Indahnya Hidup di Bawah Naungan Alquran

Dalam salah satu hadis, Rasulullah pernah menyatakan, "Sesungguhnya Alquran itu laksana hidangan Allah…". Merugilah orang yang tidak mendekati hidangan itu untuk ikut mencicipinya. Dan, akan lebih merugi bagi orang yang sudah berada di depan hidangan itu, tetapi tidak ikut mencicipinya. Mereka yang tidak mau mendekati hidangan Allah, itulah orang-orang kafir. Sementara yang sudah berada di hadapan hidangan Allah, itulah orang-orang muslim. Maka, seorang muslim akan merugi dua kali jika al-Qur'an sebagai kitab sucinya, tetapi dibiarkan begitu saja, tanpa berusaha untuk mendekatinya.

Sebagaimana layaknya hidangan yang menawarkan berbagai menu makanan, maka Alquran juga menawarkan berbagai macam nilai (view), yang bisa dipedomani dalam mengarungi kehidupan ini. Jika makanan yang sehat dan memenuhi standar gizi akan menyehatkan tubuh manusia, maka hidangan Allah ini akan menyehatkan ruhani kita. Sebab "di dalam ruhani yang sehat terdapat badan sehat". Sakitnya badan tidak serta merta menyebabkan sakitnya ruhani; akan tetapi, ruhani yang tidak sehat akan menyebabkan tubuh kita akan sakit. Bukan hanya itu, perkataan dan perbuatan kita juga akan sakit.

Oleh karena itu, adalah sangat tepat apa yang dikatakan Sayyid Quthb dalam mukaddimah kitabnya, Fi Zhilal Alquran, bahwa "hidup di bawah naungan Alquran adalah kenikmatan yang maha tinggi, yang tidak akan bisa diketahui kecuali bagi mereka yang merasakannya". Kita tidak akan tahu bagaimana segarnya es krim seperti yang dirasakan oleh teman kita, jika kita sendiri tidak ikut mencicipinya, meskipun kita sudah memegangnya bahkan sudah mencoba untuk menciumnya. Namun, tetap saja tidak bisa merasakan betapa lezatnya es krim itu. Demikian juga. Kita tidak akan ikut merasakan betapa lezatnya hidup di bawah naungan Alquran, seperti yang dirasakan oleh Sayyid Quthb, jika kita tidak berusaha mencicipi seperti beliau. Bukan sekedar dijadikan hiasan, atau sebagai mas kawin; bahkan seringkali Alquran diperlakukan tidak sesuai dengan maksud penurunannya

Tujuan Hidup Manusia

Setiap manusia pasti memiliki tujuan hidup, yang boleh jadi antara satu dengan yang lain berbeda. Misalnya, kenapa saya harus bekerja? Kenapa saya harus memiliki ini dan itu? Kenapa saya harus melakukan ini dan itu? Kenapa saya harus berangkat pagi pulang malam? Kenapa seseorang pingin menduduki jabatan ini dan itu? Kenapa seseorang harus sekolah yang tinggi? Sedemikian banyak aktifitas yang dilakukan oleh manusia, yang pasti semuanya memiliki tujuan masing-masing. Dan dari sekian banyak tujuan hidup manusia ini, jika disimpulkan maka akan mengrucut kepada dua hal, yaitu aman (selamat) dan bahagia. Namun, bagi seorang muslim, bukan hanya selamat dan bahagia di dunia semata, tetapi juga di akhirat sebagai tujuan akhir dari perjalanan kehidupannya. Karena akhiratlah sebagai tempat menetap yang sebenarnya dan hakiki.

Sedemikian berharganya rasa aman itu, sehingga jika ada kawasan atau daerah yang menawarkan rasa aman pasti akan memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Begitu juga kendaraan, semakin ia bisa menjamin rasa aman sekaligus nyaman pasti harganya akan sangat mahal. Walaupun belakangan, mereka sudah tidak lagi sekedar berfikir aman dan nyaman, tetapi gengsi atau prestisius. Bagi mereka yang memiliki kemampuan secara materi, pasti akan mengalokasikan dananya, yang boleh jadi cukup besar, demi memperoleh keamanan dan kenyamanan tersebut.

