Salat di Kendaraan Saat Macet

Sahabat Nusantara Mengaji. Bagi saudara kita yang tinggal di kota besar seperti Jakarta misalnya, tentu memahami betul bagaimana kondisi jalanan ibukota. Terutama di waktu-waktu tertentu saat berangkat dan pulang kerja. Jakarta adalah ibukota kemacetan. Kira-kira demikian benak kita bergumam.  Maka tak heran bila jarak tempuh normal sebenarnya cukup ditempuh dalam waktu 30 menit, namun di prime time macet itu bisa saja waktu tempuh mencapai 2 jam, bahkan lebih. Sungguh menyita waktu bukan? Apalagi tiba azan maghrib, sedang posisi kita di tengah kemacetan.

Bagi saudara kita yang menggunakan kendaraan pribadi, tentu mudah untuk berhenti sejenak di masjid. Namun terkadang masih saja merayap di tengah jalan tol, bak siput yang berjalan sambil ngantuk-ngantuk. Apalagi pengguna kendaraan umum. Ia harus menyesuaikan dengan rute tempat pemberhentian kendaraan. Dan sering kali waktu salat lewat, sedang penumpang belum tiba di tempat pemberhentian atau tujuan. Maju kena, mundur pun kena. Lalu apa solusinya bagi kita yang ingin menunaikan kewajiban salat?

Kali ini Nusantara Mengaji membagikan dua tips cara melaksanakan salat dalam kendaraan dan situasi jalanan macet. Yuk simak berikut.

 Pertama, salat bisa kita lakukan di kendaraan. Namun maaf, cara pertama ini bukan untuk pak Supir.

  1. Duduk tegak di kursi kendaraan menghadap ke depan.
  2. Niat salat.
  3. Mengangkat kedua tangan sambil mengucapkan takbiratul ihram.
  4. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri (bersedekap), membaca doa iftitah, membaca surah al-fatihah, diteruskan surah yang lain.
  5. Ruku dengan cara membungkuk sedikit.
  6. I’tidal dengan cara mengangkat kedua tangan, punggung tegak lurus.
  7. Sujud dengan membungkukan badan lebih rendah dari ruku.
  8. Duduk diantara dua sujud dengan cara posisi duduk sempurna, punggung tegak lurus.
  9. Sujud dengan cara sama seperti no.6.
  10. Kembali ke nomor 3-8 untuk rakaat berikutnya.
  11. Tahiyat akhir. Duduk sempurna tangan di atas lutut.

Cara di atas berdasarkan kitab Al-Majmu’ Syarah Muhadzab, jilid 3 halaman 242. Dikitab tersebut Imam Nawawi menerangkan:

“Apabila waktu salat wajib/fardhu tiba, dan dia takut kalau turun dari kendaraan untuk salat di tanah dan menghadap kiblat akan membuatnya terputus dari teman (rombongan)-nya; atau takut keselamatan jiwanya; atau takut keselamatan hartanya, dia tidak boleh meninggalkan salat dan keluar dari waktu salat. Maka dia boleh melakukan salat di atas kendaraan untuk menghormati waktu (li hurmatil waqti) dan dia wajib mengulangi (mengqadha) salatnya karena itu merupakan udzur yang jarang terjadi.”

 Kedua, kita boleh juga menjamak salat dalam kondisi yang sangat sulit (masyaqqah). Meskipun sebenarnya belum masuk kategori jarak yang membolehkan untuk jamak dan qashar salat sebagaimana musafir. Adapun macet termasuk salah satu kondisi yang sangat sulit (masyaqqah). Cara kedua ini tentu pak supir bisa lakukan. Tentu setelah parkir kendaraan.

Disebutkan dalam Kitab Bughyatul Mustarsyidin karya Sayyid Abdurrahman bin Muhammad al-Hadramy hal. 77 sebagai berikut :

“Kami berpendapat boleh menjamak salat bagi orang yang menempuh perjalanan singkat yang telah dipilih oleh Syekh Al-Bandaniji. Sebuah hadis dengan jelas memperbolehkan melakukan salat jamak bagi orang yang bukan musafir sebagaimana yang tercantum dalam Syarah Muslim. Al-Khatthabi menceritakan  dari Abu Ishak tentang bolehnya menjamak salat dalam perjalanan singkat karena suatu keperluan atau hajat meskipun tidak dalam kondisi keamanan terancam, hujan lebat, dan sakit. Ibnul Munzir juga memegang pendapat ini.”

Berdasarkan dalil tersebut, maka kita boleh menjamak salat Maghrib dan Isya atau salat Dzuhur dan Ashar.

Ingat ya sahabat, tips ini berlaku jika dalam kondisi seperti di atas.  Namun, bila kita sudah memahami kapan jalanan penuh sesak dengan kendaraan, kemacetan di jalan hampir sama dengan penuhnya parkiran,  maka sebaiknya kita tunggu waktu salat tiba. Setelah salat barulah kita melakukan perjalanan. Ini adalah pilihan yang jauh lebih baik. Ternyata Islam memang agama yang mudah dan tidak menyulitkan. Semoga bermanfaat. (Nusantara Mengaji)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00