Santri dalam Pusaran Gelombang Globalisasi

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Santri dalam Pusaran Gelombang Globalisasi

Nusantaramengaji.com -  Tanggal 22 oktober merupakan salah satu momen sejarah penting dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan republik Indonesia. Pada tanggal ini sejarah mencatat tentang perjuangan hebat yang dilakukan oleh umat islam, khususnya para santri dan kyai dalam merebut kemerdekaan dari sekutu yang ditunggangi belanda. Peristiwa tersebut menjadi medan jihad fisabilillah dalam rangka mengusir penjajah dari bumi pertiwi sampai meletusnya perang besar pada 10 November yang menggetarkan dan mengorbankan banyak kaum santri dan kyai dari pesantren.

Tak banyak buku-buku sejarah yang ditulis tentang latar belakang munculnya semangat perlawanan santri dan kyai bahkan hampir tak terdengar riwayat fatwa dan resolusi jihad yang melatari peristiwa 10 November tersebut. Penulis sejarah seolah abai akan peran santri dan kyai dalam mencetuskan perang kemerdekaan padahal kaum santri dan kyai banyak yang terbunuh dalam peristiwa yang menggiriskan itu. Artinya, banyak sekali sumbangsih pesantren dalam perang kemerdekaan yang harus menjadi perhatian semua pihak dari dulu sampai sekarang.

Sejarawan Ahamd Mansur Suryanegara dalam bukunya “Menemukan Sejarah” mengatakan bahwa pesantren bukan hanya lembaga Pendidikan semata, namun merupakan lembaga untuk penyemaian kader-kader pemimpin rakyat sekaligus sebagai wahana rekrutmen prajurit suka rela yang memiliki keberanian rohani yang tinggi karena di batin ditanamkanajaran jihad fi sabilillah untuk membela agama, negara dan bangsa (Suryanegara; 238). Pernyataan ini membuktikan tidak sedikit peran pesantren dalam melahirkan kader-kader unggul yang siap selalu dalam membela tanaha air .

Oleh karena itu, keputusan presiden no 22 tahun 2015 tentang Hari Santri Nasional menjadi sangat logis dan mudah diterima. Dalam butir-butir keputusan disebutkan bahwa para santri dan kyai di pondok pesantren memiliki peran besar dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Maka untuk mengenang, meneladani dan melanjutkan peran santri perlu ditetapkan Hari Santri pada 22 Oktober tersebut. Jadi, Hari Santri sejatinya menjadi momen peringatan bagi seluruh elemen bangsa akan peran santri dan pesantren dalam melawan setiap bentuk penjajahan dan kezaliman bahkan hingga saat ini.

Dari Fatwa ke Resolusi Jihad

Pada tanggal 17 September 1945, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihad fi sabilillah dalam membela tanah air dan dalam radius 80 km semua warga diwajibkan berjihad melawan agresi kedua belanda bersama pihak sekutu. Fatwa ini merupakan penjelasan atas pertanyaan Soekarno yang memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam. Selanjutnya pada tanggal 22 Oktober PBNU melakukan rapat konsultasi se-jawa dan Madura lalu lahirlah Resolusi Jihad sebagai penguat dari fatwa jihad dari Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari sebelumnya untuk melawan agresi belanda.

Resolusi jihad inilah yang kemudian menjadi penggerak utama munculnya perlawanan sengit kaum santri terhadap agresi kedua belanda dan sekutunya di Surabaya.  Dua laskar yang dibentuk yaitu Hizbullah dan Sabilillah tanpa kenal takut menghantam hancur lebur pasukan sekutu sehingga mereka menyerah dan mengakui kemerdekaan republik Indonesia.

Semangat jihad membela tanah air ini seharusnya yang selalu perlu ditanamkan kepada generasi muda dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan tentunya dalam konteks yang berebeda. Bukan jihad dalam pengertian teroris yang cenderung penuh kekerasan dan pembunuhan tapi jihad dalam arti saling berlomba dan bersungguh-sungguh dalam membangun negeri dengan prestasi masing-masing atau berlomba-lomba dalam kebaikan.

Kaum santri pada saat ini bukan lagi dihadapkan pada penjajahan fisik dan moncong senjata seperti masa lalu tapi pada penjajahan kultural yang dibawa arus deras globalisasi yang semakin lama tidak terkontrol oleh apapun. Globalisasi bergerak seperti hantu yang diam-diam merasuki jiwa-jiwa generasi muda yang terlelap untuk kemudian menariknya pada eforia dan hedonism sehingga jauh dari prestasi.

Globalisasi menyempitkan dan menghapus batas territorial suatu negara, agama dan budaya sehingga menjadikan umat manusia menjadi satu dimensi. Satu dimensi ini bernama kapital atau kapitalisme. Kapitalisme ini merayap seperti ular dan memasuki ruang-ruang gelap peradaban manusia dan meyergapnya dengan lilitan uang dan kerakusan akan materi. Realitas ini memaksa suatu bangsa atau negara bahkan manusia yang kapitalnya sedikit harus tunduk dan patuh pada negara dengan kekuasaan capital yang lebih besar tak terkecuali orang yang beragama. Banyak manusia yang pada lahirnya meyembah Tuhan tapi pada aspek batinnya sangat memuja uang/Kapital sehingga tidak mengheranka jika ada pengkhotbah yang menjual agama untuk kepentingan pribadi atau golongannya.

