Munajat dan Keteladanan Keluarga Kekasih Allah (Visi Ketauhidan dan Kemanusiaan)

Kolom
Foto: 
Ilustrasi/foto:malikagrup.com

Munajat dan Keteladanan Keluarga Kekasih Allah (Visi Ketauhidan dan Kemanusiaan)

Nusantaramengaji.com - 10 Dzulhijjah 1438 H/01 September 2017 baru saja kita peringati. Idul Alha, hari raya qurban. Umat Islam berkumpul bersama; mengumandangkan Takbir, Tahmid dan Tahlil, mengagungkan kebesaran Allah.
Berkumpul di Masjid, sebagiannya di lapangan untuk shalat sunnah dua Raka’at dengan cita rasa kesyukuran atas nikmat Iman dan Islam. Karena itu mari kita senantiasa meningkatkan taqwa kita kepada Allah swt dengan sebenar-benarnya taqwa.

Imam Ibnu Katsir menerangkan bahwa Allah Swt menurunkan 313 Rasul dan 124.000 nabi (Seratus Dua Puluh Empat Ribu Nabi). Di antara para rasul itu adalah Nabi Ibrahim as.

Nabi Ibrahim adalah nabi pilihan yang mendapat gelar Kholilullah (kekasih Allah), selain juga disebut sebagai Abul anbiya (bapak para Nabi). Hal ini karena para Nabi sesudah beliau, dari bani Israil; Yahudi dan Nasrani adalah keturunannya sendiri. Diantaranya Nabi Ishaq, Ya`qub, Yusuf, Syu’aib, Harun, Musa sampai Nabi Isa AS. Demikian pula junjungan Nabi Muhammad SAW adalah keturunan Nabiyullah Ibrahim AS melalui jalur putranya Ismail AS.

Meski Ibrahim oleh Yahudi diklaim sebagai Yahudi, oleh kaum Nasrani diklaim sebagai Nasrani, bahkan musyrikin pun mengklaim bahwa mereka mengikuti millah (agama) Ibrahim, namun sesungguhnya tidaklah demikian. Allah SWT berfirman,

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seseorang yang lurus (jauh dari syirik dan kesesatan), muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik” (QS. Ali Imran (3) : 67)

Mengapa kita mengenang Nabi Ibrahim AS, hal ini agar kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW tidak melupakan sejarah penemu konsep tauhid sekaligus meneladani kehidupan keluarga beliau dengan Siti Hajar sebagai istrinya yang tabah dan Isma’il sebagai putranya yang shaleh. Hal itu kita jalani dalam bentuk prosesi ibadah haji dan ibadah qurban yang kita jalani hingga saat ini dan sampai nanti.

Ketahuidan sebagai kebenaran abolut

Penemuan konsep Tauhid oleh Nabi Ibrahim AS merupakan penemuan maha dahsyat di alam jagad raya ini. Tak tertandingi nilainya bila dibandingkan dengan penemuan para saintis dan ilmuan. Karena konsep ketauhidan yang ditemukannya itu membuat kita dapat memahami esensi dan eksistensi diri sebagai khalifah Allah dimuka bumi.

Setelah pencarian jati diri, Nabi Ibrahim AS menyadari bahwa Allah SWT adalah The Absolute One, Dzat yang Maha Esa. Manusia tidak dibenarkan menyembah matahari, menyembah bintang, menyembah batu  dan alam termasuk dalam konteks kekinian menyembah materi berupa uang dan jabatan. Ini artinya manusia telah memposisikan dirinya di atas alam, termasuk di atas kehidupan materi yang mungkin kita kejar-kejar selama ini.

Untuk itu, Idul Adha ini momentum kita mengokohkan kembali ketauhidan sekaligus menyempurnakan kemanusiaan. Manusia yang memiliki peran sebagai Khalifah Allah, yakni hamba Allah yang menjalankan kepemimpinan di bumi, bukan di pimpin oleh materi duniawi yang pasti akan kita tinggalkan nanti.
 
Kemanusiaan yang bermula dari Keluarga

Selain konsep Tauhid, beragama tauhid, yakni Islam, Idul Adha merupakan momentum meneladani keluarga Nabi Ibrahim AS. Sebuah visi kemanusiaan yang dibangun dari keluarga kecil.

Pertama, Dialog sebagai cara berkomunikasi dalam keluarga.

Singkat Alkisah, Ibrahim yang sudah renta, istrinya Siti Sarah dikabarkan mandul, kemudian melalui Siti Hajar ia memperoleh seorang putera yang diberi nama Ismail.

Penantian sekian lama membuat Ibrahim sangat mencintai anak semata wayangnya. Kala itu Ishaq belum lahir dari ibunya, Siti Sarah. Namun apa hendak dikata, Allah menguji iman Ibrahim melalui sebuah mimpi. Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih Ismail.

Meskipun Ibrahim meyakini bahwa perintah itu wajib ia laksanakan, akan tetapi Ibrahim tetap melakukan dialog dengan puteranya untuk meminta pendapat, tentu dengan cara yang indah. Akhir dialog, Ismail berkata : “Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, InsyaAllah engkau mendapatkan diriku termasuk orang-orang yang sabar”

Menurut Psikologi Perkembangan, di usia 0 s/d 6 tahun anak membutuhkan orang tua sebagai teladan. Usia 6 s/d 12 tahun mereka membutuhkan orang tua sebagai sahabat. Usia 12 tahun ke atas mereka membutuhkan orang tua sebagai konsultan.

