Beradab Dalam Keragaman

Kolom
Foto: 
istimewa

Beradab Dalam Keragaman

Nusantaramengaji.com - Di samping kemaslahatan bersama, harmoni sosial pun butuh kesadaran umat mampu melihat kenyataan bahwa hidup ini memang beragam. Manusia diciptakan Allah SWT dengan berjuta keragaman. Manusia memiliki berbagai latar belakang yang berbeda-beda, sehingga berpotensi untuk berrbeda satu sama yang lain. Ini sebuah relitas. Dari keragaman inilah rahmat Allah SWT disebarluaskan kepada seluruh alam. Karena sesungguhnya alasan keragaman diciptakan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

 
ومن رحمته جعل لكم اليل والنهار لتسكنوا فيه ولتبتغوا من فضله ولعلكم تشكرون
 
“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untuk-mu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS. al-Qashash [28]: 73)
 
Jadi, keragaman bukan hal yang menakutkan dalam kehidupan ini. Bahkan keragaman merupakan anugerah yang harus disyukuri. Dalam hal ini, al-Qur'an memberikan arahan agar manusia mampu menyikapi perbedaan dengan mengedepankan ke-arifan. 
Biarkan setiap orang tetap menjadi dirinya sendiri. Demi kelangsungan hidup bersama yang harmonis, seseorang tidak harus merubah identitas dirinya menjadi bangsa atau suku tertentu. 
Keharmonisan hidup justru akan tercipta dengan mendampingkan berbagai perbedaan secara adil, seimbang dan proporsianal. Hal ini sangat penting, sebab antara satu dengan yang lain tidak berarti lebih unggul. Inilah dasar persaudaraan dan per-satuan yang sebenarnya. Di mana masing-masing pihak berada pada posisi yang sepadan. 
 
ياايها الناس انا خلقنا كم من ذكر وانثى وجعلناكم شعوبا وقبا ئل لتعارفوا ان اكرمكم عندالله اتقاكم
 
“Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya, di antara kamu, orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurat [49]: 13)
 
Demi menjaga eksistensi keragaman agar tetap dalam kesatuan yang kokoh, perlu kebesaran jiwa untuk mau menghormati kebenaran yang ada pada orang lain. Kita tidak harus mempersoalkan nilai-nilai universal untuk di lihat lebih jauh dari mana ia berasal. 
Ada banyak titik persinggungan di antara keragaman yang dapat dijadikan ikatan satu dengan lainnya. Kepicikan kitalah yang selama ini menghalangi kebebasan diri dalam mengakui kebenaran orang lain. Orang bijak berkata, ambil hikmah kehidupan tanpa harus mempertanyakan dari mana hikmak tersebut berasal. Kebesaran jiwa inilah yang diajarkan al-Qur'an kepada manusia agar ia mampu memperkuat titik persinggungan dan mempersempit jarak perbedaan. 
 
قل يـأهل الكتـاب تعالوا الى كلمة سواء بيننـاوبنينــكم ألا نعبـد إلا الله ولا نشرك به شيئاً ولاتتخذوا بعضنا بعضا أربابا من دون الله فان تولوا فقولوا اشهــدوا بانامسلمين
 
“Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, mari (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun, dan tidak (pula)sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Ilah selain Allah.’ Jika mereka berpaling, maka katakan kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’" (QS. Ali ‘Imran [3]: 64)
 
Dasar kehidupan beradab
Menghormati orang adalah asas dasar dalam membangun kehidupan sosial yang beradab. Sikap hormat yang ditunjukkan oleh seseorang terhadap orang lain akan menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang terhormat. Sebaliknya, sikap menghina-kan orang sesungguhnya telah memproklamirkan dirinya sebagai orang yang hina.
Dalam konteks keluarga, Rasulullah pernah memberikan kriteria suami yang terhormat, yakni hanya mereka yang bisa menghormati istrinyalah yang pantas disebut suami terhormat. Sementara suami yang sering menghinakan istrinya tidak lain kecuali ia suami yang hina.
Seiring dengan nilai-nilai sosial yang ada, al-Qur'an mengajak kita membangun persaudaraan dengan menempatkan orang lain lebih penting dari pada dirinya sendiri. Ini berarti kehormatannya, ke-sejahteraannya, kebahagiaannya menjadi perhatian melebihi dirinya sendiri. 
 
والذين تبوءو الدار والإيمان من قبلهم يحبـون من ها جر اليهم ولا يجدون فى صدورهم حاجة مما أوتوا ويؤثرون على انفسهم ولو كان بهم خصاصة ومن يوق شح نفسه فألـــــئِك هم المفلحون
 
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (ke-datangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka atas apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, merek itualah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-Hasyr [59]: 9)
 
Itulah orang-orang yang istimewa dalam pandangan Allah SWT. Akan tetapi, kita juga sadar bahwa hal yang demikian sungguh sangat berat untuk dilakukan oleh tokoh agama sekalipun. 
Se-tidaknya al-Qur'an memberikan pilihan bahwa apa yang dirasakan oleh orang lain seharusnya terasa pula oleh kita. Jika orang lain terhinakan oleh siapapun, seharusnya kita juga merasa terhinakan olehnya. Jika yang demikian mampu kita hadirkan dalam kesadaran jiwa, pastilah kita tidak akan menghinakan orang. Sebab dengan kita menghina-kan orang berarti kita menghinakan diri sendiri.
 
يايهاالذين امنوا لا يسخر قوم من قوم عسى ان يكونواخيرامنهم ولا نساء من نساء عسى ان يكنّ خيرا منهنّ ولا تلمزوا انفسكم ولا تنابزوا بالألقاب بئس الاسم الفسوق بعد الإيمان ومن يتب فألـــئك هم الخسرون
 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang-siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. al-Hujurat [49]: 11)
Pada ayat di atas ada ungkapan  وَلاَتَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ yang berarti jangan kamu mencela diri kamu sendiri. Yang dimaksud ayat tersebut adalah mencela orang lain. Sengaja digunakan ungkapan "diri kamu sendiri" maksudnya; kehinaan orang lain terasa seperti ke-hinaan diri sendiri. Maka menjaga kehormatan orang lain sama dengan menjaga kehormatan diri sendiri.
 
ولا تســبواالذين يدعون من دون الله فيسبوا الله عدوا بغير علم كذالك زينا لـــكل امة عملهم ثم الى ربهم مرجعهم فينبئهم بماكــانوا يعملـــــــــون
 
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap pekerjaan mereka (adalah) baik. Kemudian kepada Rabb mereka kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-An’am [6]: 108)
Ayat di atas meminta kita untuk berpegang pada kebenaran yang absolut hanya untuk diri sendiri. Sementara kebenaran yang bersifat relatif biarlah menjadi pegetahuan bersama untuk saling menghargai dan menghormatinya. Inilah yang diinginkan al-Qur'an agar kita mampu menghargai kehormatan orang laksana menghargai kehormatan sendiri. Wallahu'alam
Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00