Takwa, Mudah Terucap Berat Dilakukan, Membaca Ayat-ayat Takwa Dalam Al Quran

Bisa dipastikan, setiap jum’at kita mendengar kata “takwa” diucapkan. Sebab, wasiat takwa merupakan salah satu rukun khutbah jum’ah yang menentukan sah atau tidaknya shalat jum’at. Ironisnya, kita tidak pernah menggubris dan bersikap acuh tak acuh terhadap seruan itu.

Entah karena tidak paham dengan seruan itu -kerap kali wasiat takwa diucapkan memakai bahasa Arab atau membaca ayat yang berkaitan dengan takwa- atau hanya dianggap bagai “anjing menggonggong kafilah berlalu” atau pun layaknya “cuap” tukang jamu di pinggir jalan. Wajar, bila Rasul SAW perlu mengharuskan mendengar dan menyimak khutbah sebagai salah satu penentu keabsahannya.

Nah, Ada baiknya, kita mengajak diskusi Alquran, bagaimana ia menjelaskan takwa. Mari duduk bersama, kita berdialog dengan Alquran, sekalipun dalam ruang yang sangat terbatas dan sempit.

Takwa, berasal dari kata Ittaqa-Yattaqi-Ittiqaa’an. Ar-Raghib menyatakan Takwa, secara bahasa, berasal dari kata Waqa-Yaqi-Wiqaayatan yang berarti menjaga sesuatu dari hal yang membahayakan. Atau menjaga diri dari segala sesuatu yang dikhawatirkan terjadi. Wajar, ada yang membahasakan secara singkat takwa dengan istilah khouf (takut).

Sehingga, kata takwa dapat didefinisikan secara istilah sebagai menjaga diri dari sesuatu yang menyakiti (jiwa) dengan cara menjauhi larangan dan mentaati segala perintah Allah dan RasulNya.  Kata takwa dalam Alquran disebut sebanyak 238 kali dengan berbagai bentuk akar kata.

Rinciannya, Ittaqaa (seseorang bertakwa, bentuk madhi, kata kerja lampau) sebanyak 7 kali. Komposisi kata tersebut didominasi oleh surah Albaqarah yang merupakan surah berjenis Madaniyyah. Peredarannya sebagai berikut : QS. Albaqarah (2) : 189 dan 203 ), Ali Imran (3) : 76, Annisa (4) : 77, Ala’raaf (7) : 35, Annajm (53) : 32, Allail (92) : 5. Penggunaan kata takwa dalam bentuk ini menekankan “takwa” sebagai sebuah “umpan” bagi individu dalam memotivasi setiap pribadi agar berkompetisi secara sportif mendekatkan diri kepada Allah SWT. Buktinya, kata ini selalu didahului oleh huruf syarat yaitu man (barang siapa, siapapun).

Ittaqau (mereka bertakwa, bentuk madhi jamak) disebut sebanyak 19 kali, dengan komposisi terbanyak diduduki surah Almaidah, surah yang turun setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah. Pembagiannya yakni QS. Albaqarah (2): sebanyak dua kali (ayat 103, 212), Ali Imran (3): sebanyak tiga kali (ayat 15, 172, 198), Almaidah (5) : sebanyak empat kali (ayat 65, 93, 93, 93), Al A’raaf (7) : sebanyak 2 kali (ayat 96, 201), Yusuf (12) Cuma sekali, ayat 109, begitu pula Arra’du (13) ayat 35, Annahl (16) : dua kali (ayat 30, 128), Maryam (19) sekali ( ayat 72), Azzumar (39)  : tiga kali (20, 61, 73).

Boleh dikatakan, penggunaan kata takwa dalam bentuk ini selalu dikaitkan dengan janji Allah SWT bagi mereka yang mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya baik di dunia maupun di akhirat. Singkat kata, penggunaan kata Ittaqau identik dengan yang manis-manis. Kendati ada sebuah ayat yang memakai kata ini untuk menjelaskan karakteristik mereka yang bertakwa. Simak ayat berikut : “ Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (QS. 7:201).

Dalam Alquran, selain bentuk kata kerja madhi (lampau), redaksi kata takwa juga terungkap dalam bentuk mudhari’ (kata kerja sekarang dan akan datang). Tentu, dengan penekanan makna dan hikmah yang berbeda pula. Rinciannya sebagai berikut : Yattaqii (bentuk mudhari’ tunggal, memakai huruf ya’ di akhir kata) hanya sekali, yaitu QS. Azzumar (39) : 24. Pemakaian bentuk ini menyiratkan keinginan Allah SWT agar setiap individu mempunyai kontrol diri dalam setiap tindak tanduknya. Salah satu unsur yang diperlukan dalam membangun kendali diri tersebut ialah rasa takut pada adzab (siksa) Allah SWT) pada hari kiamat nanti. Secara naluriah, setiap manusia pasti mempunyai rasa takut. Nah, Sang pencipta menunjukkan kepada kita cara menyalurkan rasa takut tersebut secara sehat.

Bentuk lainnya ialah Yattaquuna (mereka bertakwa, bentuk mudhari’ jamak). Kata ini diulang sebanyak 18 kali, dengan komposisi terbanyak ada pada surah Alan’am (6), termasuk golongan surah Makkiyyah. Penggunaan kata ini lebih banyak menempatkan takwa sebagai sebuah “nilai ideal” bagi  seorang muslim secara berjama’ah. Dengan kata lain, Allah SWT memposisikan takwa sebagai “target” dari varian (jenis) ritual yang diwajibkan pada para hambaNya. Nah, Salah satu dari ritual tersebut-yang tak lama lagi akan kita lakukan bersama- yakni puasa.