Cara menghadapi anak, khususnya tradisi dialog ini belakangan mulai terkikis dalam pembinaan keluarga. Posisi anak cenderung kita abaikan. Anak seolah hanya berkewajiban menuruti perintah orang tua tanpa hak bicara dan berpendapat. Orang tua dan anak sebagaimana hubungan atasan dengan bawahan.

Keadaan seperti ini bila dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan menghambat perkembangan karakter dan pribadi sang anak. Biasanya, anak cenderung tumbuh jadi penakut dan krisis kepercayaan diri. Sikap ini menjadi bom waktu dalam diri mereka, sehingga tak ayal bila di kemudian hari berbuah kenakalan dan sesat jalan. Agar hal ini dapat kita cegah sedari dini, maka dialog antara orang tua dan anak hendaknya terjalin secara harmonis.

Kasus ini dapat kita kiaskan dengan hubungan yang lebih luas, yakni interaksi sosial. Dialog bisa menjadi cara penanganan resolusi konflik. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Kedua, Keluarga yang dekat dengan Agama (beragama).

Hal ini tercermin dari penggalan pertama munajat Nabi Ibarahim AS yang diabadikan dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 37.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah)"

Ibrahim AS menempatkan Istri dan putranya, Ismail kala itu di lembah yang tandus. Bukan karena pilihan, tapi sebab kenyataan tanah arab adalah tanah yang tandus. Namun ia tidak meninggalkan keluarganya di sembarang tempat, melainkan di dekat Baitullah, rumah Allah.  

Tentu saja ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebagai pertanda bahwa sejak semula nabi Ibrahim ingin mengkondisikan keluarganya (isteri dan anaknya) untuk selalu dekat dengan Baitullah. Seakan beliau yakin betul, bahwa tidak mungkin anak dan keluarganya menjadi shalih dan taat tanpa mengenal dan dekat dengan Baitullah. Dalam konteks kekinian adalah keluarga yang dekat dengan masjid. Keluarga yang dekat dengan agama.

Memang cukup kontras dengan apa yang terjadi pada kita saat ini. Anak-anak kita lebih sering ke tempat Belanja, Mall dan Supermarket dari pada ke masjid. Lebih akrab dengan Gadget dan Playstation. Bercengkerama dengan Facebook-an dan media sosial lainnya daripada dekat dengan al-Quran. Hal ini terjadi dimungkinkan sebab orangtua yang mulai jarang mempertautkan hati anak-anaknya untuk dekat dengan masjid (agama), sehingga masjid/agama menjadi sesuatu yang mulai asing bagi mereka.

Ketiga, Individu-individu yang cerdas secara spiritual. “Agar mereka mendirikan shalat”.
 
Ini adalah permohonan pendekatan diri kepada Allah SWT. Sebuah permohonan yang mungkin kurang populer dan jarang dikumandangkan oleh para orangtua, termasuk para guru.

Karena itu, bila visi dunia pendidikan kita lebih berorientasi kepada materi, lebih focus kepada kecerdasan intelektual belaka, maka tanamkanlah pula visi kecerdasan spiritual. Karena sesungguhnya, shalat sebagai media komunikasi dan pendekatan diri kepada Allah mengantarkan anak-anak kita kepada kesuksesan yang diberkahi.

Keempat, Keluarga yang dicintai masyarakat (Public idol). “Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka”.

Artinya bagaimana keluarga kecil ini menjadi orang-orang yang dicintai oleh masyarakat. Ingatlah bahwa seseorang itu dicintai karena kemuliaan akhlaknya. Karena itu patut kita sepakati bahwa keberhasilan pendidikan bukan saja pada kecerdasan ilmu tapi juga adab, budi pekerti.

Semakin tinggi gelar akademik seseorang semakin tinggi nilai budi pekertinya. Semakin dewasa seseorang, semakin baik pula akhlaknya. Begitu pentingnya akhlak yang mulia ini sehingga seakan-akan nabi Muhammad SAW tidak diutus ke dunia, melainkan untuk menyempurnakan akhlak umat manusia.

Kelima, Kemakmuran Ekonomi. Nabi Ibrahim menutup doanya dengan permohonan rezeki materi. “Dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan.”

Logika kita akan mengatakan, seharusnya ini permohonan yang mesti didahulukan mengingat keberadaan keluarga Ibrahim kala itu di lembah yang kering nan tandus. Namun, permohonan ini justru menempati urutan terakhir.

Muncul pertanyaan, untuk apakah rezeki material itu. Apakah hanya untuk sekedar dinikmati, ataukah supaya dikejar sebagai tujuan untuk semata kaya dengan materi.

Sekali-kali tidak! Karena Rezeki itu sesungguhnya agar kita menjadi orang yang pandai bersyukur. Sebab, tidak semua yang kaya mampu untuk bersyukur, tetapi yang mampu bersyukur pastilah ia ‘kaya’, karena yang kaya itu adalah mereka yang bahagia.

Sebagaimana dijanjikan Allah SWT, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat/kebahagiaan) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesunggunya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim, 13:7).

Menurut Dr. Wahbah al-Zuhaili, ungkapan “supaya mereka bersyukur” tersirat di dalamnya bahwa keluasan rezeki dan semua manfaat duniawi hendaknya dijadikan sarana dan stimulan untuk peningkatan ibadah dan ketaatan kepada Allah Swt.

Demikian. Semoga Idul Adha menjadi momentum kokohnya ketauhidan sekaligus menyempurnakan kemanusiaan kita. Peran optimal sebagai hamba Allah sekaligus khalifah Allah di muka bumi yang dimulai dari diri dan keluarga kecil kita.

 

Oleh : Firdaus, M.Pd.I (Koordinator Nasional Majelis Harian Nusantara Mengaji)
 

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00