Muharram sebagai Bulan Allah

Kolom
Foto: 
ilustrasi

Muharram sebagai Bulan Allah

Nusantaramengaji.com - Bulan Muharram adalah salah satu bulan yang dimuliakan Allah. Pada bulan ini, banyak sekali peristiwa kenabian yang terjadi seperti diterimanya taubat Nabi Adam, berlabuhnya perahu Nabi Nuh, diselamatkannya Nabi Ibrahm dari api  Namrudz, diberikannya kitab Taurat kepada Nabi Musa dan lainnya serta yang terpenting adalah hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah yang kemudian disebut dengan Tahun Hijriyah. Dalam Kitab Badi’atul Mitsal, sayyidina Umar bin khattab r.a menjadikan  bulan muharram sebagai  awal dihitungnya  kalender hjiriyah karena bertujuan bahwa bulan muharram dapat menjadi penanda antara yang haq dan yang bathil (kaum kafir Mekkah dan kaum muslimin di Madinah), juga karena para jamaah haji telah pulang dari pelaksanaan ibadah hajinya sebagai akhir dari rangkaian ibadah.

Selanjutnya bulan muharram ini dikenal sebagai “Syahrulloh’’, yaitu; sebuah gelar yang pantas di sandang oleh bulan muharram ini karena keutamaan keutumaan yang di miliknya, sebagaimana hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah r.a, beliau berkata: “Rasulullah SAW bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Artinya: “Puasa yang paling utama setelah puasa bulan Ramadhan adalah puasa bulan Allah yaitu bulan Muharram.”

Dalam  hadis di atas  secara tegas Rasulullah SAW  menyandangkan kata syahrullah kepada kata  muharram  bulan muharra ), hal ini tiada lain karena keutamaan-keutamaan yang di dalamnya, seperti banyakanya peristiwa kenabian, puasa asyura’, tasu’a’ dan lain sebagainya.

Sesungguhnya bulan Allah bulan Muharram adalah bulan yang agung dan penuh berkah, ia adalah bulan yang pertama dalam setahun dan salah satu dari bulan-bulan suci yang mana Allah berfirman tentangnya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ [التوبة : 36]

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menzhalimi diri kamu dalam bulan yang empat itu…” (QS. at Taubah: 36)

Para mufassirin sepakat bahwa yang di maksud dengan  Arba’atun Hurum adalah bulan Dzul qa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Hal ini karena Rasululullah Saw dalam kesempatan haji terakhirnya mendeklarasikan bahwa  “Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, empat di antaranya adalah bulan suci. Tiga di antaranya berurutan yaitu Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharram dan ke empat adalah bulan Rajab.” Seperti dalam hadis riwayat Bukhari dari Abu Bakrah r.a bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda:

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Artinya: “Satu tahun ada 12 bulan darinya ada 4 bulan suci: 3 bulan secara berurutan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan bulan Rajab Mudhar antara bulan Jumada dan bulan Sya’ban”.

Rangkaian ayat dan hadis di atas mengindikasikan akan pentingnya beramal baik pada bulan-bulan haram tersebut. Dinamakan bulan haram Karena pada bulan/hari itu dilarang untuk membunuh dan bereperang karena kemuliaan dan keutamaanya. Jika, berperang/berjihad saja pada bulan-bulan tersebut terlebih pada bulan Muharram saja dilarang, Karena kemuliaanya padahal berjihad sangat dianjurkan oleh syariat, apalagi melakukan perbuatan yang memang secara Syariah sudah dilarang pada awalnya. Maka hendaklah pada bulan muharram ini di isi dengan amalan-amalan yang dianjurkan seperti berpuasa pada hari itu terutama tanggal 9 dan 10 Muharram.

Puasa pada bulan Muharram sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Seperti dalam hadis riwayat Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa ketika Nabi tiba di Madinah, setelah haji, beliau menjumpai orang-orang yahudi berpuasa pada hari itu. Nabi kemudian bertanya; hari apa ini/ mereka menjawab; ini hari istimewa Karena pada hari ini bani israil diselamtkan dari musuhnya dan nabi Musa berpuasa pada hari ini. Maka Rasulpun bersabda; aku lebih berhak kepada Musa daripada kalian. Lalu nabi pun memerinthakan para sahabat untuk berpuasa pada tahun depan.

Namun, untuk membedakan dengan puasa tanggal 10 muharram/Asyura nya kaum Yahudi, Nabi menganjurkan untuk puasa sehari sebelumnya atau satu hari sesudahnya, yaitu; tanggal 9 atau tanggal 11 Muharram. Keutamaan puasa pada hari asyura ini menurut hadis riwayat Tirmidzi dari Abu Qatadah adalah dapat menghapus dosa setahun yang lalu.  

Oleh Karena itu, pada bulan Muharram yang dimuliakan Allah ini hendaknya kita memperbanyka amal baik terutama berpuasa dan menjauhkan hal-hal yang dilarang agama. Karena demi kemuliaan bulan ini berjihad saja dilarang yang merupakan perintah agama apalagi melakukan hal-hal yang mengotori bulan Muharram baik dengan ucapan maupun tindakan yang tidak terpuji. Inilah momentum untuk hijrah dari amalan/akhlak yang buruk menuju amalan/akhlak yang terpuji, dari masa jahiliyah menuju masa pencerahan lahir dan  batin.Wallahu A’lam Bisshowab. (NM)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00