ALQURAN MENYATUKAN ENERGI USAHA UNTUK KEMAJUAN BANGSA

Kolom

ALQURAN MENYATUKAN ENERGI USAHA UNTUK KEMAJUAN BANGSA

Nusantaramengaji.com - Umat Islam Indonesia senantiasa bergairah dalam membaca dan mengkaji Alquran. Kajian berupa pengajaran Alquran senantiasa tumbuh dan berkembang di mana-mana. Mulai pengajaran untuk anak usia dini hingga dewasa. Demikian gairah membaca Alquran. Hal ini penting kita perhatikan secara seksama, karena Alquran yang kita baca bukan saja menambah energi positif, tetapi melalui huruf-huruf dan kalimat-kalimat di Alquran memberi inspirasi sekaligus mencerdaskan kita semua. 
Kedua hal di atas patut kita syukuri, karena memberi energi positif dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan kita.Alquran yang terdiri dari 50 ribu-an kata atau kalimat ternyata sungguh sangat banyak di banding kata atau kalimat yang kita ucapkan sehari-hari (hanya berkisar kurang lebih 3 ribu an kata). Oleh karena itu, dengan membaca Alquran secara terus menerus, khataman Alquran secara terus menerus, insyaAllah akan memperkuat karakter, memperbanyak kata dan pilihan bahasa. Khazanah bahasa kita akan semakin kaya dan InsyaAllah peradaban Indonesia akan semakin jaya. Demikian bahasa adalah cermin kemajuan peradaban suatu bangsa. 
Selain itu, Alquran yang kita baca, bahkan yang kita hafal Insyaallah akan membawa energy besar bagi menyambungnya energi usaha seluruh rakyat Indonesia. Energi Alquran akan mengokohkan batin para pemimpin negeri ini. Mulai dari Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota, Camat, Lurah, RW, RT dan seluruh rakyat Indonesia menjadi energi yang kuat untuk makmur dan sejahtera. 
Selain juga menjadi energi yang kuat untuk terus menyatu padu, tidak akan bisa dipecahbelah oleh siapapun. Karena dengan membaca Alquran bukan saja mengokohkan batin dalam usaha, tapi juga menyambungkan hati, kata, kalimat dan bahasa langsung kepada junjungan baginda Nabi besar Muhammad SAW.
Membaca Alquran juga merupakan mujahadah (kesungguhan bermohon), karena melalui khataman Alquran secara berjamaah termasuk bagian dari istighosah, munajat dan permohonan kita kepada Allah SWT  di tengah kelemahan, kekurangan, kealpaan dan berbagai kesalahan kita.
Kita ketahui Indonesia kaya raya, rakyatnya baik semua karena aslinya orang Indonesia adalah baik, murah senyum, suka persaudaraan, saling bantu membantu, dan bahu membahu. Namun akhir-akhir ini ciri khas itu mulai berkurang, di antara kita mulai suka bermusuh-musuhan, berujar kebencian dan merasa paling benar sendiri. Hal ini tentu tidak akan kita biarkan. 
Keadaan kusut ini akan kita rajut kembali, kita kuatkan kembali, kita galang kembali, dengan menyatukan energi alquran secara merata dan menyatu disetiap sanubari rakyat dan bangsa Indonesia.
Patut kita syukuri, Pemerintah sudah bekerja keras dan rakyat sudah banyak menerima dengan apa adanya. bangsa Indonesia ini bangsa yang baik, nahdliyyin dan nahdliyyat sudah diajarkan para ulama dengan zuhud, ikhlas, dan sabar. Meski juga harus tetap berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan. 
Bila kerja keras sudah optimal, kreatifitas sudah kita kerahkan, ilmuan telah memberikan temuan dan pengajaran, praktisi telah berupaya mewujudkannya di lapangan, maka faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah. 
Artinya, Ketika usaha keras kita, keringat dan air mata, kreatifitas dan kerja keras kita belum juga berhasil, maka tiada pilihan kecuali tawakkal kepada Allah. Caranya dengan menyerahkan diri, bermujahadah melalui istighasah, munajat, khataman alquran secara berjamaah. 
Untuk itu saya selalu menganjurkan sikap tawakkal ini dengan munajat, khataman Alquran. Kita teruskan tradisi ini baik di rumah masing-masing atau secara berjamaah. Karena sesungguhnya memikul amanah tidaklah mudah. Namun secara bersama-sama InsyaAllah mampu.
 
