Sakralitas Lepas Sambut Haji dan Universalitas Islam

Oleh: Nashih Nashrullah

“Jika bergerak hatinya hendak berlayar di waktu si anu atau di kapal si anu, maka hendaklah lebih dahulu ia bersembahyang dua rakaat sunnatul istikharati lillahi ta’la.”

Kutipan di atas, adalah nukilan sederhana dari kitab klasik tentang tata cara berhaji  yang berjudul //Manasik Haji dan Umrah karangan mufti Betawi kala itu, yang hidup pada permulaan abad ke-19, Habib Usman bin Aqil bin Yahya. Ritual shalat dua rakaat itu, mempunyai filosofi yang sangat mendasar; berdoa memohon petunjuk kepada Allah SWT berangkat atau tidaknya ke tanah suci, Makkah.

Hal ini mengingat haji pada masa lalu, merupakan ibadah totalitas, yang tidak hanya membutuhkan persiapan bekal yang cukup, seperti materi dan makanan, akan tetapi juga aktivitas religi yang sangat dahsyat, mempertaruhkan segalanya, termasuk nyawa.

Sebelum Terusan Suez Mesir beroperasi, ungkap M Dien Majid dalam Haji di Masa Kolonial, perjalanan haji menggunakan kapal layar harus ditempuh dengan waktu yang lama. Perjalanan haji bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Waktu panjang itu tak lain untuk menyesuaikan arah angin yang menjadi penggerak utama kapal.

Belum lagi soal risiko besar di hadapan para jamaah haji tersebut. Mereka harus siap dengan kondisi alam yang tak ramah seperti ombak, badai, dan gelombang. Sejarah mencatat, insiden kecelakaan perahu yang mengangkut jamaah haji karam dan tenggelam akibat cuaca. Mereka, benar-benar mempertaruhkan nyawa! (Majid : 2008)

Saleh Putuhena dalam //Historiografi Haji Indonesia// menjelaskan para jamaah haji yang telah membekali diri dengan beragam persiapan dan telah mengantongi pas haji dari Hindia Belanda, prosesi utama yang tak akan mereka lewatkan adalah menentukan waktu pemberangkatan dan menggelar upacara pelepasan.

Nuansa ritual begitu kental dalam prosesi pelepasan jamaah haji. Tata cara dan bentuknya bermacam-macam sesuai dengan karakter dan corak keislaman serta persentuhan dengan kearifan lokal. Jika dipetakan, demikian pula dengan aspek dan dimensi di balik tradisi lepas sambut haji itu. Sangat beragam.

Ada yang hanya memiliki aspek transendental, terkait doa meminta keselamatan terhadap Sang Khaliq. Berkirim doa untuk keluarga yang telah meninggal dunia dan doa keselamataan jamaah haji. Sebagian lainnya membaca Barzanji, kitab yang berisi sejarah perjalanan Rasulullah SAW.

Dimensi sosialnya juga tak kalah menarik. Jamaah haji beberapa jam sebelum berangkat, selain bertaubat memohon ampunan kepada Allah, juga berkewajiban meminta maaf kepada seluruh keluarga, sanak, dan saudara yang hadir.

Selamatan

Termasuk tentu juga kepada para tetangga. Di sejumlah daerah, aspek sosial tradisi lepas sambut itu juga tampak dari keguyuban melangsungkan ritual selamatan. Selamatan di sini, pada dasarnya, adalah rangkaian dari prosesi lepas sambut itu sendiri.

Hanya saja, pemaknaan selamatan lebih diidentikan sebagai proses meminta doa keselamatan dengan dihadiri oleh tamu undangan dengan penyajian hidangan bagi para tamu.

Tradisi ‘selamatan’, dalam istilah Clifford Geertz, adalah ritual khas Nusantara yang berarti tidak ada apa-apa (ora ono opo-opo). Ritual ini digelar untuk mencari kesalamatan dalam berbagai momentum, entah yang terkait dengan eksistensi manusiawi, seperti kematian, kelahiran, atau peristiwa penting lain yang mempunya nilai sakralitas dan esensi budaya.

Tradisi selamatan dalam praktiknya dilakukan hampir disetiap kejadian yang dianggap penting oleh orang Jawa. Tidak hanya Jawa, di luar Jawa, sejumlah daerah seperti Kalimantan, sebagian Sumatera, dan Sulawesi, memiliki akar tradisi selamatan yang kuat. ( Geertz :1989)

Berbeda dengan Geertz yang meletakkan distingsi begitu kentara antara kaum abangan dan santri dalam tradisi selamatan, tetapi justru Mark R Woodward, menilai ada kekhasan tersendiri terkait Islam Jawa, terutama menyangkut varian abangan dan santri—dalam konteks ini, Woordward menelisik kasus Yogyakarta yang lebih inklusif—menyikapi selamatan.