Begitu juga kebahagiaan, ia juga menjadi dambaan bagi setiap umat manusia, apapun pekerjaannya, latarbelakang pendidikannya, status sosialnya. Tidak ada satu manusia pun yang tidak ingin hidup bahagia. Seseorang harus bekerja karena ingin hidup bahagia? Seseorang harus sekolah yang tinggi karena supaya kelak bisa hidup bahagia? Seseorang harus menabung supaya pada masa mendatang bisa hidup lebih tenang dan bahagia. Sedemikian besar keinginan manusia untuk mencapai kebahagiaan ini, sehingga segala macam cara akan ditempuhnya. Ketika pergi ke toko buku, kita pasti akan mencari buku-buku yang membahas tentang "Kiat-kiat mencapai hidup bahagia". Ini menunjukkan betapa untuk mencapai kebahagiaan itu haruslah diupayakan.

Namun, masing-masing diri kita pasti memiliki perbedaan ketika harus mendefinisikan apa itu bahagia atau kebahagiaan? Misalnya, ada orang yang merasa bahagia sekali, sebab sudah tidak ngontrak lagi; ada yang merasa bahagia, karena hutang-hutangnya telah lunas; ada yang merasa bahagia, setelah sekian lama melamar pekerjaan, akhirnya dapat juga; ada yang merasa bahagia, karena akhirnya ia dapat jodoh yang memang diidamkan; ada yang merasa bahagia, karena bisnisnya akhirnya membawa hasil yang memuaskan; ada yang merasa bahagia, karena telah dikaruniai anak, setelah sekian lama dalam masa penantian; ada yang merasa bahagia karena baru saja naik jabatan. Sedemikian banyak orang merasa bahagia, dengan sebab yang bermacam-macam.

Hanya saja, persoalan berikutnya adalah apakah ketika kebahagiaan itu telah ia raih, persoalan menjadi selesai? Bagi yang sudah bisa membeli rumah sendiri, misalnya, terlebih lagi dengan fasilitas KPR, maka yang menjadi target kebahagiaan berikutnya adalah jika ia bisa melunasi cicilan rumahnya; bagi yang sudah bekerja, ia akan merasa bahagia jika gajinya bisa naik, padahal dulunya ia tidak pernah berfikir tentang gaji, sebab yang ada dalam benaknya saat itu adalah "yang penting bekerja". Bagi yang telah diangkat jabatannya, pasti ia ingin memperoleh jabatan yang lebih tinggi lagi, apalagi jabatan yang diincar itu sedang dijabat oleh salah seorang pesaingnya. Atau, ia bahkan merasa takut jangan-jangan jabatan yang sekarang ia pegang akan dialihkan kepada orang lain. Indikasi ini menunjukkan, betapa banyak yang merasa telah memperoleh kebahagiaan, tetapi ternyata hanya bersifat semu dan fatamorganis.

Tawaran Aquran kepada Manusia

Atas dasar hal-hal di atas, Alquran termasuk hadis hadir di tengah-tengah manusia, untuk menawarkan kebahagiaan yang abadi dan kekal, serta kenyamanan dan keamanan lahir dan batin. Maka dari itu, Alquran turun dengan membawa prinsip-prinsip umum:

"Hai, manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) di dalam dada, hidayah (petunjuk), dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan, (Q.s. Yunus/10: 57-58).

Ayat di atas secara jelas menyeru kepada seluruh umat manusia. Artinya, keberadaan Alquran benar-benar ditujukan untuk seluruh umat manusia, betapapun perbedaan latarbelakang mereka, baik ras, adat budaya, bahasa, bahkan agama sekalipun, asalkan ia termasuk kelompok manusia, maka mereka menjadi sasaran al-Qur'an. Tidak ada satu kitab suci pun, yang secara vulgar, berani mengklaim sebagaimana yang dilakukan oleh Alquran. Melalui ayat di atas, ada empat fungsi utama Alquran:

