik balik perubahan soerang Muslim. Masih menurut al-Qurthubi, selain unsure rahmat dan ampunan, saat Lailatul Qadarlah, Allah akan mengembalikan ketetapan takdir yang sebelumnya telah ditetapkan pada pertengahan Sya’ban kepada pemiliknya masing-masing. Ini meliputi ketentuan rezeki, ajal, jodoh, bahkan menurut sejumlah pendapat, termasuk rezeki berhaji ke Tanah Suci.

Ramadhan, boleh saja berlalu, tetapi hendaknya optimisme, semangat perubahan, nilai-nilai kebaikan yang dipupuk selama Ramadhan tetap terjaga pada hari-hari berikutnya. Di sinilah seharusnya Idul Fitri dimaknai sebagai loncatan perubahan itu.

Dan, sebab pada hakikatnya, seperti diungkapkan oleh sang maestro sufi, Hasan al-Bashri, sejatinya hari-hari yang dilalui Muslim adalah Idul Fitri, kembali ke fitrah sebagai hamba yang berbenah dan mensucikan diri, selama berbagai bentuk kemaksiatan tak lagi dilakukan yaitu maksiat kepada Tuhan, maksiat kepada sesama, keluarga, maksiat kepada diri sendiri, serta maksiat kepada bangsa dan negara.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00