Menumbuhkan Karakter Positif dalam Diri

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Menumbuhkan Karakter Positif dalam Diri

Nusantaramengaji.com - Penerapan Ful Day Schoole (FDS) berupa delapan jam sehari telah banya menuai kritik. Di antaranya adalah anak-anak akan dihadapkan dengan kondisi jenuh dalam belajar karena selama itu berada di raung kelas dengan dijelali materi pelajaran yang beraneka ragam.

Di samping itu FDS ini jug hanya mewakili kelas menengah kota/daerah perkotaan sedangkan di daerah pedesaan ada pembagian waktu antara jam sekolah pagi untuk materi umum di SD lalu dilanjutkan dengan kelas siang sampai sore yang diisi dengan kegiataan keagamaan di madrasah diniyah sehingga sangat sulit menerapkan FDS ini meskipun FDS ini mengacu pada ide tentang pendidikan karakter siswa supaya memiliki kepribadian kreatif dan positif.

Pendidikan karakter sejatinya tidak hanya milik anak-anak usia sekolah tapi juga penting untuk orang dewasa bahkan justru karakter positif dari orang dewasa yang paling perlu dimiliki mengingat bahwa mereka bisa menjadi contoh bagi anak-anak dan remaja di sekitarnya.

Memang mendidik karakter positif bagi usia dini sangat penting tapi mendidik karakter usia dewasa jauh lebih penting. Bedanya hanya kalau anak-anak masih perlu bimibingan sedangkan orang dewasa tidak namun karakter orang dewasa sangat menentukan karakter anak didiknya sehingga pendidikan karakater untuk keduanya sama-sama penting. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud karakter itu ?

Pada awalnya, manusia itu lahir hanya membawa “Personality” atau kepribadian. Secara psikologis kepribadian ada banyak macam teori yang menggunakan istilah yang berbeda bahkan ada yang menggunakan warna, tetapi polanya tetap sama. Namun, secara umum kepribadian manusia ada 4, yaitu :

1. Koleris: tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian, tegas, berapi-api, suka tantangan, bos atas dirinya sendiri.

2. Sanguin: tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali dengan kegiatan social dan bersenang-senang.

3. Plegmatis: tipe ini bercirikan suka bekerjasama, menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak, teman bicara yang enak, menyukai hal yang pasti.

4. Melankolis: tipe ini bercirikan suka dengan hal detil, menyimpan kemarahan, perfeksionis, suka instruksi yang jelas, kegiatan rutin sangat disukai.

Empat karakter umum tersebut muncul dari teori yang klasik dan sekarang teori ini banyak sekali berkembang, dan masih banyak digunakan sebagai alat tes sampai pengukuran potensi manusia.

Oleh karena itu, Kepribadian bukanlah karakter. Setiap orang punya kepribadian yang berbeda-beda. Nah dari ke empat kepribadian tersebut, masing-masing kepribadian tersebut memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing.

Misalnya tipe koleris identik dengan orang yang berbicara “kasar” dan terkadang tidak peduli, sanguin pribadi yang sering susah diajak untuk serius, plegmatis seringkali susah diajak melangkah yang pasti dan terkesan pasif, melankolis terjebak dengan dilema pribadi “iya” di mulut dan “tidak” di hati, serta cenderung perfeksionis dalam detil kehidupan serta inilah yang terkadang membuat orang lain cukup kerepotan.

Setiap manusia tidak bisa memilih kepribadiannya, kepribadian sudah hadiah dari sang pencipta saat manusia dilahirkan. Dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan kelebihannya di setiap aspek kehidupan sosial dan pribadi masing-masing.

Lalu, karakternya dimana? Saat setiap manusia belajar untuk mengatasi kelemahannya, memperbaiki kelemahannya, dan memunculkan kebiasaan positif yang baru maka inilah yang disebut dengan karakter. Dengan kata lain, membiasakan diri untuk selalu berbuat baik dalam mengatasi kelemahan dan kekurangannya sehingga menjadi ciri dan melekat pada diri seseorang itulah karakter.

Misalnya, seorang koleris murni tetapi sangat santun dalam menyampaikan pendapat dan instruksi kepada sesamanya atau seperti seorang yang sanguin mampu membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang membutuhkan ketenangan dan perhatian fokus. Itulah karakter.

Pendidikan karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu dibina sejak usia dini.

Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli, dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar, hari demi hari dengan melalui suatu proses yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.

Seringali kita perhatikan bahwa orang-orang dengan karakter buruk cenderung mempersalahkan keadaan mereka. Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkan yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain, atau kondisi lainnya yang menjadikan mereka seperti sekarang ini. Memang benar bahwa dalam kehidupan kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali kita, namun karakter kita tidaklah demikian. Karakter kita selalu merupakan hasil pilihan kita sendiri.

Ketahuilah bahwa kita mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter tentunya dengan beragam sikap yang kita pilih dalam menghadapi kenyataan. Karakter, lebih dari apapun dan akan menjadikan kita seorang pribadi yang memiliki nilai tambah. Karakter akan melindungi segala sesuatu yang kita hargai dalam kehidupan ini.

Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya. Kita memiliki kontrol penuh atas karakter kita sendiri, artinya kita tidak dapat menyalahkan orang lain atas karakter kita yang buruk karena kita yang bertanggung jawab sepenuhnya. Dalam bahasa Al Qur’annya adalah “Bagimu (pahala) apa yang kamu kerjakan dan atasmu (dosa) apa yang kamu lakukan”. (Lahaa maa kasabat wa ‘alaiha maktasabat).

Mengembangkan karakter adalah tanggung jawab sendiri secara pribadi. Artinya, sikap suka menyalahkan keadaan dan orang lain merupakan karakter yang kita pilih sendiri entah itu negative atau positif tapi tentu saja yang dimaksud dengan pemdidikan karakter itu adalah mendidik diri pribadi secara positif yang dalam agama Islam disebut dengan Akhalqul Karimah.

Dengan demikian, pendidikan karakter adalah pendidikan seumur hidup. Selama kita masih hidup di dunia maka akan selalu dihadapkan dengan ujian-ujian yang akan membentuk karakter kita seperti apa. Dalam sebuah hadisnya nabi bersaabda: “berakhlaklah kalian dengan akhlaq Allah/ Al Qur’an”. Makna hadis ini tiada lain adalah supaya kita menjadi pribadi yang positif dengan karakter yang baik. Wallahu a’lam Bisshowab. (NM)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00