Berbincang Dengan Allah Melalui Al Qur'an

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Berbincang Dengan Allah Melalui Al Qur'an

Nusantaramengaji.com -  “Wahai anakku ! Bacalah Al-Qur’an itu seolah-olah ia diturunkan kepadamu”. Pesan seorang ayah kepada anaknya. Anak tersebut kelak menjadi salah satu pemikir besar yang dimiliki umat Islam dalam sejarah, yaitu; Muhammad Iqbal.

Nasehat tersebut bukanlah suatu yang istimewa jika mengingat bahwa membaca Al Qur’an memang diturunkan untuk membimbing umat manusia. Yang istimewa adalah jika seseorang mampu menangkap makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya dan menjadikannya sebagai lentera gerak dan langkahnya dalam kehidupan.

Al Qura’ an bukan sekedar kumpulan huruf-huruf yang berbentuk kalimat yang bisa dibaca setiap saat tapi lebih daripada itu Al-Qur’an adalah kalamullah yang mengandung semua inti dari kehidupan. Semua makna kehidupan terserap dalam huruf-hurufnya karena itu maknanya mengalir terus sepanjang kehidupan itu sendiri.  Al Qur’an adalah Firman Allah yang tidak akan pernah kering menggali kandungannya meski ditambah dengan tujuh tinta seluas samudra.

Bagaimana bisa habis makna dan kandungannya jika Al Qur’an adalah realisasi sabda-Nya dalam kehidupan, setiap inti dari semesta tersimpan dalam huruf-huruf dan kalimatnya huruf-hurufnya seperti bintang gemerlap yang menghiasi jiwa-jiwa yang sedang resah dan gelisah.

Kalimat-kalimatnya bagaikan lentera yang menyinari kegelapan lubuk hati para pencari kesejatian. Al Qur’an adalah Firman-Nya yang akan terus mengalir dari lisan-lisan para qari dan tulisan tulisan para ahli ilmu.

Dalam muqaddimah tafsirnya Fii Dzilalil Quran, Sayyid Qutub mengatakan; alangkah indah dan lezatnya hidup di bawah naungan Al Qur’an, sebuah kelezatan yang tidak dapat dirasakan kecuali oleh orang-orang merasakannya. Ucapan beliau ini ditujukan bagi orang-orang yang senantiasa bersama Al Qur’an baik dengan cara terus menerus membacanya maupun yang mengkaji dan mengamalkannya.  

Namun anehnya banyak orang enggan dan malas tuk membaca Al Qur’an padahal kelezatannya terpampang di hadapanya dan di dalamnya terdapat petunjuk untuk hidup di dunia untuk bekal kehidupan akherat. Sebagian orang merasa tidak punya waktu untuk membacanya padahal di dalamnya terdapat pahala yang besar. Sebagian orang merasa tidak sanggup belajar Al Quran karena sulit katanya, padahal membacanya sangat mudah dan mendatangkan kebaikan yang sangat besar.

Dalam surah Fathir ayat 29-30 Allah berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Ibnu Katsir dalam menjelaskan ayat ini mengatakan, dengan mengutip Qatadah rahimahullah, bahwa Mutharrif , jika membaca ayat ini beliau berkata: ayat ini berkaitan dengan ahli Qurra/orang-orang yang suka membaca Al Quran.

Maksudnya adalah orang yang membiasakan membaca Al Quran maka orang itu tidak akan pernah merugi dalam kehidupan baik di dunia maupun di akherat mengingat betapa membaca satu huruf saja dalam Al Qur’an akan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Dan Allah menggambarkan orang-orang yang senantiasa membaca Al Qur’an seperti orang berniaga yang tidak pernah merugi.

Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud r.a berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan Alif-Lam-Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.”

Hadits ini menunjukan dengan sangat jelas, bahwa muslim siapapun yang membaca Al Quran baik paham atau tidak paham, maka dia akan mendapatkan ganjaran pahala sebagaimana yang dijanjikan. Dan sesungguhnya Rahmat Allah Ta’ala itu Maha Luas, meliputi seluruh makhluk, baik orang Arab atau ‘Ajam (yang bukan Arab), baik yang bisa bahasa Arab atau tidak.

Seperti dalam riwayat Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala.

Selain akan mendapatkan pahala yang besar bagi yang membacanya ,Al Quran juga dapat memberi syafaat kepada kita di hari perhitungan. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa selain nabi Muhmmad yang dapat memberi syafaat, Al Qur’an juga dapat memberi syafaat bagi para pembancanya.

Al Quran dan Baginda Nabi seolah menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahakan. Artinya mengikuti petunjuk  Nabi berarti mengikuti petunjuk Al Qur’an. Keduanya sebagai penyejuk hati dan pemberi syafaat serta keduanya pula sebagai rahmatan lil alamin.

Dalam riwayat Muslim dari Abu Umamah Al Bahily r.a berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya”.

Dengan membaca Al Quran akan memuliakan hidup seseorang di dunia maupun di akherat. Tidak ada penolong sebaik-baik penolong selain Al Qur’an dan baginda Nabi Muhammad SAW. Membiasakan baca Al Qur’an dan sholawat Nabi sejatinya diperuntukkan untuk mendapat syafaat dari keduanya kelak di yaumil mahsyar.

Kehidupan dunia seringkali memalingkan manusia dari tujuan akhir hidupnya. Tak jarang manusia satu dengan yang lainnya saling berlomba dan bermegahan-megahan dalam keduniawian meski akhir segalanya adalah kebinasaan alias alam kubur. Dunia adalah sebuah kebun tuk hasilnya kita petik pada kehidupan abad.

Apa yang kita tanam dalam kebun ini sangat menentukan akan hasilnya nanti di akhirat. Maka tanamilah kebun ini dengan kebaikan-kebaikan, hiasilah dengan lantunan ayat suci yang menyejukkan ditemani sang kekasih pujaan hati baginda Nabi Muhammad SAW dengan cara tidak lepas bershalawat kepadanya.

Orang yang senang berbincang dengan kekasihnya tentu tidak akan memperdulikan yang lain. Karena ukuran kecintaan seseorang dapat dilihat dari betapa sering dan rindunya ia bertemu dan berbincang dengan kekasihnya dalam sehari semalam.

Hanya kedustaan belaka jika ada orang yang mengatakan mencintai Allah dan Rasulnya tapi ia jarang membaca Firmannya dan tidak bershalawat kepada Nabinya. Seberapa banyak kita membaca Al Qur’an dalam sehari, itulah tolak ukur kedekatan dan kecintaan kita kepada-Nya.

Dalam sebuah atsar riawayat Al Baihaqi disebutkan bahwasanya Abdullah bin Mas’ud r.a berkata: “Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai Al Quran maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasul-Nya.

Oleh karena itu, membaca Al Qur’an seolah-olah ia diturunkan kepadamu memiliki makna mendalam berupa tanggung jawab moral dan spiritual sebagai seorang muslim untuk mengejawantahkan nilai-nilai luhur Al Qur’an dalam kehidupan karena Al Qur’an adalah kitab amal/kitab penuh petunjuk beramal dalam mengarungi kehidupan. Wallahu a’lam Bisshowab. (Lutfi Syarqawi)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00