Metode Praktis Menghafal Alquran (Bagian II Habis) Langkah-langkah Menghafal Alquran

Kolom

Metode Praktis Menghafal Alquran (Bagian II Habis) Langkah-langkah Menghafal Alquran

 

Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, Lc., MA Alhafiz
Ketua Dewan Penasehat Nusantara Mengaji

 

Setelah disinggung faedah menghafal Alquran pada artikel sebelumnya, kali ini akan diulas langkah-langkah untuk menghafal Alquran agar bisa maksimal dan efektif.

Praktek Menghafal Al-Qur’an

Hal hal yang perlu diperhatikan sebelum menghafal Al-Qur’an adalah :

Pertama : persiapan spiritual: niat yang ikhlas yaitu hanya karena mencari ridla Allah, bukan untuk kepentingan duniawi. Niat yang ikhlas akan mempengaruhi proses menghafal Al-Qur’an dan akan membawa keberkahan bagi dirinya.

Kedua : Umur. Umur yang paling baik pada saat memulai menghafal Al-Qur’an adalah lima tahun. Pada saat itu sel sel otak untuk menyimpan informasi lebih banyak dari sel sel untuk menganalisa informasi. Sejalan dengan pertambahan umur, sel sel penyimpan informasi sedikit demi sedikit digantikan oleh sel sel yang menganalisa informasi. Oleh karena itu orang tua pandai menganalisa informasi. Sementara anak anak mudah menghafal informasi.  Ungkapan yang terkenal dalam hal ini adalah:

( التعلم  فى الصغر كالنقش على الحجر والتعلم فى الكبر كالنقش على الماء )

Artinya bahwa belajar waktu kecil adalah laksana mengukir di atas batu, dan belajar setelah dewasa laksana mengukir diatas air.  Dalam kenyataannya semakin tua umur seseorang, semakin susah untuk menghafal.

Ketiga : Harus sudah bisa membaca Al-Qur’an dengan baik, benar dan lancer, agar ayat ayat yang dia hafalkan sudah benar sesuai dengan ilmu tajwid. Namun bisa saja seorang anak kecil sudah diajari menghafal Al-Qur’an, walaupun anak tersebut belum bisa membaca Al-Qur’an, melalui oral atau “Talaqqi Syafahi” namun hal ini tidak bisa terus menerus.

Keempat : Mushaf . Mushaf yang digunakan hendaknya satu macam saja, tidak ganti ganti. Utamanya adalah mushaf “ayat pojok” yaitu setiap akhir halaman adalah akhir ayat. Yang paling masyhur saat ini adalah  model mushaf “Menara Kudus” atau “Mushaf Madinah”. Mushaf model ini terdiri dari 15 baris. Satu juz terdiri dari 10 lembar. Sehingga 30 Juz terdiri dari 300 lembar atau 600 halaman.  Para ulama telah membagi mushaf model ini menjadi beberapa bagian atau terminal, yaitu : setiap juz terdiri dari 2 Hizb. Setiap Hizb terdiri dari 4 bagian yang dinamakan “Tsumun” atau 1/8 juz.  Setiap juz terdiri dari delapan bagian. Setiap “Tsumun” ada tanda tulisan yaitu “Rub’ul Hizb” atau seperempat Hizb.  Jadi seluruh Al-Qur’an terdiri dari 30 juz x 8 = 240 tsumun. Bagi penghafal Al-Qur’an, bisa menjadikan setiap “Tsumun” menjadi terminal untuk menghafal satu bab atau bagian. Jika setiap “Tsumun” bisa dihafal selama 2 hari, maka untuk menghafal 240 tsumun memerlukan 480 hari. Semua itu tergantung dari kemampuan masing masing penghafal.    

Kelima: sebagian ulama masa lalu menggunakan metode menulis ayat ayat yang akan dihafalkan di “Lauh” atau papan atau juga buku tulis. Cara ini cukup efektif, karena pada saat menulis, seorang akan memerhatikan tulisannya sendiri, sehingga relatif mudah untuk dihafalkan.

Keenam: Proses Menghafal. Ada banyak metode menghafal Al-Qur’an. Dibawah ini ada cara menghafal yang bisa dijadikan salah satu alternatif:

Langkah Pertama :
Membaca ayat yang akan dihafalkan dengan melihat mushaf, sebanyak 5 sampai 10 kali dengan konsentrasi penuh (focus) dan sambil mulai menghafalkan

Langkah Kedua :
Membaca ayat yang tadi dibaca sebanayk 5 sampai 10 kali, namun sesekali melihat mushaf dan sesekali tidak melihat mushaf

Langkah Ketiga :
Membaca sekali lagi ayat tersebut tanpa melihat mushaf sebanyak 5 sampai 10 kali dengan konsentrasi penuh.

Langkah Keempat :
Membaca sekali lagi ayat tersebut sebanyak 5 sampai 10 kali dengan membelalakkan mata, tanpa melihat mushaf. Jika langkah keempat ini sudah bisa dilalui dengan lancar, berarti ayat tersebut sudah melekat di otak.  

Setor Hafalan

Penghafal Al-Qur’an perlu menyetorkan hafalannya kepada seorang guru yang mumpuni dari waktu ke waktu dengan tartil, utamanya dengan martabat “Tahqiq” (tingkat kecepatan membaca paling rendah). Jumlah ayat yang di setorkan sesuai dengan kemampuan masing masing.

Muraja’ah

Muraja’ah adalah kegiatan membaca kembali dengan hafalan, ayat yang telah dihafal agar betul betul melekat dalam otak. Tanpa “muraja’ah” ayat ayat yang sdah dihafal sangat mudah lupa. Seorang penghafal Al-Qur’an harus menyediakan waktu khusus untuk “muraja’ah”  dan waktu khusus yang lain untuk menambah hafalan. Murja’ah hafalan bisa di luar salat baik sendiri atau dihadapan teman, bisa juga di dalam salat fardlu atau salat sunah.

Hal Hal Yang penting untuk di perhatikan:

1.    ketika menghafal, perut jangan terlalu kenyang dan jangan terlalu lapar
2.    ketika menghafal harus dengan suara, jangan dalam hati saja
3.    ketika menghafal, bacaan harus tartil
4.    ketika menghafal, pikiran harus jernih, jangan dalam keadaan kalut atau pusing
5.    ketika menghafal, hati tetap berada pada situasi keimanan yang baik dan tidak boleh melakukan kemaksiatan. Hati yang bening akan cepat mudah menghafal. Amalan amalan      sunah ketika menghafal, bagai rabuk bagi tanaman.
6.    Hal yang bisa membantu muraja’ah hafalan adalah: mendengarkan bacaan orang lain melalui kaset, dll.b. mengerti arti yang dibaca.c.wiridan harian dengan  membaca Al-Qur’an   dengan melihat mushaf. Jumlahnya bisa satu juz atau lebih.
7.    Penghafal Al-Qur’an harus memperhatikan ayat ayat yang mempunyai kemiripan redaksi (ayat mutasyabihat) yang tersebar di surah surah Al-Qur’an
8.    Penghafal Al-Qur’an perlu memperbanyak wirid, doa dan amalan sunah lainnya
9.    Orang tua penghafal, perlu terus berdoa agar anaknya diberi kelancaran dalam menghafal. Doa orang tua sangat diperhatikan oleh Allah.

 

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00