Beriman Lahir - Batin

Mutiara Alquran
Foto: 
amal shaleh - ist

Beriman Lahir - Batin

Nusantaramengaji.com - Tidak seorangpun mampu menghilangkan keyakinan kepada Tuhan dalam dirinya, Dzat yang selalu melihat dan mengawasi setiap gerak geriknya. Bahkan apa yang pernah dialami oleh Fir'aun, menjadi bukti nyata bahwa tidak satu pun orang yang sanggup melepaskan keyakinannya kepada Tuhan. Sekalipun Fir’aun dikenal menentang tauhid yang disampaikan Nabi Musa as.

حتى اذا ادركه الغرق قال امنت انه لااله الاالذى امنت به بنوا اسراءيل وانا من المسلمين

"… Ketika Fir'aun telah hampir tenggelam berkatalah dia: 'Saya percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS. Yunus [10]: 90)

Setiap orang memiliki keimanan dalam hati. Yang membedakan kualitas iman adalah pengaku-annya secara terbuka. Pernyataan terbuka adalah awal kemapanan iman itu sendiri. Dari pengakuan lisan ini kemudian ada tuntutan pembuktian dalam bentuk perbuatan.

Iman yang diucapkan dengan lantang harus diterjemahkan dalam bentuk amal ibadah. Jika benar imannya, pasti akan ia tegakkan shalat, tunaikan zakat, berpuasa, haji dan seterus-nya. Ini yang membedakan kualitas iman seseorang dengan yang lainnya.

Iman tidak cukup hanya percaya dalam hati. Iman butuh pengakuan lisan secara terbuka, lalu butuh bukti konkret dalam wujud amal ibadah. Perintah beriman dan beramal saleh dalam Alquran sering diungkap secara beriringan.

Iman yang berdimensi spiritual, selalu diiringi amal saleh yang berdimensi sosial. Perjalanan spiritual tidak pernah sampai pada puncaknya, kecuali ia bangun hubungan baik dengan Tuhannya. Namun manusia tidak akan pernah menjalin hubungan baik dengan Tuhannya, kecuali ia pun membangun hubungan sosial dengan baik pula.

Inilah makna penting misi Alquran yang setiap kali mengangkat persoalan iman, selalu diikuti dengan persoalan amal saleh.

لقد خلقنا الانسان فى احسن تقويم ◌ ثم رددنه اسفل السافلين ◌  الا الذين امنوا وعملواالصالحت فلهم اجرغير ممنون

"Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Lalu Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya." [QS. at-tîn [95]: 4-6)

 ان الانسان لفى خسر ◌ الاالذين امنوا وعملواالصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر

"Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menase-hati agar menaati kebenaran dan saling menasehati agar menetapi kesabaran. (QS. al-'Ashr [103]: 2-3)

Pada kedua ayat di atas, antara iman dan amal saleh dihubungkan dengan wawu huruf 'athaf. Dalam tata bahasa Arab, wawu 'athaf mengandung makna antara keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Adanya yang satu mengharus-kan adanya yang  lain, tidak adanya yang satu akan meniadakan yang lainnya.

Adanya iman dalam dada, mengharuskan adanya amal-saleh. Pun sebaliknya, tidak adanya kepedulian seseorang terhadap amal-saleh akan meniadakan keimanannya. Inilah makna pernyataan Rasul, bahwa iman yang paling rendah saja sudah menyadarkan seseorang untuk membuang duri dari jalanan.

Itulah bangunan iman yang benar. Semakin kuat keyakinannya akan adanya Tuhan, semakin besar pula kepeduliannya pada problem sosial yang ada. Pondasi iman akan kokoh dengan ibadah makhdhah yang berdimensi vertikal, dan iman akan sempurna dengan ibadah muamalah yang ber-dimensi horizontal.

Kadang kita saksikan orang yang shalat tetapi tidak bisa berlaku jujur, orang puasa tetapi tidak ada bekas kedermawanannya, atau ia keluarkan zakat tetapi tidak terpancar rasa kasih sayang, atau ia lakukan haji tetapi kehilangan sikap toleran. Semua masih terkesan berdiri sendiri tanpa ada pertalian yang berarti. Inilah pekerjaan rumah yang sampai saat ini masih perlu dibenahi bersama-sama.

Sementara Alquran telah memberi arahan agar manusia meningkatkan kualitas imannya dan menyempurnakannya. Demi tercapainya kejayaan sejati, Alquran telah mengingatkan agar manusia membangun ajaran kelangitan melalui harmoni sosial.[ ]

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00