Menjaga Adab Terhadap Ulama

Mutiara Alquran
Foto: 
ilustrasi

Menjaga Adab Terhadap Ulama

Pada mulanya adalah Firman; Mutiara Hikmah Surah Al Ahzab ayat 58;

 

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا 

Artinya; “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

Al-Baghawi mengatakan bahwa makna al-adza adalah menyelisihi perintah Allah SWT dan berbuat maksiat kepada-Nya. Lalu beliau menukil ucapan Mujahid, menyakiti bermakna mereka yang mencela, memfitnah, dan menuduh kaum mukminin tanpa dosa dan kesalahan.

Adapun At-Thabari menyatakan, makna ucapan Mujahid dengan tafsir seperti ini adalah orang-orang yang mencela kaum mu’minin dan mu’minat, serta menjelek-jelekkannya, dengan harapan kejelekan dan keburukan itu ada pada mereka (kaum mu’minin).

Imam As-Sa’di menjelaskan, “Oleh karena itu, mencela atau memaki salah seorang dari kaum mukminin mengharuskan dia diberi hukuman, sesuai keadaan dan kedudukan orang yang dicelanya. Jadi, hukuman bagi orang yang mencela sahabat lebih berat.

Tapi hukuman bagi orang yang mencela para ulama dan orang-orang muslim lebih besar daripada yang selain mereka.” Ulama yang sesungguhnya adalah mereka yang disifati oleh Allah SWT sebagaimana tersebut dalam ayat 28 dalam surah Al-fathir yang artinya; “Sesungguhnya yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”

Rasulullah saw pernah bersabda tentang bagaimana sosok ulama itu sejatinya. Dalam riwayat Ahmad dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: ’’Sesungguhnya perumpamaan ulama di bumi itu seperti bintang-bintang di langit. Dengannya manusia mendapat petunjuk dari kegelapan di darat dan di lautan. Apabila bintang-bintang itu tidak bercahaya, besar kemungkinan orang-orang tidak mendapat petunjuk dan menuju kesesatan.’’

Para ulama adalah lentera umat yang mengeluarkan umat dari kegelapan  menuju kepada cahaya illahi dan kebaikan. Mengajarkan ilmu kepada orang-orang yang bodoh dan memberi petunjuk bagi orang-orang yang tersesat. Dengan kata lain, ulama adalah pewaris para nabi. Dari merekalah cahaya-cahaya nubuwah sampai kepada kita sehingga kita tidak sesat dan menyesatkan.

Memusuhi ulama sama saja memusuhi Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam surah Al- Baqarah ayat 58, Allah berfirman; ”Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir. Di dalam hadits qudsi, bahwsanya Allah berfirman; ’’Barang siapa memusuhi Wali-Ku, sungguh telah Ku-umungkan perang dengannya.’’

Oleh karena itu, begitu mulianya para ulama di hadapan Allah dan Rasulnya. Janganlah sekali-kali dorongan nafsu ammarah menguasai dan membuat kita lengah sehingga terlontar ucapan atau sikap sehingga menyakiti hati mereka meskipun apa yang kita lakukan itu benar.  Dengan sebab ulama’lah kita mengenal Allah SWT dan Rasulnya baginda Nabi Muhammad SAW.

Telah berkata Habib Abdurrahman, ’’Seseorang tidak akan mengenal Tuhannya kecuali dari Baginda Nabi Muhammad SAW, dan seseorang tidak akan kenal Rasulullah SAW kecuali dari lisan dan tulisan para ulama. Ulama lah yang mengajarkan kita ilmu agama, yang mengingatkan kita banyak hal berkenaan dengan ilmu agama. Kita harus mencintai orang-orang shalih, dengan sebab itu Allah SWT pun akan cinta kepada kita. Kalau kita memusuhi mereka,itu suatu petaka yang besar.

Berkata pula Sayyid al-Imam al-Ghauts Abul Abbas Ahmad bin Idris Al-Hasani; ’’Demi Allah, janganlah engkau menghina atau menyakiti seorang muslim, karena bisa jadi ia termasuk wali Allah dan engkau tidak menyadarinya, hingga engkau masuk dalam murka Allah. Menyakiti hati seorang muslim saja tidak boleh apalagi yang sudah jelas muslim tersebut adalah seorang ulama. Adalah derajat para wali (ulama), bila disakiti oleh umat, mereka tidak akan meminta pembalasan kepada Allah, tapi Allah sendiri yang akan menjadi penolongnya.

Dengan demikian, cukuplah menjaga adab dan akhlak bersama mereka tanpa melihat kesalahan apapun yang mereka lakukan. Karena yang terpenting bagi kita bukanlah melihat kesalahan dan kekurangan mereka tapi pada bagaimana cara mereka keluar dari kesalahannya tersebut dan upaya memperbaikinya. Para ulama memang tidaklah ma’shum tapi mereka selalu menjaga lisan dan perbuatannya agar tidak terlepas dari Tali Allah (Al-Qur’an) dan Rasulnya (Al-Hadis). Wallahu a’lam. (eLut NM) 

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00