Menyingkap Rahasia Wudhu'

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Menyingkap Rahasia Wudhu'

Nusantaramengaji.com - Manusia tercipta dengan dua sisi yaitu; sisi lahir dan batin. Sisi lahir manusia dapat di lihat dan diraba sedangkan sisi batin hanya manusia itu sendiri dan Allah yang mengetahuinya. Dalam kerangka ini pulalah Allah memerintah dan melarang manusia untuk melakukan hal-hal tertentu. Artinya, semua perintah dan larangan Allah mencakup sisi lahir dan batin manusia. Mengerjakan sisi lahir perintah tapi mengabaikan sisi batinyya belumlah dianggap taat dan sempurna begitu juga sebaliknya tentang larangan.

Dalam fiqih ibadah kita jumpai hal pertama yang perlu kita lakukan, terutama dalam solat adalah thaharah/Wudhu’. Pengertian wudhu’ adalah bersuci dari najis/hadas kecil tapi pengertian ini sangatlah sederhana mengingat betapa pentingya wudhu dalam setiap rangkaian ibadah bahka ketika akan solat dan memegang Al Qur’an berwudhu merupakan kewajiban dan menjadi syarat sahnya solat dan bolehnya memegang mushaf. Lalu kenapa wudhu’ ini menjadi syarat penting dalam setiap rangkaian ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah ? adakah rahasia dibalik wudhu’ ?

Perintah berwudhu’ merupakan perintah Allah dan rasulnya. Sebagai perintah tentu mengandung maksud tertentu untuk membentuk seorang manusia menjadi pribadi yang taat dan sholih. Dalam perintah wudhu’ sejatinya Allah ingin membersihkan noda jasmani dan ruhani manusia. Karena pada awalnya manusia diciptakan dalam kondisi fitrah lalu kemudian menjadi ternoda karena maksiat lahir maupun batin. Dengan wudhu’ hakekatnya Allah ingin membersihkan manusia dari semua noda itu agar selalu suci dan bersih seperti pertama kali ia diciptakan.

Oleh karena itu, setiap ingin memulai aktivitas yang benilai ibadah maka sebaiknya dimulai dengan berwudhu bahkan untuk tidur sekalipun dianjurkan untuk berwudhu’. Karenaa dengan berwudhu’ tidak hanya aspek lahiriyah yang ingn kita bersihkan tapi juga aspek batiniah. Kalau aspek lahir kita sucikan dari najis maka aspek batinnya kita bersihkan dari najis hati seperti riya, ujub, sombong, suka bermegah-megahan dan lain sebagiannya. Wadhu’lah sarana yang diberikan Allah untuk menghadap kepadaNya. Dengan mendawamkan wudhu’ maka atas izin Allah seseorang akan terhindar dari gangguan-gangguan yang bersifat syaithanniyah. 

Dalam sebuah riwayat Muslim dijelaskan; dari Humran bekas budak Utsman radhiyallahu’anhu. Humran berkata:

سَمِعْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ وَهُوَ بِفِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ عِنْدَ الْعَصْرِ فَدَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَالَ وَاللَّهِ لأُحَدِّثَنَّكُمْ حَدِيثًا لَوْلاَ آيَةٌ فِى كِتَابِ اللَّهِ مَا حَدَّثْتُكُمْ إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « لاَ يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ فَيُصَلِّى صَلاَةً إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلاَةِ الَّتِى تَلِيهَا ».

Aku mendengar Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu ketika dia berada di halaman masjid kemudian datang seorang mu’adzin menjelang waktu Ashar tiba. Maka Utsman meminta diambilkan air wudhu, lalu dia berwudhu. Setelah itu dia berkata, “Demi Allah, sungguh aku akan menceritakan kepada kalian sebuah hadits. Kalaulah bukan karena suatu ayat di dalam Kitabullah niscaya aku tidak akan menuturkannya kepada kalian. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah seorang muslim berwudhu dan membaguskan wudhunya kemudian mengerjakan sholat melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya sejak saat itu sampai sholat yang berikutnya.’.” (HR. Muslim dalam Kitab at-Thaharah)

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ – أَوِ الْمُؤْمِنُ – فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلاَهُ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ ».

“Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu, kemudian dia membasuh wajahnya maka akan keluar dari wajahnya bersama air itu-atau bersama tetesan air yang terakhir- segala kesalahan yang dia lakukan dengan pandangan kedua matanya. Apabila dia membasuh kedua tangannya maka akan keluar dari kedua tangannya bersama air itu -atau bersama tetesan air yang terakhir- segala kesalahan yang dia lakukan dengan kedua tangannya. Apabila dia membasuh kedua kakinya maka akan keluar bersama air -atau bersama tetesan air yang terakhir- segala kesalahan yang dia lakukan dengan kedua kakinya, sampai akhirnya dia akan keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.” (HR. Muslim dalam Kitab at-Thaharah)

Hadis di atas menunjukkan bahwa wudhu’ itu terakait dengan penghapusan dosa, dan orang yang membaguskan wudhu’nya akan Allah baguskan juga lahir dan batinnya. Maksudnya, Hadis ini megandung makna bahwa salah satu petunjuk untuk membersihkan lahir dan batin manusia adalah dengan wudhu’. Tidaklah mengherankan jika Allah memerintahkan jika ingin menghadap kepada-Nya (solat) dan ingin menyentuh firman-Nya (Al- Qur’an) yang agung maka ia wajib berwudhu terlebih dahulu.

Allah itu Maha Suci dan alangkah tidak etisnya jika menghadap kepada-Nya kondisi seseorang masih berlumuran noda dan dosa. Karena itu, tidak ada perintah dan larangan Allah yang merugikan manusia justru malah ingin selalu mensucikan hamba-Nya dan salah satunya adalah dengan perintah berwudhu’.

Kesadaran akan makna dan hakekat wudhu’ ini jarang sekali diperhatikan. Dengan hanya terpenuhinya syarat dan rukun sudah dianggap cukup tanpa lebih mendalami hakekat dari wudhu’/ibadah itu sendiri. Padahal aspek hakekat ibadah ini sangatlah penting dalam melihat kualitas ibadah kita kepada Allah dan letak sempurnanya ibadah ada pada aspek batinnya ini bukan lahirnya.

Kuantitas ibadah kita mungkin melebihi orang lain tapi kualitasnya mungkin lebih rendah dari yang lain. Karena yang dilihat oleh Allah adalah tingkat keikhlasan hambanya dalam menjalani perintah dan menjauhi larangan-Nya. Keikhlasan adalah urusan batin, yaitu; batin yang bersih dan suci dari selain Allah.

Dengan demikian, wudhu’ merupakan rangkaian ibadah yang dapat mensucikan batin manusia bahkan wudhu ini bisa dijadikan tolak ukur bagi diri sejauhmana kebersihan dan kesucian lahir dan batin kita berupa penjagaan terhadapnya. Allah akan menjadikan wajah-wajah bersinar, tangan dan kaki yang istiqamah dalam kebaikan bagi seseorang yang wudhu’nya tidak pernah terputus karena syetan tidak berani mendekat kepada jiwa-jiwa yang lahir dan batinnya selalu dalam keadaan suci.

Dengan kata lain, meremehkan wudhu’ sama dengan meremehkan kesucian yang mana hal tersebut menandakan bahwa batin kita masih kotor dan penuh hadas sehingga melaksanakan kewajiban berikutnya sangatlah berat dan membebani sehingga berkuranglah ketataatan dan keikhlasan ibadah kita kepada Allah SWT. Jadi, menjaga wudhu’ adalah menjaga kesucian diri kita dihadapan Allah yang Maha Suci. Wallahu a’lam Bisshowab. (Lutfi syarqawi)

  

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00