Dalam pandangan Woodward, esensi dan tujuan pelaksanaan selamatan justru berangkat dari pembacaan dan penafsiran lokal atas nilai mistik yang sufistik dan bentuk ritual yang merujuk pada praktik yang dikaitkan dengan teladan Rasul pada masa awal Islam.

Memang, jika ditelusuri dalam tradisi selamatan lepas sambut dalam sejarah Islam, ada praktik yang memang hampir mirip dalam konteks ini, meski tidak secara spesifik terkait dengan haji.

Tradisi selamatan melepas dan menyambut mereka yang hendak bepergian, yang dalam istilah syar’inya, disebut dengan naqi’ah itu seperti tertuang dalam hadis riwayat Bukhari dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasul pernah menyembelih kambing atau sapi ketika tiba dari Madinah dan makan bersama sebagai wujud syukur.

Tradisi yang baik itu pun dipertahankan oleh generasi salaf. Sahabat Umar bin Abdullah, tak melewatkan kebiasaan yang sama. Ia mesti menangguhkan puasa sunatnya sehari, bertepatan dengan kedatangannya dari luar kota agar bisa mengikuti tradisi tersebut sekaligus memberikan penghormatan kepada para tamu.

Masih menurut Saleh, di sejumlah daerah, tradisi ini juga mengandung dimensi spiritual mistik sufistik. Dibantu oleh guru manasik, akan saling tarik menarik secarik kertas bertuliskan lafal Allah dan Muhammad. Prosesi tarik menarik kertas berbentuk persegi panjang itu bertujuan agar kelak jamaah haji bisa kembali bertemu kembali dengan keluarga.

Sedangkan pada proses penyambutan, secara garis besar, ‘sang haji’ akan mengisahkan pengalamannya ke para kerabat dan tetangga, biasanya, mereka enggan mengisahkan kegetiran-kegetiran selama di perjalanan, justru kisah yang dibeberkan adalah dinamika-dinamika haji yang bernuansa motivasi.  (Putuhena : 2007)

Eksis

Di tengah-tengah gerusan globalisasi dan perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi, tradisi lepas sambut jamaah haji ini masih bisa bertahan secara turun menurun. Masyarakat Madura, misalnya mengenal tradisi ini dalam tiga tahap yang berbeda, yakni sebelum keberangkatan, ketika sedang berada di tanah suci, dan pascakedatangan.

Selamatan yang mengundang kerabat, tetangga, dan tokoh masyarakat dengan jumlah yang fantastis tak sekadar berlangsung jelang keberangkatan, tetapi selama yang bersangkutan berada di tanah suci, keluarga di rumah melangsugkan doa bersama dengan pembacaan Alquran dan shalawat, tiap malam. Kegiatan ini bisa dihadiri puluhan hingga ratusan warga dengan sajian makanan dan berakhir hingga ‘sang haji’ datang.

Penyambutan juga tak kalah meriah, sang haji akan disambut layaknya tamu agung, meriah laksana mengarak pengantin baru. Warga berbondong-bondang mengiringi kedatangan mereka menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Serupa arak-arakkan kampanye partai politik! (Kompas.com : 2015).

Di Pasuruan Jawa Timur, masyarakat mengenal brobosan. Tradisi ini diperuntukkan untuk anak yang hendak berhaji sebagai penghormatan kepada orang tua. Filosofisnya sangat sederhana, wujud bakti dan permohonan doa agar ibadah haji lancar dan berakhir mabrur.

Lantunan shalawat mengiringi prosesi sungkeman yang disaksikan oleh tamu undangan. Pada puncak prosesi, anak yang hendak pergi haji itu, akan melakukan brobosan, ritual melewati ruang di antara kedua kaki orang tua yang berdiri tegak sebanyak tiga kali.

Ngaterna yang populer di masyarakat Brebes, Jawa Tengah juga termasuk sekian tradisi lepas sambut haji yang bertahan hingga sekarang. Tradisi ini akan melibatkan tetangga dan keluarga terdekat untuk mengantarkan jamaah haji menuju embarkasi terdekat. Konon, tradisi yang sama juga telah dijalani ketika jamaah haji masih berangkat melalui jalur Laut Pantura Kota Tegal.

Deretan tradisi itu, menurut ungkapan Zainul Milal Bizawe, merupakan bentuk kemampuan Islam ‘menganeksisasi’ budaya-budaya lokal tanpa mengubah penampakannya, lalu mengisinya dengan nilai-nilai keislaman hingga menjadi kebudayaan yang kaya dan beragam. Bahkan dalam titik tertentu semakin menunjukkan universalitas Islam yang bisa berselaras dengan dinamika dan perubahan tempat dan zaman. (Bizawe: 2015)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00