Pertama, sebagai mau'izhah atau pelajaran dari Tuhan. Sesuatu itu dikatakan mau'izah jika akan memberi manfaat. Misalnya, nasehat orang tua kepada anak; nasehat guru kepada murid; nasehat dari teman kita, dan sebagainya. Apalagi mau'izah itu datangnya dari Zat yang menciptakan manusia, yang tentunya Dialah yang paling mengetahui apa sebenarnya yang dicita-citakan manusia dalam fitrah sucinya. Allah tahu persis apa yang akan membawa manfaat bagi kehidupan manusia dan apa yang akan membawa madharat. Allah sama sekali tidak memiliki kepentingan apapun dari sikap ketaatan manusia, begitu juga kedurhakaannya. Bagi Allah, ketaatan manusia tidak akan menambah sedikit pun dari kekuasaan dan kerajaan-Nya. Begitu juga kedurhakaan manusia, tidak akan sedikit pun mengurangi kekuasaan-Nya.

Pelajaran dari Allah ini, tentunya, mencakup seluruh sektor kehidupan. Ia bukan berupa teori-teori semacam ilmu pasti, akan tetapi berupa nilai-nilai moralitas sebagai bahan perenungan dan arahan bagi manusia dalam melaksanakan aktifitas hidupnya.

Salah satu pelajaran yang dibawa Alquran adalah "Barangsiapa yang beramal sholeh baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia seorang yang beriman, maka pasti Kami akan memberinya kehidupan yang baik" (Q.s. 16: 97). Inti dari "kehidupan yang baik" adalah kebahagiaan. Menurut firman Allah tersebut, bahwa untuk memperoleh satu kehidupan yang baik ternyata tidak disebabkan dengan hal-hal yang ada di luar dirinya, seperti harta kekayaan, pangkat jabatan, keahlian, kecantikan, ketampanan, atau apa saja yang bersifat materi, akan tetapi, kebahagiaan itu akan senantiasa ia peroleh apabila "seseorang selalu berbuat baik karena tuntutan imannya." Artinya, jika ingin bahagia, maka harus senantiasa melakukan kebajikan (amal sholeh). Dan ini bagi manusia, bukanlah sesuatu yang berat, sebab ia diciptakan --sesuai dengan fitrahnya-- selalu menyukai kebaikan.

Tidak ada yang berani mengatakan bahwa menolong orang itu adalah perbuatan tercela; berkata benar itu perbuatan yang buruk; berderma itu adalah perbuatan yang tidak terpuji; menghormati orang lain adalah perbuatan yang tidak baik, dan seterusnya. Karena itu, siapa saja yang melakukan seperti hal-hal di atas, ia pasti akan memperoleh kebahagiaan. Kabahagiaan hanya bisa diraih dengan berbuat baik; dan berbuat baik adalah sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki.

Hanya saja, dalam realitanya ada orang yang melakukan perbuatan baik tetapi tidak bahagia, bahkan akhirnya dia menyesal kenapa harus melakukannya. Dalam kaitan ini, Alquran memberi contoh tentang kasus Musa dan Fir'aun, yang kemudian berakhir pada penyesalan Fir'aun kenapa harus menolong Musa (Q.s. 26: 18-19). Demikian halnya orang kafir yang mendermakan hartanya, yang juga berakhir pada penyesalan (Q.s. 8: 36). Kedua kasus ini paling bisa mewakili, bahwa memang ada orang yang berbuat kebajikan tetapi tidak memperoleh kebahagiaan, yakni kepuasan. Alasannya cukup sederhana, karena mereka melakukannya bukan atas dasar tuntutan keimanan.

Pelajaran Tuhan lainnya adalah menumbuhkan kesadaran dalam diri kita bahwa "apapun yang menjadi milik kita, cepat atau lambat, pasti akan sirna atau rusak" (Q.s. 16: 96). Kesadaran semacam inilah yang menjadikan diri kita senantiasa merasa nyaman dan tenang. Sekaligus akan mampu menekan rasa keinginan yang menghentak di dalam jiwa kita. Pernahkah kita mencoba merenung sejenak bahwa "apa saja yang sekarang kita miliki, yang boleh jadi kita sudah mulai bosan, dulunya adalah sesuatu yang sangat kita inginkan dan kita idamkan". Betapa kita telah menghabiskan energi dan fikiran untuk mendapatkannya. Padahal, sekarang sudah tidak lagi menarik hati kita. Oleh karena itu, dengan kesadaran ini, seluruh aktifitas hidup kita, tidak semata-mata untuk mencapai sesuatu, yang akhirnya kita sendiri merasa bosan; bahkan kita tidak akan merasa begitu meng-khawatirkan atau merasa kehilangan jika suatu saat benda tersebut benar-benar lenyap dari genggaman kita. Jika demikian, maka ia akan senantiasa merasa aman dan nyaman dalam menjalani hidup ini.

