Yang Dapat Membatalkan Salat Jumat

Sahabat Nusantara Mengaji, salah satu rukun (tidak boleh ditinggalkan, alias membatalkan) salat jumat adalah khutbah. Adapun khutbah sendiri terdiri dari lima rukun, pertama, memuji Allah dengan mengucap atau membaca hamdalah (Alhamdulillah), kedua membaca shalawat kepada Rasulullah SAW, ketiga wasiat untuk bertakwa kepada Allah SWT, keempat membaca ayat Alquran minimal satu ayat, dan kelima mendoakan orang-orang mukmin. Jika salah satu rukun tersebut tidak terpenuhi maka khutbahnya tidak sah. Konsekuensinya adalah salat Jumatpun tidak sah.

Nah, dalam realitas yang kita temukan terkadang dijumpai khutbah jumat yang berisi hal menyejukkan, meneduhkan, dan mengajak kebaikan. Di lain waktu, terkadang juga seorang khatib dengan menggebu-gebu bahkan berapi-api menjelek-jelekkan seseorang atau pihak tertentu, bahkan mengajak kepada perlawanan.

Dalam pandangan Madzhab Syafi’i, apabila kita melakukan salat jumat, kemudian kita ketahui bahwa khatib dalam khutbahnya ngawur, menghujat atau menjelek-jelekkan orang lain, maka setelah salat jumat selesai, kita harus mengulang dengan melakukan salat dhuhur. Mengapa demikian?

Dikemukakan oleh Abdurrahman al-Juzairi dalam kitab al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba`ah juz 1 halaman 361 sebagai berikut :

“Menurut madzhab Maliki haram hukumnya berbicara ketika khutbah dan ketika imam duduk di atas mimbar di antara dua khutbah. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara orang yang mendengarkan khutbah atau tidak. Seluruh Jamaah Jum’at haram berbicara meskipun berada di teras masjid atau jalan yang terhubung dengan masjid. Hanya saja keharaman berbicara tersebut gugur ketika sang Khatib menyampaikan khutbah secara ngawur (Laghw) atau kesia-siaan, seperti memuji orang yang tak boleh dipuji, atau menghina orang yang tidak boleh dihina.”

Berdasarkan pandangan ulama di atas, dapat ditarik makna bahwa kesantunan adalah hal terpenting dalam isi khutbah jumat. Seorang khatib sudah seharusnya mengajarkan masyarakat akan kehidupan yang tentram, Sikap yang toleran dan moderat. Bila isi khutbah adalah mencaci maki atau menjelek-jelekkan sebagaimana pandangan ulama di atas, maka cacatlah khutbah tersebut, sehingga hendaknay mengulang dengan melakukan shalat zuhur.

Bila dalam suatu kondisi tertentu khutbah Jumat dijadikan sebagai mimbar nasihat untuk penguasa, selayaknya sang khatib mengikuti pesan Rasulullah SAW:

“Barangsiapa ingin menasihati penguasa, janganlah menunjukkannya secara terang-terangan. Hendaklah ia memegang tangannya dan menyendiri bersamanya. Jika nasihat diterima, itulah yang diharapkan. Jika tidak, berarti dia telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad). (Nusantara Mengaji)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00