Meraih Cinta Allah dengan Alquran

Kolom
Foto: 
ilustrasi

Meraih Cinta Allah dengan Alquran

Nusantaramengaji.com - Globalisasi bagaimanapun juga seperti pisau bernata dua. Satu sisi banyak pemanfaatan yang diambil untuk kebaikan manusia, namun di sisi lain tak sedikit yang membawa dampak buruk terutama bidang moral manusia. Orang-orang kemudian enggan mengurusi moralnya. Prinsipnya selama tidak menganggu kehidupan atau kesenangan orang lain maka semua boleh dilakukan. Inilah jahiliyah abad modern yang mendewakan kekayaan, kedudukan dan kesenangan sebagai tujuan utama dalam hidup. Padahal kemuliaan hidup yang diajarkan Alquran berbeda dengan kemuliaan yang diajarkan kapitalisme globalisme. Islam mengajarkan bahwa letak kemuliaan itu ada dalam taqwa dan untuk meraihnya dengan cara membaca dan memahami ayat-ayat di dalamnya. Seperti dalam firmannya berikut ini yang artinya.

 “Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (Al Anbiya: 10)

Ibnu Abbas radhiyallhu’nahuma menafsirkan bahwa ‘dzikrukum’ bermakna ‘kemuliaan bagi kalian.

Al Qur’an mulia dari dua sisi, karena dzatnya juga karena kandungannya. Sebab, Al Qur’an adalah kalamullah. Andai tidak ada kemulian kecuali bahwa Al Qur’an adalah kalamullah niscaya itu sudah cukup. Al-Qur’an juga mulia  karena kandungannya, di dalamnya ada petunjuk, hukum-hukum syariat, penjelasan tentang balasan dan hukuman, kabar gembira dan peringatan. Siapa yang berpegang kepadanya akan mendapatkan petunjuk, diselamatkan dari kesesatan.  Siapa yang memuliakannya akan beroleh kemuliaan dunia maupun akhirat. Sebaliknya siapa yang menyelisinya akan tersesat di dunia dan sengsara di akhirat.

Setiap muslim sudah semestinya menjadi ahlul Qur’an, dekat dan akrab dengan Al-Qur’an. Umat Islam adalah Ummatul Qur’an yaitu orang-orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidupnya, penopang akhlak, sumber inspirasi, pemandu cita-cita, sumber kekuatan dan ketengangan. Mereka memenuhi hak-hak Al–Qur’an; hak untuk dibaca dengan baik dan benar, hak untuk dihafal, dipahami, dijadikan dasar keyakinan dan amalan, dipelajari dan diajarkan.

Siapa yang memuliakan Al-Qur’an, maka Allah akan memberikan kedudukan istimewa kepada mereka,

“Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir kepada Allah, membaca kitabullah dan saling mengajarkan kepada mereka melainkan mereka akan diliputi rahmat, diturunkan kepada mereka ketentraman, dan dinaungi oleh para malaikat.” (HR. Muslim)

Membaca dan mengkaji Al-Qur’an mengundang rahmat, dihormati oleh para malaikat, dan memberikan sakinah. Keluarga yang akrab dengan Al-Qur’an akan menjadi keluarga yang bisa merasakan sakinah, mawaddah dan rahmah. Anak-anak yang mudah diarahkan pada kebaikan, istri yang membahagiakan, suami yang bisa dijadikan teladan.

Bahkan Ahlul Qur’an dimuliakan hingga mereka meninggal dunia. Shahabat Jabir bin Abdillah menceritakan bahwa ketika Rasulullah hendak menguburkan syuhada Uhud dalam satu lubang. Rasulullah bertanya, “Siapa diantara mereka ini yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya?” Lalu Rasulullah mendahulukan yang lebih banyak Al-Qur’annya sebelum yang lainnya.   (HR. Al Bukhari)

Rasulullah juga bersabda, “Kelak akan dikatakan kepada ahli Al-Qur’an, bacalah dan naiklah dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya ketika di dunia. sesungguhnya kedudukanmu (di surga) sesuai dengan akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi)

 Dari Buraidah Bahwa Rasulullah bersabda, “Siapa yang menghafal Al-Qur’an mempelajarinya dan mengamalkannya, maka kelak akan dipakaikan kepadanya mahkota yang cahanya seperti cahaya matahari, dan akan dipakaian kepada kedua orangtuanya dua mahkota yang lebih baik daripada dunia. Keduanya pun bertanya, “Dengan sebab apa kami dipakaikan dua mahkota ini?” Maka dikatakan, “Karena hafalan Al Qur’an anak kalian.” (HR. Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi)

