Simbol dan Rahasia Haji yang Mabrur

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Simbol dan Rahasia Haji yang Mabrur

Nusantaramengaji,com - Ibadah haji merupakan kewajiban kelima dari rukun Islam yang harus dilakukan oleh umat islam. Ia seperti empat sehat lima sempurna bagi nutrisi badan. Dengan berhaji lengkap sudah rukun islam yang diwajibkan atas kaum muslimin. Namun dalam melaksanakan kewajiban haji ini ada syarat tertentu yang perlu dilakukan, yaitu kemampuan lahir dan batin dalam melaksanakannya. Maksudnya adalah kewajiban haji hanya dibatasi bagi orang-orang mampu secara bekal maupun kendarannya, serta sehat dan kuat jasmaninya untuk pergi ke tanah suci mekkah. Bagi yang tidak mampu materi maupun immateri maka tidak ada kewajiban terhadapnya.

Menurut Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam kitabnya Sirrul Asrar, Haji itu ada dua, yaitu; haji syariat dan haji tarekat/ hakekat. Haji syariat ialah melakukan ibadah haji ke Baitullah dengan melaksanakan syarat­syarat dan rukun-rukunnya, sehingga menghasilkan pahala haji. Bila ada yang kurang dari syaratnya, maka kurang pula pahala hajinya karena Allah SWT memerintahkan kita untuk menjalankan haji yang sempurna. Allah SWT berfirman dalam suarh Al Baqarah ayat 196;

 

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّه

"Sempumakanlah haji dan umrah karena Allah….. "

Syarat-syarat haji syariat adalah pertama ihram, kemudian memasuki kota Makkah, lalu Tawaf Qudum, wukuf di Arafah, menginap di Muzdalifah, menyembelih hewan kurban di Mina, masuk ke Tanah Haram, tawaf keliling Ka'bah tujuh kali, minum air Zam-zam, shalat sunah tawaf di Maqam Ibrahim kekasih Allah SWT, kemudian melakukan Tahallul dari pekerjaan yang dilarang di waktu ihram seperti berburu dan lain-lainnya. Selanjutnya, melakukan tawaf wada'. Semoga Allah SWT menganugerahkan kita ke­mampuan untuk melaksanakannya dan kembali ke negerinya masing-masing

Pahala bagi haji syariat ini adalah selamat dari neraka dan aman dari siksa Allah. Sebagaimana Firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 97;

 

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا

"…….Orang yang masuk ke Baitul/ah (beribadah haji), maka ia akan aman….."

Sedangkan haji hakekat yaitu; bekal dan kendaraannya adalah kecenderungan kalbu kepada ahli talqin, lalu mengambil talqin darinya. Selanjutnya, membiasakan dzikir dengan lisan serta menghayati maknanya, yang dimaksud dengan dzikir di sini ialah mengucapkan kalimat La Ilaha Illallah dengan lisan hingga hatinya hidup. Selanjutnya, menyibukkan diri dengan berdzikir kepada Allah SWT dalam batin, hingga hatinya menjadi bersih.

Tata cara dzikir tersebut adalah pertama-tama dengan melazimkan Asma Ash-Shifat (nama-nama sifat Allah). Tujuannya adalah agar dengan cahaya-cahaya Asma Ash-Shifat muncul Ka'bah Sirri. Sebagaimana perintah Allah SWT pertama kali kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail untuk membersihkan Ka'bah. Dia berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 125 yang artinya;

"…Agar engkau berdua membersihkan rumah-Ku bagi orang-orang yang datang bertawaf"

Ka'bah lahiriah ini dibersihkan bagi orang-orang yang bertawaf dari kalangan makhluk. Sedangkan, Ka'bah batiniah (Ka'bah Sirri) dibersihkan dari semua hal selain Allah SWT agar dapat melihat-Nya. Yang dimaksud dalam ka’bah sirri adalah kalbu kaum muslimin.

Selanjutnya, memakai pakaian ihram dari cahaya Ruh Al-Qudsi kemudian masuk ke dalam Ka'bah Hati. Lalu, tawaf qudum dengan melazimkan nama yang kedua, yaitu lafadz jalalah, "Allah."

lalu, berangkat ke Arafah Kalbu sebagai tempatnya munajat. Di sana, lantas wukuf dengan me-mulazamah-kan nama yang ketiga, yaitu "Huwa" (Dia, Allah); dan nama yang keempat, yaitu "AI-Haqqu" (Yang Maha Benar).

Selanjutnya, berangkat ke Muzdalifah AI-Fu'ad dengan membiasakan sifat kelima dan keenam, yaitu "Al-Hayyu" (Yang Maha Hidup), dan "AI-Qayyumu" (Yang Ada dengan Sendirinya). Lalu, berangkat ke Mina Sirri (rasa) yang terletak antara dua Haram (dua daerah), lalu wukuf di sana.