Globalisasi dan kapitalisme seolah dua saudara kembar yang selalu berjalan beriringan, pesonanya banyak menarik generasi muda untuk memujanya sehingga tidak aneh banyak kalangan muda yang terlena dengan kesenangan lahiriyah dan setelah dewasa menjadi budak bangsa asing sehinga rela menjual  aset-aset negara untuk memuaskan kepentingannya sendiri. Untuk mengubah realitas seperti ini tidak cukup hanya dengan doa-doa antar majlis meskipun ini juga penting tapi yang lebih penting adalah dengan menciptakan revolusi mental dan spiritual berupa prestasi dan kreasi untuk negeri.

Dimulai dari Pesantren

Globalisasi diakui atau tidak dapat mengikis rasa cinta tanah air (nasionalisme). Menurunnya rasa cinta tanah air belakangan ini bisa jadi merupakan efek dari globalisasi yang menghapus batas-batas negara dengan pesona kemajuanya baik dalam bidang sains maupun tekhnologi. Orang tidak perlu lagi harus bertemu muka jika ingin berkomunikasi dan semua orang dapat mengetahui kondisi sebuah negara lain di dunia hanya dengan satu sentuhan tangan dengan layar mini. Merupakan tugas pemerintah untuk memberikan pendidikan secara khusus bagi generasi muda untuk membendung efek buruk dari globalisasi serta mengambil efek baiknya. Globalisasi memang tak bisa dilawan tapi dapat dimanfaatkan sebaik mungkin menciptakan generasi milenial yang tidak hanya pintar dalam ilmu pengetahuan tapi juga memeiliki iman dan akhlak kuat dan kokoh sehingga ia tidak mudah terombang ambing oleh keadaan.

Beban peradaban ini hanya mungkin dilakukan oleh kaum santri di pesantren. Pesantrenlah yang paling siap lahir dan batin dalam mendidik generasi muda yang siap berdaya saing tinggi dengan negara-negara lain. Santri yang selama ini hanya akrab dengan sarung, terkesan apa adanya ternyata dalam panggung sejarahnya telah banyak melahirkan tokoh-tokoh besar kemerdekaan dan mengisinya dengan hal-hal yang hebat dan berguna bagi bangsa ini. Dua tokoh penting belakangan semisal Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Nurkholis Madjid (Cak Nur), adalah sosok santri-pemikir yang kontribusinya sangat nyata bagi kemajuan peradaban bangsa ini.

Hal tersebut menunjukkan betapa kaum santri sangat poensial untuk diajak bekerja sama untuk membangun nagari. Tampaan mental maupun spiritual selama bertahun-tahun di pesantren menjadi mudal utama untuk tidak mudah terjebak dalam pusaran globalisme dan kapitalisme. Mereka sudah cukup terdidik dalam asuhan sang kyai yang berpengalaman tentang warna-warni kehidupan yang penuh bahaya. Melalui riyadhoh/olah batin yang kuat serta bimbingan agama yang benar dan terukur sangat minimal bagi santri dapat melakukan penyimpangan secara moral maupun spiritual.

Oleh karena itu, Pendidikan itu harus dimulai dari pesantren. Dari dulu pun pesantren selalu merupakan benteng utama dalam mempertahankan kemerdekaan. Di dalamnya para santri diajarakan untuk cinta agama dan cinta tanah air. Pengajaran islamnya adalah Islam rahmatan lil ‘Alamin yang menekankan pada keutamaan akhlak dan menjauhi kekerasan. Materi-materi yang diajarkan tidak melulu agama tapi juga ilmu-ilmu lain yang dapat menunjang kemajuan. Pesantrenlah tempat membangun karakter bangsa di masa depan. Tanpa Pendidikan model pesantren sudah terbukti banyak generasi muda jatuh pada pergaulan bebas, pecandu narkoba dan perkelahian antar siswa. Karakter ingin bebas yang menjadi kecenderungan anak muda dengan mudah ditundukkan dan diarahkan menjadi hal-hal yang positif di pesantren.

Pembangunan pesantren dengan demikian membutuhkan peran serta pemerintah dalam menciptakan generasi melinial yang handal dan profesional. Situasi pesantren yang selama ini terstigma kumuh dan jauh dari kebersihan dapat diubah oleh peran pemerintah membantu pembangunan di pesantren. Hal ini tidaklah berlebihan bahwa mengingat kaum santri dan kyai sudah jelas terbukti kesetiaanya terhadap NKRI dan siap berada digarda depan bagi siap saja yang mencoba mengganggu dan menghancurkannya.

Harapan lainnya adalah dengan Pendidikan yang dimulai dari pesantren dimaksudkan tercipta genenerasi milenial yang tangguh dalam menghadapi gempuran globalisasi yang ditunggangi kapitalisme sehingga generasi muda di masa depan tidak jatuh pada hingar bingar pesta pora dan eforia kesenangan yang tanpa batas karena kesalahan memahami makna kemajuan. Bagi generasi salah paham ini yang dipentingkan hanya asesoris lahiriyah semata tapi banal dalam hal kesadaran dan pengetahuan. Generasi muda seperti ini sangat diperlukan ruang khalwat untuk mendidik jiwa dan batin mereka agar menyadari diri sebagai anak bangsa yang dibutuhkan negara di masa mendatang dan Pendidikan tersebut hanya mungkin ada di dunia pesantren. Karena pesantren merupakan sarana paling tepat untuk menyelamatkan generasi muda dari amuk gelombang globalisasi yang makin tak terbendung ini.

Dalam sebuah syairnya Syubbnaul Wathan, Kyai Wahab Chasbullah mengatakan;

Wahai anak bangsa..

Cinta tanah air adalah sebagian dari iman

Jangan sampai engaku tertinggal

Bangkitlah, wahai penduduk negeri

Indonesia negeriku…

Engkau adalah panji martabatku

Barangsiapa mendatangimu, kapan saja

Dengan mengancammu, maka akan binasa..

“Selamat Hari santri 22 Oktober 1945-2017”.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00