Jangan Meremehkan Kebaikan

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Jangan Meremehkan Kebaikan

Nusantaramengaji.com - Pada zaman ini bentuk dan makna kebaikan sudah semakin menyusut. Nilai kebaikan yang sejatinya dilakukan untuk meraih pahala kemudian jatuh pada aspek material dan saling menguntungkan semata. Maka diktumnya yang berlaku adalah semakin aku-engkau menguntungkan maka kita semakin baik. Kebaikan dinilai berdasarkan benda-benda bukan pada sikap lalu bukan kita yang memberi nilai terhadap benda tapi bendalah yang memberi nilai kepada kita. Pada akhirnya, etika pergaulan hanya diukur dari aspek materi dan lahir semata.

Seesorang akan disebut hebat dan dihormati ketika secara materi ia memiliki lebih dari yang lain meski secara moral dia kurang baik sikapnya. Pola hubungan seperti ini sejatinya jelas tidak mengandung unsur kebaikan sama sekali. Bagaimana di sebut kebaikan jika yang menjadi ukuran bendalah yang menilai kita bukan kita yang menilai suatu benda. Padahal yang dimaksud amal kebaikan dalam islam adalah perbuatan yang bernilai pahala. Maksudnya, Islam mengajarkan bahwa yang disebut hebat dan sukses bukanlah terletak pada apa yang ia miliki (bendanya) tapi pada apa yang ia berikan (sikapnya) seperti dalam sabda nabi; khairunnas anfa’uhum linnas. Dengan kata lain, boleh ia memiliki rumah setinggi langit dan emas seberat gunung tapi kalau tidak mau berbagi, apalah maknanya.

Oleh karena itu, Islam menganjurkan hendaklah seseorang itu memperhatikan sikap atau akhlaknya dan akhlak/perbutan yang baik itu selalu berorientasi pada pahala bukan hanya sekedar beramal. Makan dan minum adalah perbuatan mubah tapi jika diniatkan untuk supaya kuat beribadah kepada Allah maka ia menjadi sunnah bahkan wajib dan demikian seterusnya. Dalam etika bergaul dengan orang lain, islam mengajarkan untuk selalu bersikap baik tanpa memandang agama, suku, dan rasnya. Kita tidak boleh meremehkan kebaikan sekecil apapun itu. Anjuran menghargai kebaikan sangat ditekankan dalam rangka menciptakan perdamaian dan saling menghargai antar sodara, tetangga dan orang lain. Dan kebaikan tertinggi adalah memberi manfaat bagi orang lain. Inilah kenapa islam itu disebut rahmatan lil ‘alamin.

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin melarang seseorang meremehkan atau memandang rendah kabaikan baik bagi diri mapun orang lain meski hanya denga senyuman atau pemberian berupa sop kaki kambing. Begitu mulianya Islam sehingga diharapkan umatnya tidak boleh memandang rendah kebaikan yang datang dari pihak lain. Karena memandang tinggi diri sendiri dan meremehkan orang lain dilarang keras oleh Allah dalam Al Qur’an surah Luqman ayat 18 yang berbunyi :

  وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖإِنَّ الَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Dalam Mu’jamul Ma’aani, lafad Al Mukhtal diartikan dengan orang-orang yang suka membanggakan amalnya sendiri (internal) sedangkan al Fakhuur bermakna orang-orang yang suka memandang rendah dan meremehkan amal orang lain (eksternal).” Ibnu katsir mengatakan ayat ini melarang seseorang ketika berbicara dengan orang lain memalingkan muka dan meremehkan amal mereka karena bangga dan sombong dengan amalnya sendiri. Tapi sebaliknya islam, melalui ayat ini sangat menganjurkan sikap lemah lembut dan menghargai orang lain. Karena setiap kebaikan meski hanya seberat biji zarrah yang diterbangkan angin, Allah pasti mengetahuinya dan membalasnya.

Sikap bangga dengan amalnya sendiri dan suka meremehkan amal orang lain adalah sikap yang dapat melahirkan individulisme dan permusuhan. Islam melarang keras sikap seperti ini karena bertentanngan dengan inti ajaran Islam yaitu; perdamaian dan ketentraman. Karena salah satu makna/spirit islam itu sendiri adalah kedamaian maka hidup berislam berarti hidup damai bersama orang lain.  

Dalam Riyadhus Shilihin riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa Nabi juga melarang meremehkan kebaikan yang datang dari diri mapun orang lain:

قَالَ  رَسُوْلُ الله ِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : يَا نِسَاءَ  الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ  شَاة

“Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda :….janganlah seseorang tetangga itu  meremehkan pemberian untuk tetangganya, sekalipun yang diberikan hanya  berupa sop kaki kambing.”

Al-Jauhari  mengatakan yang dimaksud dengan Al-Firsin adalah kaki binatang yang umumnya adalah untuk  kaki unta, sebagaimana halnya lafaz At-Hafir dipergunakan untuk  menerangkan kaki ternak yang lain-lain. Tetapi adakalanya Al-Firsin itu  digunakan sebagai kata isti'arah (pinjaman) untuk menerangkan kaki  kambing.

Hadits senada dalam Riyadhush sholihin juga menyebutkan :

 : قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّم :لَا  تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوَفِ شَيْئاً وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ  بِوَجْهٍطَلِيْق

“Dari Abu Dzarr, berkata : Nabi saw bersabda kepadaku : Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun hanya dengan menjumpai saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.”

Hadis-hadis tersebut menujukkan larangan meremehkan pemberian meski secara umum tidak bernilai dan bermanfaat karena hakekat makna yang terkandung bukanlah pada nilai barang tapi pada sikap memberi yang dapat mendatangkan sikap saling mengasihi dan saling mencintai antar sesama. Kebaikan yang sedikit jika dilakukan dengan ikhlas dan penuh senyuman lebih berarti di sisi Allah daripada kebaikan yang besar tapi diiringi dengan wajah masam dan kata-kata yang menyakitkan.

Itulah kenapa para hukama’ mengatakan bahwa nilai kebaikan seseorang bukan terletak pada benda yang dimilki tapi terletak pada sikap apa yang ia berikan atau tampakkan pada orang lain. Sebab itu, sikap memberi dan menghargai dapat dilakukan oleh semua orang baik kaya ataupun miskin tanpa menilai bendanya tapi pada makna yang terkandung dalam sikapnya yang baik sehingga memunculkan sikap saling menghargai dan mencintai (tawadud wa tahabub). Wallahu a’lam Bisshowab. (Lutfi Syarqawi)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00