Tak jauh beda dengan bentuk ini kata Tattaquuna (kalian bertakwa, bentuk mudhari’ jamak langsung) diulang sebanyak 19 kali. Surah Assyu’ara’ sebagai surah yang paling banyak memakai kata ini. Kata ini dipakai oleh surah yang berarti para penyair tersebut untuk menceritakan seruan para Nabi dan Rasul dalam meyampaikan risalahnya. Simak contohnya, “Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka:"Mengapa kamu tidak bertaqwa? (QS. 26:106)

Selain sebagai target, pemakaian kata ini juga menyiratkan bagian dari mission sacre diutusnya para Nabi dan Rasul.

Masih dalam bentuk mudhari’ ialah kata Tattaquu (kalian bertakwa, bentuk mudhari’ jamak langsung namun dalam posisi dihilangkan huruf nun secara gramatikal). Kata bentuk ini terulang sebanyak 11 kali dengan surah Ali Imran (3) sebagai surah yang paling terbanyak menyebut bentuk ini. Berbeda dengan bentuk normalnya (tattaquuna), penggunaan kata ini lebih banyak mengesankan sebagai sebuah syarat tercapainya sesuatu. Mirip pemakaian kata “ittaqa” di atas. Misalnya, “…dan jika kamu beriman dan bertaqwa, maka bagimu pahala yang besar. (QS. 3:179).

Bentuk mudhari’ terakhir yaitu Yattaqi, seseorang (sedang dan akan) bertakwa, tanpa huruf ya’ diakhir karena sebab yang bersifat nahwi (gramatikal). Kata dalam bentuk ini terulang sebanyak 6 kali dan didominasi oleh surah Atthalaq. Pemakaian bentuk ini lebih banyak diawali huruf man (barangsiapa, siapasaja). Menyiratkan “woro-woro” atau pengumuman kompetisi yang diperuntukkan kepada setiap individu untuk selalu menjalankan “up grade” takwanya dengan imbalan “reward” tertentu.

Sejalan dengan makna ini, kata falyattaqu  (bentuk mudhari’ jamak yang berarti perintah sebab didahului oleh huruf lam amr (huruf yang berarti perintah) yang terdapat pada QS. Annisaa (4) : 9 yang hanya sekali disebut dalam Alquran.

Setelah bentuk madhi dan mudhari’ dari kata takwa, tiba giliran bentuk amr (perintah). Rinciannya : kata Ittaqi (bertakwalah, bentuk amr tunggal), terulang sebanyak 3 kali, yaitu QS. Albaqarah (2) : 206, Al Ahzaab (33) : 1 dan 37.  Pemakaian bentuk perintah takwa secara pribadi yang tidak banyak ini seakan-akan mengesankan bahwa ketakwaan tercapai secara maksimal bila seseorang tidak bersikap individual. Dengan kata lain, seorang muslim harus mempunyai keshalihan sosial dan saling berwasiat dalam kebaikan dan kesabaran.

Hal tersebut diperkuat dengan pemakaian perintah takwa dalam bentuk jamak, Ittaquu , diulang 69 kali dalam Alquran. Posis pertama ditempati oleh surah Albaqarah (2) sebagai surah yang paling terbanyak menyebut bentuk ini, total 13 kali. Kedua, surah Al Maidah (5) sebanyak 12 kali, dan ketiga surah As Syu’ara (26) sebanyak 10 kali. Artinya didominasi oleh surah Madaniyyah yang memberikan pesan agar orang-orang muslim madinah selalu meningkatkan ketakwaan mereka kepada Allah SWT dan merapatkan barisan agar tidak mudah digoyahkan oleh musuh islam.

Bentuk lainnya, ialah kata takwa itu sendiri yang terulang sebanyak 17 kali. Boleh dikatakan, penyebaran kata ini merata dan tidak ada yang menonjol. Pengulangannya sebanyak 17 mengingatkan kita pada jumlah raka’at shalat yang didapatkan Nabi SAW dari perjalanan spiritual isra’ dan mi’raj. Surah Al Isra pun ditempatkan pada urutan ke-17 dalam jajaran surah Al Quran.

Sedangkan bentuk kata takwa yang ditujukan kepada kaum wanita secara khusus, hanya terdapat  2 kali. Yaitu kata Ittaqaitunna, kalian (wanita, istri Nabi SAW) bertakwa, bentuk madhi (kata kerja lampau) yang terdapat pada QS. Alahzaab (33) : 32, dan Ittaqiina, bertakwalah kalian (para wanita, istri Nabi SAW), bentuk amr (perintah) jamak wanita) pada surah yang sama ayat 55.

Perlu di ingat, bukan berarti kecilnya penggunaan kata takwa yang dikaitkan dengan kaum wanita menunjukkan hegemoni (dominasi) kaum pria atau bias jender, tetapi lebih dari itu, Alquran sangat “cerdas dan selektif” dalam memilih kata yang ditujukan pada lawan bicaranya.

Sebagaimana diketahui, bila Alquran memakai kata tertentu yang mengandung jender maskulin (mudzakkar, pria) dan tidak disertakan kata yang sama yang mengandung jender feminin, maka “hampir” dapat dipastikan termasuk di dalamnya kaum wanita, tidak berlaku sebaliknya. Sebab, ada beberapa hal yang bersifat kodrati semisal kata Tabarruj, pada QS. Alahzaab (33) :33, “…janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperorang-orang Jahiliyah yang dahulu…” . Tabarruj yang berarti berdandan (make up) selalu identik dan menyatu pada kaum wanita. Aneh kedengarannya, bila pria bersolek layaknya kau wanita. Maka, jangan heran bila larangan pada ayat tersebut diperuntukkan khusus kepada mereka kaum wanita. Semoga bermanfaat…

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00