Pekalongan Mengaji; Sebuah Refleksi

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Pekalongan Mengaji; Sebuah Refleksi

Nusantaramengaji.com - Sabtu 18 November 2017, kembali Nusantara Mengaji mengadakan hataman bersama sebanyak 1000 kali hataman Al Qur’an di Pekalongan dengan jumlah massa kurang lebih 30 ribu orang. Agenda hataman ini merupakan salah satu program utama Nusantara Mengaji dalam rangka mendoakan keselamatan dan keberkahan bangsa serta mengajak umat Islam di seluruh Nusantara untuk selalu berdekatan dengan kitab suci Al Qur’an. Banyak sekali keistimewaan dan keberkahan ketika membaca Al Qur’an seperti yng disebutkan oleh hadis-hadis Nabi SAW dan para ulama. Di antaranya akan memberi syafaat kepada pembacanya di hari kiamat (HR. Muslim), mendapat sepuluh kali lipat pahala dari setiap huruf yang dibacanya (HR. Timidzi), dilindungi malaikat, dicurahi rahmat dan disebut-sebut Allah di dapan semua makhluknya (HR Abu Daud).

Sebagian ulama mengatakan bahwa dzikir yang terbaik adalah dengan membaca Al Quran karena membacanya dapat membesihkan hati yang kotor. Menurut syaikh Sayyid Qutb dalam moqaddimah kitabnya Fi Dzilalil Qur an, mengatakan bahwa alangkah indahnya orang-orang yang mendapatkan kelezatan dalam membaca Al quran, karena tidak semua orang dapat merasakan kelezatannya, kelezatan ini hanya didapat bagi orang-orang yang merasakannya. Artinya, kelezatan ini merupakan anugrahi Allah berupa batin yang bersih sehingga ia merasakan kelezatan ketika membacanya dan tentu saja batin yang bersih ini bisa didapat dengan seringnya atau istiqamahnya dalam membaca Al qur’an. Seperti halnya makanan tidak semua orang mendapatkan kelezatannya kecuali hanya orang-orang yang sehat jasmaninya.

Dalam orasi kebangsaannya Cak Imin  (Inisiator Nusantara Mengaji) mengatakan bahwa Nusantara Mengaji merupakan sarana umat dalam mengajak masyarakat untuk mengaji dan mengkaji Al Qur’an. Karena membaca dan memahami Al Qur’an itu tidak boleh sepotong-sepotong sehingga salah paham dan menjadikan seseorang radikal, membahayakan orang lain dan mengancam stabilitas persatuan bangsa. Tapi pahamilah Al Qur’an secara utuh seperti kita membaca dan menghatamkannya saat ini. Karena dengan pemahaman secara utuh maka Islam akan menajdi rahmatan lil alamin.

Dalam konteks Islam sebagai rahmatan lil alamin tidaklah lepas dari sosok baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Bagi Nabi menyayangi dan melindungi orang lain merupakan salah satu tugasnya. Di tangan beliau umat Islam menjadi umat yang beradab, tidak menyukai pengkhianatan dalam perjanjian, memenuhi tugas sesuai dengan amanahnya. Bagi Nabi, selama orang tidak berbuat zalim dan memenuhi hak dan kewajibannya sebagai warga maka ia berhak disayangi dan dilindungi hak dan martabatanya meskipun ia seorang non muslim. Dalam salah satu sabdanya beliau mengatakan; “Orang muslim yang sejati adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya. Dan orang yang mukmin yang sejati adalah orang yang bisa menjaga keamanan (keselamatan) darah dan harta manusia lain” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Atas dasar itulah Nusantara Mengaji selalu mengajak masyarakat berdoa untuk keselamatan dan keberkahan bangsa. Dengan ruh mengaji masyarakat Nusantara/Indonesia diharapkan mendapatkan aura religiusnya sehingga menjadi bangsa yang beradab dan bermartabat, jauh dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Umat harus dipahamkan isi kandungan Al Qur’an dan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Selama ini umat muslim Nusantara selalu menjadi bagian dari Islam yang penuh kasih sayang, moderat, dan jauh dari tindakan terorisme.

