Menyembuhkan Ketergantungan "Pil Setan" Ala Pesantren

Nusantaramengaji.com - Apa yang ada di pikiran anda saat mendengar kata “Pesantren”? Apakah terbayang sebuah institusi pendidikan Islam tradisional yang concern pada urusan agama saja?Betul, sebagian besar pesantren di Indonesia memang demikian. Namun, tidak semuanya demikian. Ada beberapa pesantren yang concern untuk mengobati ketergantungan “pil Setan”.

Adalah Pesantren Suryalaya. Pesantren ini mempunyai fungsi mirip dengan Rumah Sakit Jiwa. Ia menyembuhkan “Wong Edan”, “Sarap” dan “gila” yang disebabkan oleh ketergantungan narkotika. Metode yang digunakanpun sangat berbeda.

Pesantren ini terletak tepat di hulu sungai Citanduy, desa Tanjungkerta, Pager Agung, Tasikmalaya, Jawa Barat. Selainberfungsi sebagai tempat menempa ilmu agama, juga sebagai tempat untuk mengobati anak Adam yang telah lama dikuasai “pil Setan”.

Banyak orang tua datang, menitipkan anak, saudara, atau sahabatnyanya yang “edan”. Tidak hanya dari berbagai daerah di Indonesia saja, bahkan orang seberang sana, Malaysia, Singapura dan Brunai Darusalam.

Metode Inabah

Pesantren ini menggunakan metode penyembuhan yang diberi nama Inabah. Inabah berarti pengembalian atau pemulihan. Maksudnya, proses kembalinya seseorang dari jalan yang menjauhi Allah, ke jalan yang mendekat ke Allah.

Pada prinsipnya, metode Inabah menggunakan pendekatan agamis. Yaitu menyalurkan kegiatan kejiwaan melalui Pembinaan agama. Menyakinkan penderita untuk berpegang pada zat yang mutlak dan benar, tempat mencurahkan segala isi hati dan permintaan.

Dalam menangani korban ketergantungan obat terlarang itu, Pesantren Suryalaya tidak bertumpu pada teori kosong. Abah Anom, pengasuh Pesantren, telah menyusun teori sedemikian rupa, diramu dari berbagai referensi.

Salah satunya adalah Teori Talqin. Adalah proses awal penyembuhan sebelum tehnik kejiwaan lainnya. Pada proses ini, Abah Anom memberikan wejangan dan ceramah, hingga penderita merasa bersalah, menyesali dosa-dosanya dan menangis tersedu-sedu. Menurut metode Inabah, menangis adalah proses peluapan emosi, sehinga penderita merasa lega, atau Setidaknya mengakui kesalahan.

Berikutnya adalah teori zikir. Dalam tahapan ini, penderita diajak Salat dan berzikir. Sehingga, aspek fikiran (kognitif), perasaan (afektif), kemauan berbuat (konatif) serta aspek gerakan-gerakan tubuh (psikomotorik) dipadukan dalam satu arah, yakni nurani. cara ini, merupakan upaya untuk mengintegrasikan semua fungsi psikis manusia, dalam mencapai kepribadian yang sempurna.

Efek zikir dirasakan oleh penderita sebagai suatu gejala kejiwaan yang luar biasa, jarang sekali mereka alami di masa lalu. Yakni, mengalami kenikmatan melebihi waktu “fly” dengan obat-obatan manapun. Dan, zikir mampu menghilangkan rasa resah, gelisah, khawatir dan mampu meneguhkan jiwa dalam menghadapi segala rintangan hidup.

Ketiga, Teori Hadiah, Hukuman, dan Teori Mandi Malam. Lemahnya kesadaran anak bina akibat mabuk, dapat dipulihkan dengan mandi dan wudlu. Pembuluh darah di permukaan tubuh menciut, sehingga darah pergi ke otak, dan tubuh bagian terdalam menjadi hidroterapi yang sangat efektif, menyegarkan jiwa dan raga yang pernah tersiksa.

Proses rehabilitasi ini, murni dirumuskan berdasarkan Al-qur’an dan sunnah Rasul. Kegiatan dimulai dari tengah malam, hingga waktu

Di malam yang dingin itu, pasien diajak mandi taubat, kemudian melaksanakan serangkaian Salat. Mulai Salat Syukrul Wudhu, Salat Tahyatul Masjid, Salat Taubat, Salat Tahajud, Salat Witir dan lain sebagainya. Hingga sampai pada sepertiga malam yang terakhir, pasien diajak berzikir sembari menunggu fajar datang. Kemudian dilanjutkan dengan Salat Isyraq danDuha.

Begitu seterusnya, hingga pasien terbiasa dengan rutinitas baru. Ketergantungan pada obat-obatan, terlampiaskan pada kegiatan keagamaan. Luapan emosi dan kekesalan, diarahkan kepada Yang Widi, penguasa jagad raya.

Penanganan ketergantungan ini membutuhkan waktu intensif. Maka dari itu, pasien harus bersedia tinnggal di asrama yang telah disediakan. Waktu yang dibutuhkan untuk proses penyembuhan sangat variatif, menyesuaikan tingkat ketergantungannya. Yang paling ringan, membutuhkan waktu empat puluh hari, dan yang paling parah, membutuhkan 12 bulan.

Bagi pesantren Suryalaya, menyembuhkan penderita narkotika tidak sekedar menghentikan mereka dari pemakaian. Tapi yang lebih penting adalah mengawasi perlaku mereka, hingga benar-benar berakhlak mulia.

“Penderita ibarat anak sendiri”, itulah semboyan metode Inabah. Dalam menjalani terapi ini, santri diperlakukan sangat lembut, welas asih dan halus. Dari mulai memandikan, menyuapi makan, membimbing ibadah dan seterusnya, dijalani bersama pembina dengan kasih sayang yang tercurah.

Hal ini dilakukan sebagai antisipasi, jika nanti telah agak sembuh, biasanya sifat negatif mereka muncul kembali. Seperti urakan, mengganggu sesama pasien, mencuri dan bahkan kabur dari pesantren.

Menurut para pembina, perlakuan lembut mampu mempercepat proses kesembuhan, dan menghambat perilaku urakan itu. Dengan demikian, para pasienpun dapat merasakan perlakuan dari pengasuh Inabah. Sehingga mereka merasa sangat betah, dan sebagian mereka sama sekali tidak ingin kembali ke rumah.

Atas keberhasilan metode Inabah, Abah Anom mendapat penghargaan, “Distinguished Service Awards” dari IFNGO on Drug Abuse, dan juga penghargaan dari Presiden , atas jasa-jasanya di bidang rehabilitasi korban Narkotika dan Kenakalan remaja.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh DR. Juhaya S. Praja, dalam tahun 1981-1989, 93,1% dari 5.845 anak bina yang mengikuti program Inabah, dapat dikembalikan ke keadaan semula, dan kembali hidup normal di sentra masyarakat.

Pesantren Suryalaya, telah membuktikan perannya terhadap pendidikan dan pembangunan kader muda bangsa. Kini, telah terbentuk 24 panti Inabah di seluruh penjuru Nusantara. Tiga diantaranya di Malaysia dan satu cabang lagi di Singapura. Ajib, bukan?
(Aly Taufiq: diolah dari berbagai sumber)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00