Bersyukur Dan Ridha Terhadap Pilihan Allah

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Bersyukur Dan Ridha Terhadap Pilihan Allah

Nusantaramengaji.com - Dalam mengarungi kehidupan manusia tidak akan pernah aman dari beragam ujian baik yang menyenangkan atau yang menyusahkan, kebaikan atau keburukan, bahagia atau sengsara. Bentuk ujian yang seolah bertentangan ini sejatinya wujudnya adalah satu kesataun yang tidak dapat dipisahkan.

Sifat yang satu tergantung pada sifat lainnya, tidak mungkin ada kebaikan tanpa adanya keburukan dan mustahil ada kebahagiaan tanpa diringi oleh kesusahan. Dalam kesedihan terkandung makna kegembiraan begitu juga dalam kesukaran terkandung makna kemudahan. Dua wajah kehidupan ini tidak akan lekang sampai kehidupan itu berakhir.

Orang-orang yang mampu menangkap makna terdalam dari dua sifat kehidupan ini akan selalu merasa bersabar dan bersyukur atas semua yang ada. Karena semua kondisi yang menimpa hambanya adalah dalam rangka untuk mendidik dan mengingatkan hamba akan perjanjina awal penciptaan bahwa Allah itu adalah Rabbnya.

Allah sebagai Rabb memiliki makna bahwa semua yang terjadi pada manusia merupakan pendidikan langsung dari Tuhan agar senantiansa selalu mengingat dan bergantung kepada-Nya. Segala bentuk ujian harus diterima sebagai pendidikan batin manusia agar selalu husnudzan kepada-Nya.

Husnudzan kepada Allah merupakan salah satu maqam keyakinan. Setidaknya ada dua golongan manusia dalam mengamalkan/mempraktikkan keyakinan ini, yaitu; golongan awam dan golongan khusus.

Bagi golongan awam. Tingkat keyakinan mereka kepada Allah berdasarkan apa yang dianugrahkan Allah kepadanya berupa harta, kedudukan, kesehatan, sehinga ia bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah kepadanya.

Namun ketika dilanda kekecewaan dan kedukaan batinnya menjadi goyang, keyakinanya kepada Allah menjadi berkurang dan bahkan tidak jarang ia berpaling pada makhluk, berkeluh kesah dengan mereka dan meminta pertolongan kepada mereka.

Keyakinanya hanya menyentuh aspek-aspek lahiriyah dan melihat kenikmatan rizki hanya dari sifatnya yang menyenangkan hawa nafsu sehingga golongan seperti ini masih bergantung pada amal-amalnya. Mengharap pamrih dari semua amal yang dilakukannya dan berfikir berdasarkan sebab dan akibat. Keyakinan seperti ini tidaklah keliru selama apa yang ia lakukan sesuai dengan batasan-batasan dalam syariah.

Sedangkan golongan khusus, yaitu; para arifin dan ulama mengimplementasikan keyakinanya dalam bentuk ridha dn ikhlas terhadap semua kondisi apapun yang berikan oleh Tuhannya. Bagi meraka apa yang datang dari Tuhan itu semuanya baik.

Mereka meyakini bahwa Allah tidak butuh apapun dari hambanya, Tuhan maha kaya dari sudut manapun. Semua amal ibadah hamba hanya sedikit dihadapan samudra anugrah-Nya.  Oleh karena itu, para Arifin selalu merasa butuh kepada Allah (iftiqor ilallah) dan memperbanyak amal ibadahnya karena hakekatnya semua amal ibadah itu untuk diri mereke sendiri.

Bahkan ada diktum yang sangat terkenal dikalangan mereka bahwa jika mereka berdoa/ memohon kepada Allah dan dikabulkan maka mereka berbahagia hanya satu kali tapi jika permohonan mereka tidak dikabulkan atau ditunda, mereka merasa bahagia sepuluh kali.

Hal ini dimaksudkan bahwa mereka khawatir jika apa yang mereka pinta atau mohon itu muncul karena dorongan dari hawa nafsunya atau karena amalnya bukan karena kehendak Allah kepadanya.

Bagi mereka berdoa bukan sekedar merasa butuh kepada Allah tapi juga merupakan sebuah perintah yang harus di taati, tidak peduli apakah doa itu diterima atau tidak diserahkan semua kapada Rabbnya dan mereka akan ridha dan ikhlas terhadap semua keputusan-Nya.

Sikap husnudzan kepada Allah ini perlu kita tauladani supaya hidup kita damai dan tentram, tidak diliputi hawa nafsu yang membuat hidup menderita jika tidak tercapai segala keinginannya. Husnudzan kepada Allah berarti kita meyakini betapa Allah telah melimpahkan kasih-sayang-Nya kepada semua mahluk-Nya.

Tidak sedikitpun Allah ingin menyusahkan mahluknya karena untuk apa Ia melakukan itu jika Ia sudah Maha Segala-Nya. Semua nikmat dan ujian berasal dari-Nya untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kualitas hidup hambanya.

Dari itu, yang perlu kita lakukan dan tingkatkan adalah sikap sabar dan syukur terhadap Allah SWT atas semua anugerah-Nya. Bersyukur tidak hanya dalam kondisi senang tapi juga susah sebagai wujud ridha atas semua ketentuan-Nya. Seorang hamba yang selalu berhusnudzan kepada Allah melihat sifat kesempurnaan-Nya dalam segala sasuatu.