Dari Abu Umamah a, bahwa Rasulullah n bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena kelak pada hari kiamat ia akan datang sebagai permberi syafaat bagi pemiliknya.” (HR. Muslim)

“Kelak pada hari kiamat Al Qur’an akan didatangkan demikian pula para ahlinya yang mengamalkan Al Qur’an, surat Al Baqarah dan Ali Imran akan datang untuk membela ahlinya. Yang terdepan adalah surat Al-Baqarah dan Ali-Imran yang membela ahlinya.” (HR. Muslim)

Ibnu Abbas kerkata, “Siapa yang ingin mengetahui kadar cintanya kepada Allah maka hendaknya dia melihat keridaannya terhadap Al-Qur’an, sebab siapa yang mencintai Al-Qur’an berarti dia mencintai Allah karena Al-Qur’an adalah kalamullah.

Mulia dengan Al-Qur’an

Seperti kata para bijak yang terpenting bukan engkau dicintai akan tetapi bagaimana engkau mencintai. Bisa pula dikatakan yang terpenting bukan bagaimana kita dimuliakan akan tetapi bagaimana kita memuliakan Al-Qur’an. Sebab, al-jaza’ min jinsil amal (balasan itu tergantung jenis amalnya) dan kama tadinu tudanu (sebagaimana engkau bersikap maka seperti pula engkau diperlakukan). Kebaikan berbuah kebaikan. Kemuliaan berbuah kemuliaan. Maraih kemuliaan dengan Al-Qur’an dengan;

Pertama, membaca Al-Qur’an

Membaca adalah ibadah, satu huruf dibalas sepuluh kebaikan. Membaca Al-Qur’an adalah dzikir yang utama, melembutkan hati, menenangkan jiwa dan menajamkan pikiran. Sungguh pembaca Al-Qur’an tiada pernah merugi.

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS. Fathir: 29)

Abdullah bin Amr menceritakan bahwa beliau bertanya kepada Rasulullah n, “Berapa lama saya boleh mengkhatamkan Al-Qur’an?” Rasulullah n menjawab, “Khatamkan dalam sebulan.” Abdullah berkata, “Saya bisa lebih cepat dari itu.” Rasulullah bersabda, “Khatamkan dalam sepekan.” Abdullah berkata, “Saya bisa lebih kuat dari itu.” Rasulullah n menjawab, “Khatamkan dalam tiga hari, dan tidak akan faham orang yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Dawud)

Apa yang diceritakan oleh Abdullah bin Amr menggambarkan betapa antusiasnya para shahabat untuk membaca Al-Qur’an. Imam An Nawawi menjelaskan bahwa para salaf memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam mengkhatamkan Al-Qur’an; ada yang mengkhatamkannya dalam satu bulan, ada yang duapuluh hari, ada yang lima belas hari, ada pula yang mengkhatamkan dalam waktu sepekan, ada yang dalam waktu tiga hari. Semua bergantung kepada keadaan dan kesibukan masing-masing. Pertanyaannya berapa kali kita mengkhatamkan Al-Qur’an?

Mengkhatamkan Al-Qur’an sejatinya bukan soal waktu. Akan tetapi soal hati, sebagaimana yang diungkapkan oleh Utsman bin Affan, “Seandainya hati kita bersih, niscaya kita tidak akan pernah merasa kenyang membaca Kitabullah.”

Kedua, mempelajari

Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik orang diantara kalian adalah yang berlajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari)

Demikian  sabda Rasulullah  yang memberikan suntikan motivasi untuk menjadi orang terbaik. Salah satunya adalah dengan mempelajari Al-Qur’an. Membaca dengan tadabbur, memahami arti, atau bahkan tafsirnya mulai dari tafsir yang sederhana semisal Tafsir Jalalain atau Al Muyassar dan semisalnya.

Ketiga, mengamalkan/mengajarkan

Setelah mempelajari tentunya langkah selanjutnya adalah mengamalkannya. Mematuhi semua perntah dan larangannya dan lain-lain. Rasulullah menyebut para pengajar Al-Qur’an sebagai orang-orang terbaik. Sebab yang mereka ajarkan adalah sebaik-baik pelajaran. Alangkah baiknya jika yang mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak kita adalah kita sendiri sebagai orangtuanya. Jika tidak, maka kita berkewajiban mengarahkan mereka untuk mempelajari Al-Qur’an sebelum mereka mempelajari yang lain. Semoga kita termasuk orang yang mencintai Al-Qur’an. Amiin

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00