Kesadaran ini, secara simetris, akan menumbuhkan keasadaran lainnya yaitu "apa saja yang ada di sisi Allah-lah yang akan kekal". Sehingga tidak ada rasa keberatan sama sekali jika ia harus membagi kebahagiaan itu dengan orang lain, yaitu dengan mendermakan hartanya. Ia lakukan itu, bukan demi popularitas, atau motivasi-motivasi lain yang bersifat duniawi; akan tetapi, benar-benar dilandasi atas satu kesadaran bahwa "hanya yang di sisi Allah-lah yang kekal". Tentu saja, masih sangat banyak pelajaran-pelajaran penting yang bisa kita gali dari Alquran.

Kedua, sebagai "penyembuh dari penyakit hati". Ketika seseorang terkena penyakit hati, maka ia berlaku yang aneh-aneh. Misalnya, bersikap takabbur, hanya lantaran ia lebih tinggi kedudukannya, lebih terhormat keturunannya, lebih tinggi ilmunya, dan sebagainya; selalu ingin pamer atas prestasi yang dicapai; dengki atau hasud atas nikmat yang diperoleh orang lain; atau ia senantiasa resah dan gelisah, padahal sudah memiliki segalanya, istri cantik, harta melimpah, dan kedudukan atau jabatan terhormat. Penyakit-penyakit inilah yang dimaksudkan dengan penyakit hati. Tentu saja, kita tidak akan menemukan seorang pun dokter spesialis yang dapat menyembuhkannya dari penyakit-penyakit kronis ini.

Maka, Alquran menawarkan obatnya, bahwa "hanya dengan ingat kepada Allah lah hati akan senantiasa tenang" (Q.s. 13: 28). Kata "zikr" di dalam ayat ini mengandung dua pengertian yaitu "mengingat dan menyebut". Seseorang akan merasa tenang hatinya dan terhindar dari penyakit hati, jika ia senantiasa mengingat Allah dengan segala kebesarannya. Tentu saja, hatinya akan tenang jika ia definisikan Allah, bukan sekedar Zat Yang paling layak untuk disembah; akan tetapi, lebih dari itu, ia posiskan Dia sebagai satu-satunya Zat Yang mengatur, Yang memberi rizki, Yang menjadi tempat bergantung, dan lain-lain.

Di sisi lain, ia senantiasa memuji-Nya dengan cara mengagungkan kebesaran-Nya melalui lisannya. Meskipun hal ini, tidak harus dipahami sebagai bentuk zikir yang selama ini dipersepsikan oleh masyarakat secara umum, yaitu membaca istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, dan sebagainya. Tetapi kata "menyebut" juga mengandung makna "berkata yang benar; berbicara yang jujur; berbicara yang bermakna". Sebab Alquran telah menggaransi bahwa hati kita tidak akan merasa tenang, bahkan sangat rentan terkena penyakit, jika kita sering melupakan Allah, dalam maknanya yang luas, (Q.s. 20: 124).

Ketiga, sebagai hudan (petunjuk). Hal ini bisa kita ilustrasikan, seandainya kita membeli barang-barang elektronik biasanya kita akan mendapatkan buku petunjuk penggunaannya. Meskipun, pada mulanya kita tidak paham betul apa yang diinginkan oleh "buku petunjuk" itu, sekaligus kemungkinan apa yang terjadi setelah ia mengikuti instruksi yang diberikannya, tetapi kita yakni sepenuhnya bahwa buku itu tidka akan bermaksud menyesatkannya. Bahkan, jika seandainya kita nekad untuk tidak mengikuti instruksinya, maka bisa dipastikan, bukan saja kita tidak bisa mengoperasikannya, tetapi bisa saja barang itu justru akan rusak dan tidak bisa dimanfaatkan lagi..

