Berteman Atas Dasar Taqwa

Kolom
Foto: 
ilustrasi

Berteman Atas Dasar Taqwa

Nusantaramengaji.com - Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Ia harus bergaul dengan sesamanya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun dalam bergaul tentu ada etikanya sehingga bisa saling menolong dalam kebaikan dan menjauhi sikap permusuhan.

Baginda Nabi memiliki beberpa sahabat yang Allah pilihkan untuk menyampaikan risalahnya. Para sahabat ini sangat mencintai beliau dan beliau pun mencintainya. Rasul sering bersama mereka dan meninggalkan para pelaku keburukan dan pecinta dunia yang berasal dari kalangan bangsawan.

Berkaitan dengan sahabatnya yang mulia ini Allah berfirman dalam surah Al-Kahfi yang artinya;

“ Bersabarlah dengan orang-orang yang menyeru Tuhan di waktu pagi dan petang dengan mengharap ridhanya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan dunia. Dan jangnalah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dalam mengingat kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melampui batas”.

Dalam riwayat At-Thabrani, yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, mengatakan bahwa ayat ini turun ketika Nabi berada di rumahnya, lalu beliau keluar dari rumahnya mencari mereka, dan beliau menjumpai suatu kaum yang sedang berdzikir mengingat Allah SWT, di antara mereka ada beberapa orang yang berpenampilan lusuh dengan rambut acak-acakan, berkulit kasar dan hanya mempunyai selapis pakaian (orang-orang miskin). Setelah melihat mereka maka beliau duduk bersama mereka dan bersabda; segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di kalangan umatku orang-orang yang aku diperintahkan agar bersabar duduk dengan mereka.

Dalam riwayat lain, ayat ini turun berkenaan dengan para bangsawan Quraisy yang meminta Nabi duduk bersama mereka dan memisahkan diri dari kalangan sahabat-sahabatnya yang lemah dan miskin, seperti bilal, Ammar, Suhaib, Khabbab dan Ibnu mas’ud sehingga menjadi dua kelompok. Lalu Allah melarang Nabi melakukan hal tersebut dengan ayat ini.

Ayat di atas menganjurkan kepada kita untuk memilih teman atas dasar ketaqwaan karena teman yang mengajak kita pada ketaqwaan tentulah teman yang baik. Teman yang jahat adalah teman yang mengajak dan menjerumuskan kita dalam kemaksiatan dan dosa.

Hal ini tidaklah mudah karena hawa nafsu selalu ingin menggiring pada kesenangan dan teman yang mengajak pada kesenangan lebih mudah didapat daripada teman yang mengajak susah-susah beribadah. Padahal Allah memerintahkan kita untk mencari teman yang mengajak pada taqwa.

Baginda Nabi pun sangat menganjurkan untuk berteman dengan orang-orang baik dan pilihan. Beliau melarang kita berteman dengan para pelaku keburukan dan pecinta dunia karena kemungkinan besar kita bisa ikut arus seperti yang mereka lakukan.

Dalam riwayat At-Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad, Rasulullah bersabda; seseorang akan dikumpulkan sesuai dengan agama temannya. Hendaklah setiap kalian memperhatikan siapa yang akan dijadikan teman”.

Hadis ini menghimbau betapa pengaruh seorang teman itu bisa begitu hebatnya bahkan dalam memahami ilmu agama. Maka memiliki teman yang baik, jauh dari iri dan dengki merupakan suatu keagungan.

Teman yang baik akan banyak membawa manfaat bagi kita untuk menuju Allah karena ketika kita menderita dan lupa berbuat maksiat maka teman yang baik akan mengunjungi dan menasehati kita untuk selalu berada di jalan Allah.

Hadis ini bisa dimaknai umum dan khusus. Makna secara umum adalah anjuran berteman dengan siapa saja selama ia bertaqwa dan menjaga akhlaqnya serta selalu mengajak kepada kebaikan.

Sedangkan makna secara khusus bagi para penempuh jalan Tuhan/salik untuk bershuhbah/berguru pada syaikh atau mursyid tertentu dalam rangka menuju Allah karena tanpa shuhbah yang benar maka ia bisa tersesat dan gurunya adalah syaitan.

Bershuhbah atau berteman di jalan Allah akan menjadikan kita mulia dihadapan Allah dan manusia. Di samping kita akan mendapatkan ilmu dan petunjuk, kita juga akan mendapatkan ibrah dari nasehat-nasehat yang diberikan kepada kita sesuai dengan ajaran rasul, para sahabat dan orang-orang shalih.

