Berfikir Reflektif: Sebuah Upaya Memahami Realitas

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Berfikir Reflektif: Sebuah Upaya Memahami Realitas

Nusantaramengaji.com - “Hidup yang tidak direfleksikan (diperiksa) tidaklah layak dijalani”. Begitulah kata sang filsuf Sokrates, pemikir asal Yunani, lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Hidup yang tidak direfleksikan berarti hidup seperti robot yang otomatis dan tanpa makna. Dia tidak mampu mentransendenkan seganap peristiwa dikelilingnya sehingga berlalau begitu saja, tanpa pengalaman dan penghayatan penuh arti. Padahal refleksi terhadap kehidupan merupakan anjuran agama agar hidup tidak sia-sia. Refleksi, dalam arti ini adalah belajar dari apa yang sudah dilalui sebelumnya. Dalam istilah tasawuf berfikir reflektif sama dengan tafakkur.

Sedangkn kata Refleksi sendiri berasal dari bahasa Latin reflectere dan reflexio yang berarti membungkuk ke belakang. Dalam arti sekarang, refleksi berarti tindak berpikir untuk melihat apa yang sudah dialami sebelumnya, supaya orang lalu bisa belajar dari pengalaman tersebut, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Refleksi, dalam arti ini, adalah sebuah proses belajar yang berlangsung terus menerus. Orang menimba nilai-nilai kehidupan tidak dari buku dan omongan orang lain, tetapi langsung dari apa yang dia alami dalam hidupnya.

Dengan bersikap reflektif, orang akan semakin bijak dalam hidupnya. Ia bisa belajar terus menerus dari apa yang sudah dialaminya. Ia lalu bisa membagikan hal tersebut kepada orang lain yang membutuhkan. Banyak orang mengalami sesuatu, tetapi tidak pernah melakukan refleksi. Akibatnya, ia tetap dangkal dan dungu, walaupun sudah tua, dan banyak pengalaman.

Orang yang dangkal berarti orang yang hanya peduli pada kesenangan dan kenikmatan hidup diri dan kerabatnya. Ia tidak punya cita-cita tinggi dalam hidupnya. Ia hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan akan kenikmatan sesaat dari hari ke hari. Ia tidak peduli pada kesulitan orang lain, dan pada masalah komunitas tempat ia hidup.

Kedangkalan semacam ini hanya bisa dicegah, jika orang bisa terus melakukan refleksi dalam hidupnya. Kutipan dari Konfusius ini kiranya bisa memberikan inspirasi: “Ada tiga cara untuk mencapai kebijaksanaan. Yang pertama adalah melalui refleksi. Dengan refleksi seseorang dapat menangkap makna semua peristiwa dan mengambil pelajaran darinya. Cara Ini adalah cara tertinggi dan terbaik dan biasanya dilakukan oleh para pertapa. Yang kedua adalah melalui keterbatasan. Makan keterbatasan di sini adalah menyadari diri sebagai makhluk terbatas dan kemampuan diri sehingga tidak berelelah mencari yang lebih. Cara ini adalah cara termudah. Yang ketiga adalah dengan mengalami langsung semua peristiwa tanpa rencana tanpa konsepsi. Ini adalah cara paling sulit.”

Di dalam filsafat Timur, kata refleksi memiliki arti tambahan. Refleksi adalah tindak melihat keadaan disini dan saat ini apa adanya, tanpa prasangka ataupun asumsi sedikit pun. Dalam arti ini, refleksi adalah ciri dari pikiran manusia, yakni pikiran yang seperti cermin. Artinya, pikiran tersebut memantulkan terus menerus semua keadaan sebagaimana adanya: langit biru, pohon hijau, dan sebagainya.