Selanjutnya, menyembelih nafsu muthma'innah dengan melazimkan nama yang ketujuh, yaitu "AI-Qahhar" (Yang Maha Memaksa) karena "AI-Qahhar" adalah "ismul fana'" (nama peleburan) yang mengangkat hijabul kufri (penghalang yang bernama kekufuran). Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Kufur dan Iman adalah dua tempat di belakang 'Arasy. Kedua­duanya merupakan penghalang antara hamba dengan Tuhannya. Salah satu hitam dan yang lainnya putih. "

Selanjutnya, memotong rambut sifat basyariyah (kesenangan manusiawi) dari kepala Ruh Al-Qudsi dengan menggunakan Asma Allah yang kedelapan (AI-Wahhab). Selanjutnya, masuk ke Haram Sirri dengan melazimkan Asma Allah yang kesembilan (Al-Fattah) hingga sampailah pada tempat dimana ia bisa melihat orang-orang yang sedang beriktikaf di hamparan Alam Al-Qurbah. Dan, di sana ia bermesraan (unsiyah) dengan me-mulazamah-kan Asma Allah yang kesepuluh (Al-Wahid). Lalu, ia melihat keindahan Allah yang Maha Suci dan Maha Agung tanpa bisa ditanyakan kondisinya bagaimana? Dan tidak dapat pula diumpamakan.

Selanjutnya, melakukan tawaf batin tujuh putaran dengan melazimkan nama yang kesebelas (Al-Ahad). Nama yang kesebelas ini disertai dengan enam nama-nama cabang dan selanjutnya meminum minuman batin dari tangan AI-Qudrah. Allah SWT berfirman surah Al Insan ayat 21;

وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا…………………………………

"Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih (dan suci)."

Allah SWT memberi minum dari gelas Asma-Nya yang kedua­ belas (Ash-Shamad). Kemudian, orang itu akan diangkat Dzat yang Maha Kekal dan Maha Suci dari perumpamaan; hingga ia melihat kepada Allah dengan Nur Allah. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah SWT dalam Hadis Qudsi, "Sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan mata," yakni pertemuan dengan Allah, "tidak dapat didengar dengan telinga" yaitu Kalamullah yang tanpa huruf, tanpa suara dan tanpa perantara, "dan tidak terbesit pada kalbu seorang manusia," yaitu nikmatnya rasa melihat dan berkenalan dengan Allah SWT.

Selanjutnya bertahallul dari yang diharamkan Allah SWT. Artinya, menukar sifat buruk dengan sifat yang baik dengan selalu mengulang-ulang Asma Tauhid. Ini sesuai firman Allah dalam surah Al Furqan ayat 70;

"Kecuali orang-orangyang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan."

Lalu, melepaskan diri dari melakukan perbuatan yang bersifat hawa nafsu. Setelah itu, seseorang tidak akan merasa khawatir dan bersedih hati. Sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah SWT dalam surah Yunus ayat 62;

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati." Semoga Allah SWT menganugerahkan kita kemampuan untuk mendapatkannya dengan keutamaan-Nya dan kasih sayang serta kemuliaan-Nya.

Kemudian, melaksanakan Tawaf Shadri dengan mengulang-ulang seluruh asma tauhid. Lalu, pulang ke Negeri Asal masing-masing, yang ada di Alam Al-Qudsi dalam rupa yang sebaik-baiknya dengan membiasakakan asma Allah SWT yang kedua belas. Nama yang kedua belas ini sangat berkaitan dengan Alam AI- Yaqin. Ini adalah takwil yang beredar di sekitar lisan dan akal saja, Adapun hal-hal lain yang ada di balik itu, tidak akan dapat diberitakan karena tidak akan terkejar oleh pemahaman, kalbu dan tidak akan dapat dibahas. Sebagaimana sabda Nabi SAW Riwayat Ad-Dailami;

"Di antara ilmu itu ada yang seperti mutiara di dalam kerang, hanya ulama-ulama khusus yang mengetahuinya. Jika mereka membicarakannya, tidak akan ada yang mengingkarinya kecuali orang yang tidak tahu."

Seorang ahli makrifat hanya akan menyampaikan hal-hal yang lebih rendah dari yang disebutkan tadi. Sedangkan, orang alim akan berbicara lebih tinggi dari yang dibicarakan tadi, karena ilmu ahli makrifat adalah sirrullah. Selain Allah SWT, tidak ada yang mengetahuinya. Ini yang dimaksud dalam firman Allah SWT dalam surah Al Baqarah ayat 255;

"Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya."

Maksud yang dikehendaki pada ayat di atas adalah para nabi dan para wali. Dan, Allah SWT berfirman seperti dalam firmannya yang lain dalam surah Thaha ayat 7-8; yang  berbunyi;

فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى  اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى …….

"Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. (Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai nama-nama yang terbaik."

Demikianlah penjelasan haji secara tarekat/hakekat menurut syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam salah satu kitabnya yang berjudul sirrul asrar. Beliau menjelaskan haji syariah sebagai simbol-simbol tuk menuju Allah tapi pada hakekatnya yang lebih penting adalah melihat haji sebagai tahapan-tahapan spiritual menuju Allah dengan hati sebagai ka'bah dzikir. Beliau menyarankan tuk membiasakan/melazimkan beberapa dzikir hingga sampai kepada Allah dalam bentuk yang tak dapat digambarkan dan dirasakan dalam rupa-rasa apapun. inilah makna simbolik dari haji yang mabrur dimana hati menjadi pusat yang selalu dikelili dzikir sirri kepada Allah seperti halnya ka'bah yang dikelilingi jutaan manusia untuk beribadah kepadanya.  Wallahu A’lam Bissowab. (NM)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00