Dengan mayoritas umat islam terbesar di dunia, Islam Indonesia dapat menjadi contoh dari umat yang memiliki peradaban yang tinggi. Hali ini hanya dapat diawali dengan berpegang teguh pada Al Qur’an dan mengakajinya secara utuh. Tidak hanya tekstual tapi juga kontekstual. Islam yang yang berpijak pada tradisi, bukan pada ambisi. Tanpa mengaji dan mengkaji Al Qur’an setiap impian hanya kosong belaka. Karena di dalam Al Qur’an terkandung makna dan hikmah kehidupan sehingga kita tidak tersesat dan menyeleweng dari kebenaran.

Salah seorang tokoh muslim, Jamaluddin Al Afghani ketika ditanya kenapa umat Islam sekarang mengalami kemunduran sedangkan umat lain mengalami kemajuan, beliau menyatakan bahwa kemunduran Islam saat ini disebabkan karena umat Islam telah meninggalkan agama/kitab sucinya sedangkan umat lain (yahudi dan Kristen) maju karena mereka menjauhi ajaran agamanya. Artinya, ucapan beliau ini berkebalikan dengan ajaran umat lain yang justru maju karena meninggalkan agamanya sedangkan umat islam mundur justru karena menjauhi ajaran agamanya. Oleh sebab itu, kaalu umat islam ingin bisa maju maka mereka harus kembali dan berpegang teguh pada ajaran agama/ kitab sucinya. Artinya, ucapan Afghani ini merujuk kepada Al Qur'an sebagai kitab amal atau akhlak untuk diterapkan dalam kehidupan kaum muslimin. Dengan kata lain berakhlah dengan akhalk Al Qur'an.

Islam memang mendahulukan ajaran akhlak sebagai pondasi dari seluruh ajaran yang dimiliki. Akhlak yang baik tidak hanya menjadikan manusia mulia di sisi Allah tapi juga ditengah-tengah manusia. Dengan akhlak yang mulia menjadikan seseorang dengan keahlian apapun akan memberi manfaat bagi orang lain. Islam mengajarkan untuk selalu memberi bukan meminta karena dengan memberi kemuliaan seseorang akan naik. Seperti sabda Nabi; sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi orang lain” (Khairunnas Anfa’uhum Linnas). Dalam hadis lain Nabi mengatakan; tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang di bawah (Al yadul ‘Ulya Khairun min Al yadis sulfa).

Oleh karena itu, membumikan nilai-nilai Al Quran merupakan keharusan dalam masyarakat. Tanpa Al Qur’an umat akan kehilangan pegangan dan kendali. Nusantara Mengaji sebagai sarana kebaikan bagi umat berkeliling ke seluruh Nusantara demi menciptakan masyarakat yang Qur’ani yang selalu terus mengaji dan mengkaji. Dengan mengalqur’ankan masyarakat maka diharapkan nilai-nilai Qur’ani dapat membumi di seluruh Nusantara. Mungkin hasilnya tidak lagsung terasa tapi dengan sedikit demi sedikit hikmahnya akan terasa kemudian dan menyadari bahwa Al Quran dapat memberi mukjizat tanpa kita sadari dan tidak disangka-sangka.

Seperti kantong kain putih yang menjadi hitam karena selalu dibuat mengangkut arang tapi ketika dibuat mengakungt air, warna hitam itu sedikit demi sedikit menetes keluar dari kantong tersebut dan kemudian kantong hitam itu menjadi putih kembali. Begitulah para Ahli Hikmah menggambarkan hati yang sudah berubah hitam dapat menjadi putih kembali disebabkan sering mengaji Al Qur’an Wallahu A’lam bisshowab. (Lutfi Sy).     

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00