Amanah Keagamaan dan Kebangsaan
Secara umum ada dua amanah yang dititipkan di pundak kita sebagai bangsa Indonesia. Pertama, amanah diniyah atau keagamaan. Sebagai muslim bagaimana kita mampu menjaga warisan keilmuan, amalan dan  tradisi sejak Nabi Muhammad SAW, para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, para wali, para masyayikh, sampai kepada KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, para Kyai lainnya sampai kepada kita semua hari ini. 
Tentu dengan ukhuwah Islamiyyah, bagaimana amanah keagamaan yang dipikul oleh umat Islam terbanyak di dunia ini, umat Islam Indonesia, dengan kekhasan Islam Nusantara, Islam Ahlussunnah Wal Jamaah, Umat Islam Indonesia menjadi teladan bagi umat Islam dunia. 
Kedua, amanah wathaniyyah atau kebangsaan. Amanah ini dapat kita petik dari salah satu lagu patriotis yang diciptakan tahun 1934 oleh salah seorang penggerak kemerdekaan asal pesantren, KH Wahab Hasbullah Jombang. 
Lagu ini berisikan syair yang penuh dengan semangat patriotisme. Lagu yang berjudul Syubbanul Wathan atau Yaa Lal Wathan. Liriknya: 
 
Pusaka hati wahai tanah airku, Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah, hai bangsaku!
Indonesia negriku
Engkau Panji Martabatku
S’yapa datang mengancammu
Kan binasa dibawah dulimu”
 
Dijelaskan bahwa Indonesia adalah negeriku, engkau panji martabatku. Martabat adalah harga diri. Oleh karena itu, kita sebut bahwa memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia adalah merebut harga diri. Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah mempertahankan harga diri. Memperjuangkan cita-cita Proklamasi adalah memperjuangkan martabat kemanusiaan. Indonesia, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah harga diri kita sebagai seorang muslim yang berkebangsaan Indonesia.
Amanah ini harus tuntas kita jalankan, tentu kita hendaknya senantiasa dalam kondisi yang aman dalam bingkai kekompakan dan kebersamaan, dalam bingkai ukhuwah Islamiyyah (persaudaraaan sesama muslim) dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air).
Bagaimana bangsa ini akan menjalankan amanah keagamaan itu bila bangsa ini dalam keadaan tidak aman. Penegak agama hendaknya ditopang oleh penegak bangsa yang aman. Saya dan kita semua tentu berterima kasih kepada negara, pemerintah, TNI dan Polri yang telah mampu menciptakan rasa aman. Tetapi demikian, bila rakyat tidak menjaga dengan baik maka rasa aman itu bisa hilang.
Kita bersedih bahwa saudara-saudara kita di berbagai negara lain yang 100% adalah muslim, seperti Afghanistan, Palestina, Libya, dan negara Timur Tengah lainnya, mereka mau ke Masjid saja merasa tidak aman karena takut ledakan ada bom, takut akan adanya kekerasan dan lain sebagainya. Sedang Indonesia, Alhamdulillah tidak pernah mengalami itu, karena antara amanah keagamaan dan amanah kebangsaan menyatu padu dalam gerak langkah umat Islam Indonesia. 
Meski dengan keadaan Indonesia yang belum sempurna ini patut kita syukuri. Memang belumlah sempurna, demokrasi kita masih hiruk pikuk, pembangunan kita belum memakmurkan, tapi sudah ada kemajuan yang harus kita syukuri. Oleh karena itu, Umat Islam harus mengisi dan terus mendorong untuk kemajuan dan kemakmuran rakyat. bukan justru melihat keadaan yang belum ideal ini lalu frustasi. Bahkan ingin merubah pondasi keagamaan dan kebangsaan kita.
Oleh karena itu, kita hendaknya tetap yakin dan optimis, apalagi dalam naungan Nusantara Mengaji, gairah keagamaan yang kuat, Islam Ahlussunnah Wal jamaah, semuanya menyatu padu dalam ridla dan pertolongan Allah SWT. 
Untuk itu pula saya optimis, melalui Nusantara Mengaji, kita akan gairahkan dan tingkatkan serta kuatkan Islam Nusantara, Islam Ahlussunnah Wal Jamaah dengan melaksanakan mengaji bersama untuk kemajuan dan kemakmuran bangsa yang kita cintai ini.
Mengapa mengaji bersama (membaca dan mengkhatamkan Alquran secara bersama-sama), karena di sanalah kekuatan energy positif yang dapat merangkai kebarsamaan dan persatuan dalam pembangunan sekaligus mengundang Ridla dan pertolongan Allah SWT.
Tentu ini semua hendaknya dengan wujud rasa aman. Aman dalam bingkai kebersamaan dan persatuan. Sehingga dengan itu kita akan mampu menjaga amanah keagamaan sekaligus amanah kebangsaan secara baik. Kita akan dapat mewujudkan kemakmuran dan keadilan dengan penuh rasa syukur. Semoga Alquran senantiasa memberikan hidayah kebaikan dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan kita.  
 
Intisari Orasi Kebangsaan
Inisiator Nusantara Mengaji, H. A. Muhaimin Iskandar,
Bandung Lautan Mengaji, Bandung, 20 Mei 2017
Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00