Menejemen Waktu Sholat

Fikih
Foto: 
- ist

Menejemen Waktu Sholat

Nusantaramengaji.com - Salah satu syarat diwajibkannya menjalankan shalat adalah mengetahui masuknya waktu shalat. Jika seseorang tidak mengetahui masuknya waktu shalat maka tidak dibenarkan ia melakukan shalat. Allah SWT tidak ingin hamba-Nya menghadap dalam keadaan tidak sadar. Seseorang yang menjalankan shalat harus tahu dengan pasti waktu yang sedang dijalani. Dengan demikian, shalat yang dikerjakannya tepat pada waktu yang telah ditentukan. Allah SWT berfirman: 

 
فَإِذَا قَضَيۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمۡۚ فَإِذَا ٱطۡمَأۡنَنتُمۡ فَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبٗا مَّوۡقُوتٗا 
 
 “…maka, apabila kamu telah merasa aman, dirikanlah shalat! Sesungguhnya, shalat bagi orang yang beriman adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya.” (Q.s. al-Nisa’ [4]; 103)
Orang yang shalat dituntut untuk memperhatikan waktu. Ia harus mengatur waktu yang tersedia dengan baik dan teratur. Minimal dalam 24 jam ia harus memperhatikan lima waktu shalat. Allah SWT mengajarkan kepada manusia agar waktunya diisi dengan aktivitas yang berarti. Dalam hal ini Rasulullah SAW mengelompokkan manusia menjadi tiga kategori: Pertama, kelompok orang yang beruntung, yakni mereka yang waspada dan mampu mengatur waktunya dengan seksama. Indikasinya adalah adanya penigkatan perilaku social dari waktu ke waktu. Produktifitasny dari hari ke hari semakin meningkat. Bagi kelompok ini, waktu berlalu tanpa melakukan sesuatu yang berarti adalah suatu kerugian. Seluruh waktunya dihabiskan untuk hal yang bermanfaat bagi kehidupan bersama.
Dalam hal ini, Imam Ghazali memberikan sebuah rumusan bahwa, waktu harus dibagi tiga, Sepertiga waktu digunakan untuk berurusan dengan Allah SWT, dengan melakukan berbagai ritual peribadatan. Sepertiga yang kedua digunakan untuk melakukan kegiatan kemasyarakatan. Maka harus disediakan juga waktu untuk bermuamalah dengan sesame atas dasar persaudaraan, kasih sayang dan persamaan hak. Sepertiga berikutnya diisi untuk memperhatikan kebutuhn diri sendiri.
Sungguh, menjaga kesehatan, beristirahat, gembira dan bercengkrama dengan keluarga merupakan satu kewajiban tersendiri. Rasul SAW pun senantiasa menyempatkan diri untuk menggendong cucunya. Bahkan, hal ini pernah terjadi saat beliau shalat. Pada kesempatan lain beliau bersenda gurau dengan istrinya. Aisyah r.a pernah menceritakan bahwa Rasul SAW kadang-kadang mengajak adu cepat dalam berlari, kadang-kadang beliau menang, tetapi kadang-kadang kalah atau mengalah.
Kedua, kelompok orang yang rugi, yaitu mereka yang tidak waspada terhadap waktu. Mereka sering menghabiskan waktunya tanpa menghasilkan produktifitas yang berarti. Jika mau jujur, kelompok kedua ini jauh lebih besar dibandingkan kelompok pertama. Allah SWT menginginkan setiap manusia yang hidup di dunia ini untuk selalu berbuat sesuatu yang bermanfaat. Tidak usah dipikirkan, apakah ia masih sempat menikmati hasil karyanya atau tidak. Teruslah berkarya dan memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang masih tersisa.
Sungguh patut disayangkan, ketika usia mulai lanjut, ia justru asik untuk bernostalgia. Tidak sedikit dari mereka yang kemudian terbuai oleh kesuksesannya di masa lalu. Ia banggakan dirinya dengan bayang-bayang kesuksesan di masa silam. Sikap ini biasanya dipicu oleh problem kejiwaan berupa ketakutan berlebih akan penilaian orang pada dirinya. Dengan usia yang semakin udzur, beralihnya jabatan, hilangnya berbagai fasilitas kedinasan, dan seterusnya, membuat kondisi emosinya tambah sensitif. Ia piker orang lain memandang rendah dan cenderung meremehkannya.
Suasana kejiwaan seperti ini membuatnya tenggelam pada masa kejayaannya. Sebenarnya setiap orang punya kesempatan yang sama untuk menciptakan kemaslahatan. Alla SWT belum akan mengambil kesempatan hamba-Nya untuk beraktifitas sampai kontrak usia yang diberikan telah habis. Alangkah bermaknanya hidup ini, jika tidak pernah berhenti beraktifitas demi terciptanya kemaslahatan. Meskipun usia sudah semakin senja, kekuatan semakin berkurang, kesehatan menurun dan kemampuan mulai menghilang, selama hayat masih dikandung badan, buatlah sesuatu yang bermakna.
Coba lihat paradigm yang dibangun Islam. Tuntutan belajar, misalnya, baru selesai apabila ajal telah tiba من المهد الى اللحد dari ayunan sampai liang lahat). Ini berarti walaupun semua ijazah telah didapat, ia masih dituntut belajar sampai wafat. Dalam hal produktifitas, Rasulullah SAW pernah memberi gambaran sangat ekstrim;
“Seandainya engkau tahu besok Kiamat datang, aku akan perintahkan engkau menanam pohon!”
Dengan mengikuti paradigma yang dibangun islam, tentunya tidak dikenal istilah usia nonproduktif. Islam tidak mengukur produktifitas manusia dengan perolehan materi. Islam tidak membatasi kesempatan orang berproduksi hanya pada tempat-tempat atau jabatan tertentu. 
Namun nilai produktifitas seseorang akan dilihat dari seberapa besar ia bisa memberikan manfaat bagi alam semesta. Makin besar ia bermanfaat bagi lingkungannya, berarti semakin besar pula produktifitasnya. Rasulullah SAW memberi standar penilaian produktifitas berbanding lurus dengan kemanfaatan diri.
 
