Puasa Sebagai Perisai Diri Meraih Taqwa

Kolom
Foto: 
Cak Imin

Puasa Sebagai Perisai Diri Meraih Taqwa

 

Oleh: H. A. Muhaimin Iskandar

Nusantaramengaji.com - Suatu hari Ibnu Abbas r.a ditanya oleh beberapa sahabat; wahai Abbas hari apakah yang paling baik?, bulan apakah yang terbaik serta amal apakah yang paling baik dilakukan?. Ibnu Abbas menjawab; sebaik-baik hari adalah hari Jum’at. Sebaik-baik bulan adalah bulan Ramadhan dan sebaik-baik amal adalah sholat tepat pada waktunya.

Ucapan Ibnu Abbas mengingatkan kembali pada kita bahwa bulanRamadhan adalah sebaik-baik bulan di antara bulan-bulan yang lain. Pada bulan ini rahmat dan ampunan Allah dilimpahkan kepada seluruh makhluk terutama bagi muslimin yang melaksanakan kewajiban puasa.

Kewajiban puasa ini merupakan syariat yang sudah diwajibkan bagi umat-umat terdahulu dan karenanya puasa ini memiliki makna yang sangat penting dan wajib dilakukan.Kewajiban puasa sudah difirmankan Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 183-184;

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

 أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.

 

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka, barang siapa di antara kalian sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya, (jika mereka tidak berpuasa), membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati, itulah yang lebih baik baginya. Berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui ”.

Ayat ini dapat dipahami bahwa kewajiban puasa ini memang dikhususkan bagi umat Islam dengan hari-hari dan maksud tertentu, yaitu; menjadikan mereka orang-orang yang bertaqwa. Menjadi orang bertaqwa tidaklah mudah dan seringan yang diucapkan karena menjaditaqwa berarti ia mampu menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangann-Nya dan tidak ada yang mampu melakukan ini selain para Nabi dan orang-orang soleh.

Dalam konteks inilah, bulan Ramdhan lahir sebagai jawaban atas kesulitan menjadi orang bertaqwa tersebut. Pada bulan ini kewajiban puasa merupakan sarana penting untuk menjadi taqwa. Karena puasa adalah cara paling ampuh untuk menundukkan hawa nafsu dan membentengi diri dari godaan syetan.

Para Arifin setelah bersepakat bahwa tiada cara lain dalam menundukkan hawa nafsu selain berlapar/berpuasa. Dalam sebuah kisah yang dikutip Syaikh Abdul Wahab As-Sya’rani dari Ibnu Arabi, dalam kitabnya Minahus Saniyyah, bahwa ketika Allah menciptakan Nafsu pertama kali, Nafsu ditanya oleh Allah; Siapakah Aku? Nafsu malah balik nanya; siapa aku. Dan jawaban Nafsu seperti itu sampai dua kali sehingga Allah lalu menenggelamkannya dalam lautan kelaparan selama seribu tahun. Barulah Nafsu menjawab ketika ditanya; Siapakah Aku? Nafsu menjawab; engkau adalah Tuhanku (Anta Rabbi).

Kisah ini menunjukkan betapa sulitnya mengendalikan dan menundukkan nafsu tapi ternyata kemudian puasa adalah cara paling ampuh untuk menaklukkan hawa nafsu. Dengan pemahaman ini kita menjadi tahu kenapa Allah mengkhususkan puasa Ramadhan itu bagi diri-Nya dan Dia pula yang akan mengganjar pahala secara khusus pula bagi hambanya yang berpuasa.

Seperti dalam sebuah hadis disebutkan bahwasanya Rasulullah bersabda; seluruh amal bani Adam adalah pahalanya untuk diri mereka sendiri sedangkan puasa ini adalah untuk-Ku dan aku sendiri yang akan membalasanya.

Oleh karena itu, puasa Ramadhan merupakan momentum bagi umat Islam untuk membersihkan diri dan mohon ampun atas segala dosa-dosa yang telah dilakukan. Dengan kewajiban puasa umat Islam seolah ingin diajarkan dan dibentengi dari segala bentuk hawa nafsu dan godaan syetan yang terkutuk.

Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a, Nabi SAW bersabda;

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَسْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّيْ امْرُؤٌ صَائِمٌ

“… dan puasa adalah tameng. Bila salah seorang dari kalian berada pada hari puasa,janganlah ia berbuat sia-sia dan janganlah ia banyak mendebat. Kalau orang lain mencercanya atau memusuhinya, hendaknya ia berkata, ‘Saya sedang berpuasa.’.”

Menurut para ulama sumber hawa nafsu itu ada di perut. Dalam perut yang kenyang terkandung kerasnya hati dan hilangnya simpati serta dapat menjadikan seseorang malas tuk melakukan ibadah ritual maupun sosial. Sedangkan dalam rasa lapar terkandung ilmu dan hikmah, rasa empati dan terbatasinya keinginan.

Rasa lapar/puasa dapat mengantarkan seseorang ke surga. Banyak kalangan sufi dan orang-orang soleh yang menjadikan puasa ini sebagai selendang untuk meraih surga bahkan Baginda Nabi sering perutnya tidak tersentuh makanan sehingga disumpal dengan batu dan seringkali berpuasa.

Dalam hadits riwayat Ahmad, An-Nasâ`i, dan Ibnu Hibban, bahwa Abu Umamah r.a bertanya kepada baginda Nabi SAW;

يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمُرْنِيْ بِعَمَلٍ أَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ . قَالَ عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَهُ

“Wahai Rasulullah, perintahlah saya untuk mengerjakan suatu amalan, yang dengannya, saya dimasukkan ke dalam surga. Beliau bersabda, Berpuasalah, karena (puasa) itu tak ada bandingannya”.

Syaikh Sulaiman Addarani mengatakan bahwa pintu kesenangan dunia adalah rasa kenyang dan pintu kesenangan akherat ada pada rasa lapar (Mafatihud Dunya Assyub’u wa mafatihul Akhirah Al-Juu’).

Jadi, pertama yang harus kita lakukan dalam meraih taqwa adalah dengan cara berpuasa karena dengan berpuasa kita telah mempersempit dan membelenggu syetan sehingga ruang geraknya terbatasi dan masuknya melalui aliran darah atau perut juga terhindari. Dengan puasa kemudian pintu-pintu surga di buka dan pintu neraka ditutup. Bagaimana tidak tertutup ketika semua keinginan yang mengarah kesana ditutup pintu masuknya yaitu; ditekannya keinginan hawa nafsu dan syahwat dengan berpuasa.

Kedua, dengan puasa pintu-pintu kebaikan menjadi terbuka. Ketika semua keinginan syahwat telah dibelenggu maka secara otomatis yang terbuka atau nampak adalah kebun-kebun kebaikan. Kebaikan ini bisa berujud apa saja selama bermanfaat bagi orang lain; infaq, sedekah,memaafkan kesalahan orang lain, menolong orang yang kesusahan, menghindari iri dan dengki, tidak menggunjing, bahkan meski hanya membuang duri dari jalanan.

Ketiga, bulan Ramadhan adalah momentum menanam kebaikan terutama terhadap orang-orang miskin dan lemah. Pada diri orang miskin dan lemah terdapat pintu kebaikan karena akan selalu mengingatkan anugrah dan nikmat yang diberikan Allah kepada kita.

Dalam diri kaum dhuafa’ termuat pelajaran akan makna sabar dan syukur atas segala karunia Allah bahkan Baginda Nabi lebih menyenangi bersahabat dengan orang-orang miskin dan lemah seperti Bilal, Fuhairah, Salman Al Farisi dan lain-lain daripada berteman dengan para orang kaya atau bangsawan.

Dengan demikian, bulan Ramadhan adalah bulan untuk melatih dan memperisai diri dari segala macam godaan syetan dan membentengi diri dari hawa nafsu yang dapat menjerumuskan kita kepada kemaksiatan sehingga semakin jauh dari Allah SWT.

Di samping itu bulan Ramadhan juga merupakan ladang berbuat kebaikan untuk orang lain karena jika semua amal dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kebaikan. Maka beramal pada bulan Ramadhan pahalanya menjadi tak terbatas dan hanya Allah yangtahu. Wallahu a’lam bisshowab.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00