Kenapa kita yakin bahwa buku itu pasti benar dan tidak menyesatkan? Karena kita yakin atas kemampuan dan pengetahuan si penyusunnya yang tentu saja sangat memahami apa yang diinginkan oleh kita atas barang itu.

Demikian halnya dengan Alquran. meskipun kita tidak paham, tetapi kita yakin betul bahwa Alquran tidak mungkin memberi instruksi yang salah, yang justru akan mencelakan manusia. Oleh karena itu, jika kita nekad untuk tidak mengikuti instruksi itu, maka bisa dipastkan kita akan tersesat; bahkan akan celaka dunia-akhirat (Q.s. 20: 123). Maka pertanyaan berikutnya adalah kenapa kita yakin terhadap Alquran? Karena ia diturunkan oleh Allah, sang Maha Pencipta, sehingga Dialah satu-satunya Zat yang tahu persis apa yang dibutuhkan oleh manusia; apa yang bisa menyelamatkannya; dan apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan. Ini semata-mata agar manusia bisa memperoleh nikmat yang agung, yaitu surga, melebihi kenikmatan yang dirasakan oleh mereka yang akhirnya mampu mengoperasikan barang elektroniknya.

Sementara hidayah (petunjuk) yang kita inginkan adalah dua bentuk, petunjuk kepada kebenaran dan bimbingan untuk selalu berada di jalan yang benar. Yang pertama, menjadi tugas para Nabi dan Rasul serta para penerus misi kerasulan, sedangkan yang kedua, adalah hak mutlak Allah. Oleh karena itu, yang kita inginkan bukan sekedar ditunjukkan kepada yang benar, tetapi yang lebih penting adalah dibimbing agar mengikuti yang benar. Betapa banyak orang tahu yang benar, tetapi betapa sedikit orang yang mampu mengikuti yang benar. Maka hanya dengan iman yang direalisasikan dengan amal sholehlah seseorang akan senantiasa dalam bimbingan Allah (Q.s. 2: 2-5 dan Q.s. 10: 9).

Keempat, sebagai rahmat. Secara sederhana kata rahmat biasa dipahami sebagai kasih sayang dan belas kasih. Manusia ketika diturunkan ke bumi, ia tidak tahu apa-apa sehingga ia tidak memiliki apa-apa. Namun, karena potensi yang diberikan oleh Allahlah manusia mampu mengetahui apa-apa sehingga ia bisa memiliki apa-apa. Hanya saja, dengan segala potensi yang ada, manusia tetap saja tidak mengetahui apa yang seharusnya dilakukan agar bisa selamat. Oleh karena itu, turunnya Alquran merupakan rahmat yang terbesar bagi kehidupan manusia. Apa jadinya jika Allah tidak menurunkan Alquran, sebagai juklak dan juknisnya. Apa jadinya, jika manusia justru melempar rahmat Allah, berupa Alquran itu, dengan cara membiarkan saja, tidak berusaha untuk membacanya, memahaminya, dan selanjutnya mengamalknnya sebatas kemampuannya.

Alquran sebagai rahmat ini juga bisa dipahami bahwa suatu masyarakat akan dijauhkan dari rahmat Allah, jika mereka menjauhi Alquran. Dan jika Allah tidak menebarkan rahmat-Nya kepada suatu masyarakat, maka mereka akan mengalami kehampaan spiritual, yang pada gilirannya, akan mengalami kehancuran.

Selanjutnya, ayat di atas ditutup dengan kalimat lil mu'minin (bagi orang-orang beriman) setelah sebelumnya diawali dengan seruan kepada seluruh umat manusia. Artinya, fungsi-fungsi Alquran itu akan memberi kemanfaatan secara efektif hanya kepada orang-orang beriman dan bertaqwa. Hanya saja, survei membuktikan, betapa banyak orang yang telah menyatakan beriman dan bertaqwa tetapi tidak mendapatkan kemanfaatan efektif dari Alquran. Maka, jawabnya cukup singkat, pasti keimanan dan ketaqwaannya tidak memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh Alquran. Dan bagaimana sebenarnya kriteria iman dan taqwa yang benar menurut Alquran? Barangkali tidak bisa dijelaskan di sini, sebab akan menjadi sangat panjang. Wa 'l-Lahu A'lam bish-shawab.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00