خير الناس انفعهم للناس
“Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia.”
Dalam hal beribadah, islam mengajarkan sekaligus menuntut kepatuhan manusia kepada Allah SWT sampai ajal tiba. Kepatuhan tersebut harus didasarkan atas kesadaran dan keimanan yang benar. Sikap seperti ini harus disertakan dalam berbagai situasi dan kondisi, baik ketika sendirian atau bersama yang lainnya. Sikap patuh harus tetap muncul, baik ketika sehat atau pun sakit, ketika kaya atau saat terpuruk, ketika masih muda atau sudah tua. Menyembah Allah SWT bukan urusan yang sudah tua saja, tetapi selama kita masih punya kesdaran hati dan pikiran, selama itu pula kewajiban menyembah dan mengabdi kepada Allah SWT tetap ada.
 
 وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ 
 “ Sembahlah Tuhan-mu sampai al-Yaqin (kematian) datang menemuimu. “  (Q.s. al-hijr [15]: 99)
Ketiga, kelompok orang yang celaka, yaitu mereka yang meghabiskan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat dan sia-sia belaka. Indikasi dari kelompok ini adalah, dari waktu ke waktu terjadi penurunan produktivitas, baik yang bernilai duniawi maupun ukhrawi. Kita harus sadar bahwa hadirnya makhluk di muka bumi ini tidaklah kekal. Semuanya, satu per-satu akan menutup lembar sejarahnya masing-masing. Sementara batas akhir usia kita menjadi rahasia tuhan. Tidak seorang pun tahu kapan dan dimana ia akan meninggal. Mungkin kita akan selalu berharap mendapatkan usia yang panjang. Namun tidak sedikit yang berusia pendek. Memang demikian adanya. Panjang atau pendek, usia manusia sepenuhnya menjadi rahasia tuhan. Kita berharap semoga usia yang relatif ini bermakna bagi kehidupan bersama.
Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00