Perpres Penguatan Pendidikan Karakter Disambut Baik Ikatan Alumni Penghafal Alquran

Nusantaramengaji.com - Memeberikan contoh yang baik harus terus dilakukan untuk mewujudkan generasi bangsa yang berkarakter. Lewat contoh-contoh yang positif tersebut mental generasi akan terbagun.

Hal itu terungkap dalam acara Stadium General yang diadakan oleh IKAPTIQ bekerjasama dengan Institut PTIQ Jakarta dan BEM PTIQ yang mengangkat tema “Penguatan Pendidikan Karakter, Antara Harapan dan Tantangan Pasca diundangkannya Perpres no 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter”.

Ketua Umum IKAPTIQ, Jazilul Fawaid, menyebutkan, Perpres no 87 ini patut kita respon dan ambil semangat positifnya untuk segera kita wujudkan dalam mencapai tujuan pembangunan Manusia di masa yang akan datang.

“Penguatan Pendidikan Karakter sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM-red) hendaknya menjadi perhatian semua pihak. Nilai independen yang membentuk mental positif secara utuh terkandung dalam kitab suci, khususnya Alquran. Baik dari sisi kognitif, akal-nalar rasional, maupun afektif, dan watak perilaku yang bersentuhan dengan hati yang disebutkan dalam 4 kata di Alquran,  Shadrun, Qalbun, Fuad, dan Albab,” paparnya.

Lanjut Jazilul, “Karena itu, para alumni PTIQ, Mahasiswa dan siapa saja yang memiliki peran penanaman nilai, sikap dan keteladanan, patut menjadi bagian untuk memantapkan tujuan pemerintah ini. Hal ini agar terjadi sinergisitas yang optimal dan dalam skala yang lebih luas.” Demikian tutur Jazilul yang juga Ketua Koordinator Nasional Nusantara Mengaji.

Diskusi yang digelar di Aula kampus Institut PTIQ Jakarta ini dihadiri ratusan peserta, terdiri para dosen, alumni dan Mahasiswa. Diskusi jadi menarik karena diisi oleh nara Sumber pakar dan pihak instansi terkait. Prof. Dr. Abdurrahman Mas’ud, pakar pendidikan yang juga Kepala Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Dr. Khamim, M.Pd, Kasubdit Kurikulum pada Direktorat Pembinaan SMP Dirjen DIKDASEM Kemendikbud RI, dan Prof. Dr. Darwis Hude, M.Si, Direktur Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta.

Menurut Abdurrahman Mas’ud, ada Sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu (1) karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, (2) Kemandirian dan tanggungjawab, (3) kejujuran/amanah, diplomatis, (4) hormat dan santun, (5) dermawan, suka tolong menolong dan gotong royong/kerjasma (6) percaya diri dan pekerja keras (7) Kepemimpinan dan keadilan (8) baik dan rendah hati) (9) karakter toleransi, kedamaian dan kesatuan.

Menurutnya, Salah satu model pendidikan holistik adalah metode yang dikenalkan oleh imam Al Ghazali, yaitu pembiasaan. Proses pembiasaan ini hendaknya ditopang oleh keteladanan yang baik (uswatun Hasanah). Sebagaimana Rasulullah SAW dengan misinya menyempurnakan akhlak manusia, beliau sendiri di nyatakan oleh Allah SWT sebagai figur yang memiliki akhlak mulia.

Sementara Darwis Hude juga menegaskan kembali tentang pembiasaan. Selain itu, Profesor yang juga alumni PTIQ ini menyebutkan lima modal yang dimiliki manusia sejak lahir, yaitu pertama, modal Insting. Modal ini bisa dikembangkan tanpa harus dipelajari.

Kedua, modal Pancaindera. Menurutnya indra pada dasarnya banyak, tidak saja lima, seperti indra kinestetik, dll. Menariknya, Alquran selalu menyebutkan tentang pendengaran dan penglihatan. Ternyata kedua indra ini sangat berperan dalam transformasi pengetahun.

Lebih lanjut Darwis menjelaskan, 80% efektifnya transformasi pengetahuan ada pada penglihatan, 11 % ada pada pendengaran, selebihnya indra yang lain. Ini menunjukkan bahwa keteladanan sangat penting karena ia dilihat, selain juga didengarkan.

Ketiga, modal akal, meski akal bukanlah segala-galanya. Keempat, modal Nafsu  atau dorongan. Nafsu di sini menurutnya bukanlah sesuatu yang negatif, ia dimaknai sebagai dorongan. Misalkan seseorang memiliki dorongan untuk tekun belajar, bersemangat dalam bergaul dan lain-lain. Dengan catatan tentu dengan kadar yang baik dan diperbolehkan. Bukan berlebihan. Dan Kelima, Qalbu.  Sanubari yang tidak pernah membohongi kita.

Selanjutnya, Khamim, menjelaskan berbagai peran pemerintah melalui Kementerian pendidikan dan kebudayaan. Ia menyebutkan 5 nilai utama yang merupakan kristalisasi dari 19 karakter, yaitu Religius, Nasionalisme, sikap gotong royong, Mandiri, dan integritas yang tinggi. Ini adalah prinsip yang dipegang untuk mewujudkan generasi emas ke depan.  (NM)

 

 

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00