Allah mengangkat manusia pada kemuliaan karena Dia bersifat Al Aziz,  mengampuni dosa hambanya karena Dia besifat Al-Ghafur, memberi riski hamba-Nya dengan sifat Ar-Razaqnya, menyelamatkan hambanya dari kejahatan dan bencana dengan sifat Salamnya dan begitu seterusnya.

Husnudzan kepada Allah baik melalui pemahaman terhadap asma dan sifatnya yang agung dan mulia atau dengan melihat semua anugerahnya yang luas dan berlimpah di alam ini, dapat ditempuh dengan memperbanyak ibadah dan amal shaleh, selalu merasa bergantung kepada-Nya, bersabar atas ujian-Nya, ridha pada semua keputusan-Nya, dan selalu bersyukur atas semua nikmat-Nya.

Bentuk syukur ini sudah dicontohkan oleh baginda Nabi dengan tidak henti-hentinya beribadah kepada Allah sehingga kaki beliau bengkak padahal beliau adalah ma’shum dari dosa yang lalu mapun yang akan datang tapi apa jawaban beliau ketika ditanya oleh Sayyidah Aisyah akan ibadahnya tersebut, beliau menjawab; bukankah pantas bagiku menjadi hamba yang bersyukur (Afalaa Akuuna ‘Abdan Syakuran).

Jawaban ini adalah bentuk syukur dari seorang Nabi pilihan yang cinta kepada Allah dan Allah pun cinta kepadanya. Lalu bagaimana dengan cara bersyukur kita selain meniru makhluk pilihan-Nya. Oleh karena itu, tidak selayaknya jika seorang hamba berdoa ketika belum diterima dan dikabulkan Allah lantas ia berburuk sangka kepada-Nya meski kita perlu bertanya kepadanya apa hak seorang hamba terhadap Tuhannya jika menyadari ia tak lebih dari hamba sahaya atau mahkluknya.

Doa yang belum terijabah bisa jadi apa yang ia pinta tidak baik baginya meski dalam pandangannya adalah baik, sebaliknya apa yang ia terima terlihat buruk dan tidak menyenagkan justru bisa jadi itulah yang terbaik bagi si hamba. Ilmu Allah maha Luas dan jangan dipersempit dengan pengetahuann kita yang setitik.

Husnudzan adalah cara terbaik menghamba kepada Allah SWT. Allah telah mengingatkan cara pandang manusia yang tidak sepenuhnya benar dan baik. Hal ini supaya manusia tidak terjatuh pada buruk sangka kepada Allah meski ia tidak berhak dan sungguh termasuk sejelek-jeleknya akhlaq kepada-Nya.

Dalam surah Al-Baqarah ayat 216 Allah berfirman yang artinya; “ Barangkali apa yang kamu tidak sukai itu lebih baik bagimu dan barangkali apa yang kamu sukai itu justru sangat jelek bagimu”.

Seorang hamba yang masih belum menyadari dan merasakan betapa nikmat Allah sudah begitu banyak berlimpah kepadanya, hidupnya akan selalu dihimpit kesesakan, keluh kesah, dan tidak pandai bersyukur sehingga orang seperti ini, dalam pandangan syara, dianggap kufur nikmat.

Padahal kalau kita perhatikan dan sadari setiap inci dari tubuh kita maka kita akan mengetahui betapa nikmat Allah tidak terkira. Jika ditimbang amal kita kepada Allah dengan nikmat yang Allah berikan maka amal kita hanya setitik tinta yang menetes dilautan, lenyap tak berbekas. Bisa mengecap makanan saja sepatutnya kita sangat bersyukur kepada Allah karena kehilangan rasa/ selera makan itu tidak dapat ditukar dengan emas setinggi gunung Himalaya.

Allah telah berfirman tentang ketidakmungkinan kita menghitung-hitung nikmat Allah yang diberikan kepada kita, seperti dalam surah Al-Hadid ayat 18 yang berbunyi;

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukann jumlahnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”.

Berbaik sangka dan ridha kepada Allah berarti menerima segala keputusan yang ditetapkan kepada kita dengan cara sabar dan bersyukur kepada-Nya baik dalam kondisi sulit atau lapang. Syukur yang dimaksud adalah dengan memperbanyak ibadah dan amal shalih serta menjauhi semua larangnnya termasuk yang makruh atau syubhat.

Dengan meneladani sifat-sifat Allah yang Indah dan Agung dalam kehidupan dan menjadikan setiap amal sebagai wujud meraih ridha dan cinta-Nya maka kehidupan kita, Insya Allah, akan senantiasa diliputi kebahagiaan dan rasa syukur kepada-Nya. Karena jika Allah sudah ridha dan cinta kepada hambanya maka secara otomatis semua dosa dan kesalahn kita akan diampuni oleh-Nya serta semua keinginan akan dipenuhi oleh-Nya tanpa diminta.

Kita akhiri tulisan ini dengan hadis riwayat Aisyah ketika menjumpai Nabi pada suatu malam dalam keadaan bersujud dan berdoa: Ya Allah aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu, dengan pengampunan-Mu dari siksaan-MU dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu karena tidak dapat memuji-Mu secara layak sebagaimana Engkau memuji Dirmu Sendiri (…. A’udzubika Minka Laa Ahshii Tsnaa an Alaika, Anta Kamaa Astnaita alaa Nafsika). Amiinn.  (Lutfi Syarqawi)   

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00