Pola pikiran reflektif yang memantulkan dunia sebagaimana adanya, seperti cermin, ini mirip dengan pola pikir tradisi fenomenologi Jerman yang dikembangkan oleh Edmund Husserl. Inti dasar fenomenologi Husserl adalah kembali ke obyek itu pada dirinya sendiri (zurück zu den Sachen selbst). Orang lalu melihat dunia apa adanya. Semua penilaian, asumsi dan prasangka harus ditunda terlebih dahulu, supaya orang bisa mendapatkan pengetahuan yang tepat.

Jika memiliki pikiran reflektif semacam ini, orang lalu bisa menyingkapi semua keadaan dengan tepat. Ia tidak melihat sesuatu dari prasangka ataupun pengalaman masa lalunya semata, tetapi dengan berpijak pada kejernihan. Kejernihan ini, menurut Eckhart tolle, pemikir psikologi transpersonal, lahir dari kesadaran yang berpijak sepenuhnya pada dunia disini dan saat ini. Orang lalu bisa bersikap dengan tepat di semua keadaan yang ia alami dalam hidupnya.

Pikiran seperti cermin ini bisa dilatih, supaya bisa menjadi bagian dari kebiasaan hidup manusia. Caranya adalah dengan bermeditasi dan dalam islam bisa dipraktekkan dalam dzikir atau solat. Ada banyak cara untuk bermeditasi. Namun, semuanya memiliki inti yang sama, yakni mendengar, bernapas, melihat dan merasa apa sesungguhnya ada disini dan saat ini. Meditasi, dalam arti ini, bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Orang perlu untuk melihat ke belakang. Ia perlu untuk belajar dan mengambil nilai-nilai kehidupan dari apa yang sudah lewat. Pengalaman dan refleksi adalah guru tertinggi kehidupan. Buahnya adalah kebijaksanaan hidup yang terus berkembang dari saat ke saat.

Namun, orang tidak boleh tenggelam di masa lalu. Orang tidak boleh terus menyalahkan masa lalu, dan hidup dalam penyesalan atas apa yang sudah lewat. Untuk itu, orang harus berpijak kuat di keadaan disini dan saat ini (now in here). Ia perlu untuk memiliki pikiran seperti cermin yang memantulkan semua keadaan sebagaimana adanya, sehingga ia bisa bersikap tepat di dalam menanggapi apapun yang terjadi.

Ketika ada orang lapar, kita memberinya makan. Ketika ada orang haus, kita memberinya minum. Semua dilakukan dengan tulus, tanpa pamrih apapun. Juga ketika badan lelah, kita beristirahat. Semua dilakukan dengan alami, tanpa terlalu banyak pertimbangan dan analisis. Inilah artinya menjadi manusia reflektif. Menjadi manusia reflektif juga berarti menjadi manusia yang bijaksana.

Banyak orang pintar di dunia ini. Namun, manusia bijaksana semakin langka. Tak heran, banyak kedangkalan dan kedunguan berkeliaran di dunia ini. Mereka hidup dalam kepalsuan, menjadi entitas-etitas yang bukan dirinya. Hidupnya ditentukan oleh kekuatan diluar dirinya sehingga ia menjadi hamba kesenangan dan melupakan hakekat dirinya yang sejati, yaitu; manusia yang menyadari eksistensinya tidak lebih setitik air di samudra keberadaannya. Manusia sejatinya tidak ada, yang ada hanya Tuhan, karena kalau Tuhan tidak ada maka manusia tidak ada.

Oleh karena itu, mengikuti kehendak-Nya adalah cara yang terbaik tanpa persepsi, tanpa konsepsi sebelumnya dan membiarkan Dia hadir dengan sendirinya dihadapan kita.  Yang kita perlukan hanyalah koreksi/refleksi terhadap peritiwa yang hadir dihadapan kita, apakah makna dibalik setiap peritiwa tersebut, baik atau buruk, menyenangkan atau mengecewakan. Inilah makna sabda Sokrates di atas yang mengajarkan hidup dalam keheningan dan mencerna setiap peristiwa dari setiap angin yang berhembus, kicauan burung, dan pada embun yang menetes dari dedaunan pagi. (NM) 

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00