Hari Kemerdekaan; Refleksi Atas Makna

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Hari Kemerdekaan; Refleksi Atas Makna

Nusantaramengaji.com -  Hari kemerdekaan menjadi momen amat penting bagi bangsa Indonesia. Setelah melalui perjalanan panjang dan perjuangan berat yang luar biasa, 17 Agustus 1945 menjadi puncak pernyataan kemerdekaan yang menunjukkan Indonesia terbebas dari belenggu penjajah. Genangan darah para pahlawan negeri sejatinya bukan hanya sekedar jadi cerita dalam buku-buku sejarah tapi harus pula dimaknai sebagai wujud membangkitkan semangat perlawanan terus menerus terhadap segala bentuk penjajahan baik dari sisi politik, ekonomi, budaya dan lain sebagianya.

Setiap tahun masyarakat seluruh Nusantara dari ujung Sabang sampai Merauke merayakan hari penting ini dengan berbagai cara. Ada yang memperingatinya dengan menggelar upacara pengibaran bendera Merah Putih, karnaval budaya, perlombaan tradisional khas 17 Agustus, serta pentas seni. Tujuannya tentu saja agar generasi muda tetap merasakan napas perjuangan yang telah dilakukan para pendahulu dan pejuang sejati bangsa.

72 tahun sudah Indonesia merdeka. Namun, benarkah negeri tercinta ini sudah benar-benar merdeka? Ketika masih banyak anak-anak yang putus sekolah dan tidak sempat mengenyam pendidikan. Ketika masih banyak rakyat Indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan. Ketika hati masih sulit untuk berbagi dan peduli pada lingkungan sekitar. Ketika sebagain besar kekayaan hanya berputar-putar hanya pada segelintir orang dan masih banyak persoalan lain yang malah justru menunjukkan fakta sebaliknya.

Merdeka artinya bebas dari penghambaan penjajahan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka itu artinya berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terkait, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Dari definisi tersebut, mari kita berfikir dan bertanya lagi, apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka.

Sebagai Warga Negara Indonesia kita boleh berbangga dengan seluruh kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia. Tetapi kita juga pasti menangis jika melihat kenyataan bahwa kekayaan alam kita dikuasai oleh asing. Sumber kekayaan alam Indonesia dieksploitasi hanya untuk memenuhi kebutuhan industri Negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Australia, Jepang dan China. Kita justru semakin miris ketika melihat di tempat-tempat kekayaan alama melimpah justru banyak dikusasi oleh pihak asing.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apa yang didapatkan oleh negara ini dari pengelolaan kekayaan alam yang dilakukan oleh asing? Di negeri sendiri rakyat Indonesia hanya dijadikan sebagai penonton yang setiap saat kekayaan alamnya dikeruk. Berdasarkan catatan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dominasi asing di sektor Migas 70%, batu bara, bauksit, nikel dan timah 75%, tembaga dan emas sebesar 85% serta di perkebunan sawit sebesar 50%. Jumlah ini menunjukkan betapa lemahnya posisi pemerintah untuk melindungi asset negara.

Ditambah lagi wilayah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia umumnya jauh dari jangkauan modal, sehingga kondisinya tertinggal dalam berbagai hal dibandingkan wilayah lain. Menurut sumber di kementrian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, terdapat kurang lebih 26 kabupaten yang terletak di perbatasan. Semua kabupaten ini tercatat masuk dalam kategori daerah tertinggal.

Banyak kejadian warga diperbatasan yang memilih pindah kewarga-negaraan (WNI ke Malaysia), karena kesenjangan ekonomi kedua negeri tersebut. Selain itu, bukan rahasia lagi bahwa penyelundupan kayu illegal banyak terjadi melalui daerah ini. Dari sini dapat ditarik pelajaran, bahwa kecintaan terhadap tanah air dapat goyah karena pengaruh kondisi sosio- ekonomi dan kultural yang melingkupinya. Sementara itu, di seberangnya anak Warga Negara Malaysia dapat dengan mudah mengakses sekolah, dengan kualitas yang lebih baik pula.

Oleh karena itu, kita tidak boleh lengah sedikitpun terhadap realitas yang ada dihadapan kita tersebut. Sebagai bangsa yang besar dengan beragam suku dan agama yang disertai pula dengan kekayaan alam yang melimpah selayaknya kita punya cita-cita atau ambisi besar untuk memajukan negeri sebagai negeri yang oleh Al Qur’an dalam surah Saba’ disebut dengan Negara Sejahtera (Baldatun Thayyibatun) sebagai mana negeri Saba’. Meski kita tahu bahwa negeri Saba’ dengan rakyatnya yang menyembah matahari namun Al Qur’an memujinya dengan Negara Sejahtera karena sikap pemimpinnya yang adil dan bijaksana sehingga menjadi negeri yang besar (‘Arsyun ‘Adzhim).

Sebuah negeri yang bahkan negari para nabi pun tidak mendapatkan pujian sperti itu. Hal tersebut menunjukkan jika sebuah negeri dipimpin oleh orang yang adil dan bijaksana, tanpa embel-embel ras dan agama, serta masyarakatnya taat pada hukum dan keadilan maka negeri itu dapat pula menjadi negara sejahtera seperti yang digambarkan Al Qur’an. 

Kenyataan telah membutikan bahwa negara-negara dengan mayoritas muslim dengan konsitusi syariahnya justru malah banyak yang jatuh pada konflik dan peperangan sebab peimimpinnya yang tidak adil dan bijaksana, meninggalkan musyawarah dan memperkukuh nasab dan dinasti sehingga negeri-negeri muslim banyak jatuh pada jurang kemiskinan dan lemah kedaulatannya. Sebaliknya negara dengan mayoritas penduduknya non muslim malah lebih sejahtera dan maju karena menerapkan system musyawarah (demokrasi), taat pada hukum, adil dan bijaksana yang menjadi prinsip dari ajaran Islam.

Dengan demikian, kemerdekaan yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan dan pendahulu kita hingga mengorbankan nyawa, tentu harus kita isi dengan semaksimal mungkin. Banyak hal positif yang bisa kita lakukan. Setidaknya memperbaiki negeri ini bisa dimulai dari diri sendiri, mulai dari hal terkecil, dan mulai saat ini. Tidak perlu sibuk menuntut orang lain berubah tapi yang terpenting adalah sama-sama menyadari hakekat dari tujuan kemerdekaan itu sendiri, menyelami maknanya untuk kemudian diterjemahkan dalam bentuk karya. Dalam konteks lebih luas makna Kemerdekaan juga dapat diartikan merdeka dari kemiskinan, kebodohan, kemunafikan, dari budak hawa nafsu duniawi, dari kolusi dan korupsi, sehingga menjadi pribadi pertapa dalam keramaian dengan tugas sebagi anak kandung kemerdekaan yang selalu mengharapkan kebaikan dan kesejahteraan bagi ibu pertiwi. Wallahu a’lam Bisshowab. (Lutfi Syarqawi)

 

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00