Larangan Menyakiti dan Keutamaan Memaafkan

Mutiara Alquran
Foto: 
Ilustrasi

Larangan Menyakiti dan Keutamaan Memaafkan

Pada mulanya adalah Sabda, Mutiara Surah An-Nisa ayat 148-149 ;

لا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا (١٤٨)      

   (إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا (١٤٩

Artinya; Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terus-terang kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Jika kamu meyatakan suatu kebajikan, menyembunyikannya, atau memaafkan suatu kesalahan orang lain, maka sungguh Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan; Ibnu abi Thalhah meriwayatkan tentang makna ayat ini dari Ibnu Abbas bahwa Allah tidak menyukai jika seseorang mendoakan kecelakaan kepada orang lain kecuali dia terzalimi olehnya.

Allah memberkan rukhshah/keringanan kepada orang yang dizalimi untuk mendoakan kecelakaan terhadap orang yang menzaliminya. Akan tetapi jika yang terzalimi bersabar dan tidak mendoakan kecelakaan bagi pelaku kezaliman, maka hal itu lebih  baik baginya.

Dalam riwayat lain diterangkan bahwa ayat ini berkaitan dengan hak seorang tamu jika diperlakukan buruk oleh tuan rumah maka berhak menuntut tuan rumah untuk bersikap baik kepada tamu. Misalnya dengan memberikan makan dan minum secukupnya.

Dua ayat ini cukup menjadi pedoman dalam bergaul dengan orang lain. Mengedepankan adab atau akhlaq yang baik merupakan tugas hamba dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Sebagai manusia kita tida akan pernah luput dari dosa dan kesalahan pun terhadap orang lain. Cuma dalam menyikapi kesalahan yang menimpa diri kita atau orang lain al Qur’an tetap mengajarkan kesantunan dalam menyikapinya. Bersabar dan tetap mendoakan kebaikan bagi pelaku kezaliman merupakan etika yang diajarkan Al-Qur’an.

Dalam salah satu sabdanya, riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda; dua orang yang saling mencaci menanggung apa yang diucapkan oleh keduanya. Tetapi dosanya ditanggung oleh orang yang memulai di antara keduanya selagi pihak yang terzalimi tidak melampui batas.

maksudnya, selama yang terzalimi tidak melakukan hal-hal yang melampui batas sehingga ia menjadi berbohong dan mendoakan keburukan secara berlebihan maka ia diperbolehkan membalasnya namun bersabar dan memaafkan tentu lebih baik. Untuk itu kehati-hatian dalam bergaul menjadi penting diperhatikan jangan sampai menzalimi pihak lain.

Dalam riwayat muslim dari Mu’adz bun Jabal bahwasanya rasuullah SAW bersabda; takutlah kepada doa’ orang-orang yang teraniaya, sebab tidak ada hijab antara dirinya dengan Allah.

Seacara umum makna ayat ini berisi ajaran bagaimana etika bergaul dengan orang lain. Perbedaan agama, suku, dan ras jangan sampai memudahkan kita mencela dan memaki orang lain dan melaggar hak-haknya.

Pada dasarnya manusia diciptakan sama tidak ada beda antara satu dengan yang lainnya kecuali taqwanya. Al Qur’an sebagai hudan linnas/ petunjuk bagi umat manusia dan bukan hanya untuk kaum muslimin saja, mengajarkan kita untuk selalu manjaga akhlak dengan orang lain.

Menjaga di sini dalam arti menjaga seluruh anggota lahir dan batin kita dari maksiat dan menyakiti serta melanggar hak-hak orang lain apalagi jika tidak disertai bukti kuat sehingga itu dianggap sebagai tuduhan dan bentuk kezaliman terhadap pihak lain.

Kezaliman inilah yang tidak disukai Allah. Allah tidak suka melihat sikap zalim terhadap diri sendiri apalagi bersikap zalim terhadap orang lain. Karena itu, doa orang teraniaya cepat diijabah oleh Allah. Tirai penutup diangkat oleh Allah antara diri-Nya dan orang yang terzalimi ketika mereka memohon pertolongan dari-Nya.

Namun bagi seseorang yang tersakiti dan bersabar atasnya serta memaafkannya padahal dia mampu membalasnya maka sikap seperti ini lebih utama dan sangat terpuji. Dalam riwayat Ibnu Majah, Nabi  bersabda: “Barangsiapa menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melakukan pembalasan maka Allah akan memanggilnya di hari kiamat di hadapan para makhluk sehingga memberikan pilihan kepadanya, bidadari mana yang ia inginkan.”

Dari keterangan ayat di atas, kita dapat mengambil beberapa mutiara berharga berikut ini;

1. Allah melarang hambanya bersikap kasar kepada orang lain tanpa ada alasan yang kuat dan jelas. Bentuk Larangan ini berupa menyakiti pihak lain baik lisan maupun sikapnya dengan cara melanggar hak-haknya.

2. Mencela dan mendoakan kecelakaan bagi pihak lain hanya dimiliki hak oleh orang-orang yang terzalimi itupun dengan syarat tidak melampui batas dan berlebihan.

3. Memaafkan pihak yang menzalimi (Zhalim) lebih disukai Allah daripada mencela dan mendoakan keburukan baginya. Karena dengan memaafkan berarti meneladani sifat Pemaaf-Nya dan Allah akan memberi pahala yang besar bagi orang yang terzalimi atas pema’afan tersebut (Mazhlum).

4. Bolehnya mengadukan kezaliman seseorang kepada hakim dengan bukti-bukti yang jelas dan kuat karena hak-haknya dilanggar dengan cara tidak menambah-nambahi atau mengurangi bukti yang ada.

5. Kewajiban memuliakan tamu yang datang berkunjung dengan cara sebaik-baiknya sehingga sebagai tamu ia tidak kecewa. Karena memulikan tamu merupakan perintah syariat. Dan tamu boleh meminta haknya sebagai tamu jika diperlakukan kurang baik oleh tuan rumah. (eLut NM) 

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00