Ketika bershuhbah hendaknya kita menjaga adab terhadap teman atau guru kita. Di antara adab dalam persaudaraan/pertemanan di jalan Allah adalah menutup aib teman/ saudaranya yang seiman karena manusia tidak pernah lepas dari yang namanya aib dan dosa.

Ketika melihat teman jatuh pada aib dan dosa menjadi tugas kita menutupi dan menasehatinya dengan benar. Rasul bersabda; bahwa seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain.

Maksudnya adalah pada aib dan kesalahan yang dilakukan mukmin lain terdapat pula kekurangan pada diri kita sehingga seorang mukmin berupaya menyempurnakan sudaranya sesama mukmin dengan cara menutupi kekurangannya.

Dengan kata lain, seroang muslim yang satu dan yang lainnya seperti dua tangan yang saling membersihkan ketika terkena debu. Inilah shuhbah/pertemanan sejati.

Dalam konteks masa kini memang tidak mudah mencari teman yang dapat menghantarkan kita kepada Allah. Bercampur-baurnya yang baik dan yang buruk menyeret seseorang pada perilaku yang abu-abu.

Pertemanan sejati menjadi samar dan lebih banyak dilekatkan karena adanya unsur kepentingan dan keuntungan. Sikap saling menasehati dan tolong-menolong dalam kebaikan menjadi doktrin lama yang tergantikan doktrin aku-kamu mendapatkan apa. Kebaikan kemudian menuntut syarat demi suatu tujuan saling menguntungkan. Prinsip utama pertemanan yang berdasarkan taqwa seolah hanya menjadi penghias bibir supaya enak didengar tapi sulit dilakukan.  

Maka dari itu, tugas kita seharusnya diusahakan dalam rangka mencari teman yang dapat menjadi lentera bagi kita menuju ke jalan Allah. Seperti dalam firman Allah yang dalam surah Al-Hujurat yang artinya; ” Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling bertaqwa”.

Setelah sebelumnya Allah melarang kita berburuk sangka kepada orang lain lalu Allah memerintahkan kita untuk tidak membeda-bedakan suku, agama, dan ras dalam bergaul tapi yang terpenting adalah ketaqwaannya. Ketaqwaan menjadi tolak ukur kemuliaan seseorang dalam pandangan Allah.

Artinya, mencari teman yang membawa kita kepada ketaqwaan/ketaatan hendaknya diupayakan terus dan digandeng setelah bertemu karena teman yang mengajakmu menempuh jalan akherat adalah sebaik-baik teman.

Sedangkan teman yang mengajakmu bersenang-senang dan melampui batas di dunia adalah sejatinya seburuk-buruk teman dan dapat menjerumuskanmu ke neraka. Seperti dalam firman Allah dalam surah Az-Zukhruf  ayat 67 yang berbunyi; “teman-teman akrab pada hari itu menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa”.

Dari itu, mencari teman yang baik dan jujur adalah perintah syariat. Syariat menganjurkan kita selektif dalam memilih teman. Karena pengaruh teman itu dahsyat sekali dan seringkali tidak kita sadari baik atau buruknya.

Berteman dengan seorang penjual minyak wangi kemungkinan besar kita akan ikut wangi sebaliknya berteman dengan penjual terasi kita juga akan sedikit-banyak akan bau terasi.

Pertemanan atas dasar taqwa ini bukan bukan saja dimaksudkan untuk menjauhi prilaku maksiat dan cinta dunia tapi juga bertujuan untuk membentengi diri dari pengaruh negatif yang muncul dari luar. Inilah makna berteman sekaligus berguru (shuhbah) kepada orang-orang shalih dalam rangka wushul kepada Allah.  

Pertemanan yang tidak semata dimaknai secara kedekatan lahir tapi teman yang bermakna ketulusan hati dengan cara saling menasehati dan mengajak pada kebaikan, kebenaran serta kezuhudan.

Allah SWT dalam surah At-Taubah ayat 19 mengatakan; “ wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar”. Imam Hasan Al-Bashri dalam menafsirkan ayat ini mengatakan bahwa yang dimaksud teman-teman yang benar adalah orang-orang yang zuhud terhadap dunia dan orang yang tidak suka mencaci saudaranya yang seagama.

Akhir kalam, untuk berteman dengan orang-orang zuhud dan shalih maka hendaklah kita juga harus berlaku zuhud terhadap dunia dan menjaga ketaatan kita kepada Allah melalui petunjuk mereka. Berteman dengan orang-orang seperti mereka dan duduk dalam majlis-majlis mereka insya Allah kita akan terserap pula dalam kondisi mereka dan mengikuti jalan-jalan yang diridhai Allah SWT.(Lutfi Syarqawi)     

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00