Sedekah Membawa Berkah

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Sedekah Membawa Berkah

Nusantaramengaji.com - Salah satu ajaran Islam yang memiliki dimensi sosial tinggi adalah bersedekah. Sedekah adalah istilah serapan dari bahasa Arab (Shadaqoh) yang mengandung arti pemberian dari seorang Muslim kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan pahala dari Allah swt. Pemberian itu bisa berupa barang, jasa atau berkaitan dengan suatu aktivitas manusia untuk manusia lain bahkan tersenyum pun dapat disebut sedekah. Hal ini didasarkan kepada beberapa hadist dari Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa senyum yang tulus itu bagian dari sedekah, menampakkan wajah ceria juga sedekah, atau menyingkirkan halangan dari jalan juga bagian dari sedekah. Jadi, apapun itu jika berupa kebaikan bagi orang lain maka hal tersebut dapat disebut sedekah.

Sedekah merupakan amal shaleh yang diperintahkan oleh Allah SWT. Dimana orang yang bersedekah akan dibalas dengan balasan yang tak ternilai disisi Allah SWT. Kadangkala balasan itu sama dengan, atau melebihi sedekah yang kita berikan kepada orang lain. Tetapi yang pasti Allah akan membalas setiap harta yang kita keluarkan berupa pahala yang besar kecilnya hanya Allah yang tahu.

Dalam surah AL Baqarah ayat 261 Allah SWT berfirman;

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Ayat tersebut menunjukkan keutamaan bagi orang yang berinfaq/bersedekah di jalan Allah. Yang dimaksud dengan jalan Allah adalah semua jalan kebaikan dimana Allah akan memalas semua kebaikan dilakukan atau diberikan seseorang terhadap orang lain baik berupa materi atau non materi. Tujuan Allah menyampaikan  keutamaan sedekah ini adalah untuk memotivasi kaum Muslim agar gemar bersedekah.

Dapatlah kita bayangkan betapa dahsyatnya jika umat islam “mewajibkan” bagi dirinya untuk selalu bersedekah walau hanya sebarat biji zarrah atau hanya dengan wajah yang selalu ceria. Dengan sedekah akan banyak umat manusia yang tertolong dari kemiskinan dan menghindarkan dari tindak kejahatan karena kesulitan ekonomi serta masih banyak kemanfaatan yang dapat diambil dari ajaran dan anjuran bersedekah ini.

Syaikh Ibnul Qayyim mengatakan bahwa untuk sedekah itu ada jejak yang mengagumkan dalam menolak beragam bala’/ujian meskipun itu dilakukan oleh pendosa, orang zalim bahkan orang kafir sekalipun. Artinya, Allah akan menghindarkan seseorang, dengan sedekahnya, dari beragam bala’/ujian dan hal ini sudah merupakan perkara ma’lum yang diketahui para ulama dan masyarakat umum.  

Di antara dahsyatnya bersedekah ini, menurut para ulama, adalah dapat diniatkan atau dijadikan wasilah untuk memenuhi semua hajat. Misalnya, bersedekah untuk kesembuhan orang yang sedang terkena penyakit dalam arti sedekahnya dijadikan wasilah untuk mendapatkan kesembuhan dari Allah dari segala macam penyakit.

Hal tersebut boleh dialkukan karena setiap kebaikan dalam bentuk apapun dapat dijadikan wasilah untuk menunaikan hajat bagi pelakunya seperti banyak tercantum dalam nash-nash Al Qur’an maupun hadis. Seperti kisah dalam hadis dari riwayat Ibnu Umar tentang tiga manusia yang terjebak dalam gua yang kemudian berwasilah dengan kebaikan-kebaikan mereka supaya pintu gua terbuka.

Demikian pula dengan bersedekah yang diniati untuk menyembuhkan penyakit sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW, beliau bersabda;

دَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ؛ فَإِنَّهَا تَدْفَعُ عَنْكُمُ الْأَمْرَاضَ؛ وَالْأَعْرَاضَ

"Obatilah orang-orang sakit kalian dengan bersedekah karena sesungguhnya sedekah dapat menolak segala penyakit fisik dan non fisik".

Menurut Syaikh Abdurrahman Al Munawi dalam kitabnya Faidhul Qadir, ketika menjelaskan makna hadis ini,  menyebutkan bahwa Rasulullah SAW dulu mengobati penyakit dengan 3 macam  cara, yaitu; dengan obat biasa, dengan obat ilahiyah dan salah satunya dengan  sedekah ini dan dengan gabungan antara obat biasa dengan obat ilahiyah.

Bersedekah  ketika lagi ada hajat hukumnya sunnah, orang-orang khusus bersedekah  terlebih dahulu sebelum menyampaikan hajatnya kepada Allah, seperti hajat mereka untuk menyembuhkan orang-orang sakit, tetapi hal ini tergantung ukuran besar kecil penyakitnya, bahkan ketika mereka hendak menyembuhkan orang yang tidak bisa membuka matanya maka mereka memberikan sesuatu yang tidak  diketahui oleh seorangpun.

Orang-orang yang faham tentang  Allah ('Arif Billah), ketika mereka mempunyai hajat dan berharap segera tercapai hajatnya, seperti kesembuhan dari penyakit maka mereka memerintahkan untuk membuat makanan dari daging kambing yang sempurna kemudian mengundang orang-orang  fakir miskin.

Ada juga sebagian ulama' yang berpendapat untuk mensedekahkan barang yang paling berharga miliknya ketika ada orang yang paling penting baginya sedang sakit. Mereka tidak segan-segan demi hajatnya tercapai mensedekahkan harta miliknya yang paling bernilai seperti budak atau kuda, dan lain-lainnya  kepada fakir miskin.

Namun demikian, amal sedekah itu harus tetap diniatkan semata karena mengharap ridha dan rahmat Allah SWT dan sedekah itu hanya wasilah untuk terkabulnya niat. Biarlah Allah yang membalas sedekah itu tanpa kita  pertanyakan kapan Allah membalas amal itu dan dalam bentuk apa karena Allah lebih mengetahui kebutuhan kita dan yang terbaik buat kita.

Pemahaman bahwa Allah akan mengganti harta yang disedekahkan dengan harta yang berlipat ganda atau dengan maksud dan tujuan lainnya, jangan dijadikan tujuan utama ketika hendak bersedekah. Karena kebanyakan dari manusia sering ragu kepada Allah SWT sehingga amal sedekahnya menjadi tidak ikhlas jika balasan itu tak kunjung datang.

Oleh karena itu, agar amal shaleh sedekah diterima oleh Allah SWT adalah niatnya harus benar karena Allah dan tanpa menyebut-nyebut atau bahkan samapai menyakiti si penerima (bil Manni wal Adza). Artinya, bersedekah harus tetap dalam koridor ikhlas karena Allah bukan karena riya’ sehingga kita perlu menyebut-nyebut dan menghina si penerima dengan kata-kata yang menyaitkan. Di samping itu, bersedekah dengan memenuhi hajat seperti yang anjurkan ulama tetap dalam konteks sebagai wasilah kebaikan demi tercapainya tujuan tersebut namun niatnya harus tetap ikhlas karena Allah semata bukan karena yang lainnya. Wallahu a’lam Bisshowab. (Lutfi Syarqawi)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00