Meraih Akhirat, Tidak Melupakan Dunia

Kolom
Foto: 
ilustrasi

Meraih Akhirat, Tidak Melupakan Dunia

Nusantaramengaji.com - Dunia semakin berkembang dengan corak dan taqdirnya sendiri. Manusia yang seolah mampu menguasai alam sejatinya malah dikuasai oleh alam. Orang tidak bisa menghindar dari apa yang dibuat atau diciptakannya sendiri. Ia menjadi begitu tergantung kepada ciptaannya sendiri. Memuja dan menyembahnya sebagai sebuah prestasi yang gemilang dari gerak laju sejarah.

Itulah kenapa dunia semakin maju malah semakin menjadikan manusia “jahiliyah” dikarenakan mereka melupakan Sang Pencipta malah memuja dan meyembah hasil karya mereka sendiri. Mereka tidak menyadari bahwa mereka telah dikuasai oleh hawa nafsunya dan menganggap moralitas dan agama hanya sebagai penghibur di kala duka saja.

Kemajuan sains dan teknologi yang diagung-agungkan pada abad ini secara tidak disadari telah menguasai jati diri umat manusia. Dengan sombongnya dikatakan bahwa sains dan teknologi telah menggantikan peran Tuhan di dunia dan tanpa di sadari pula telah menggantikan peran manusia itu sendiri. Meraka berada di bawah kuasa dan bayang-banyangnya sehingga selalu bergantung kepadanya.

Padahal Allah Ta’ala telah berfirman dalam Surat Al Qashas ayat 77 untuk menjadikan kehidupan dunia sebagai tempat untuk beramal baik agar kelak di akherat dapat memetik buah kebaikan di dunia tersebut:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Artinya; Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, DAN JANGANLAH KAMU MELUPAKAN BAGIANMU DARI (KENIKMATAN) DUNIAWI dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Para ulama ahli tafsir berbeda pendapat tentang Tafsiran: DAN JANGANLAH KAMU MELUPAKAN BAGIANMU DARI (KENIKMATAN) DUNIAWI. Di antara mereka adalah:

- Imam Ibnu Abbas menafsirkan: “Janganlah kau sia-siakan umurmu. Dengan tidak melakukan amal baik di dunia. Karena akhirat hanya bisa di raih dengan amal dunia. Maka, (sebenarnya) nasib/bagian manusia hanyalah umur dan amal baiknya di dunia”

- Imam Hasan dan Imam Qotadah mengatakan: “Janganlah kau sia-siakan bagian duniamu. Dengan menikmati dan mencari perkara halal seraya berangan-angan akibat duniamu”.

- Imam Qurthubi menyimpulkan dua pendapat di atas dengan perkataan Sahabat Ibnu Umar: “Bercocok tanamlah (bekerjalah) seakan engkau hidup selamanya. Dan amalkanlah akhiratmu (beribadahlah) seakan engkau esok mati”.

Ayat di atas mengajarkan kepada kita untuk tidak menyia-nyiakan kehidupan dunia. Karena di dunialah saatnya  bagi kita untuk menanamkan amal kebaikan untuk kita panen kelak di akhirat. Kita tidak boleh hanya mementingkan kehidupan akherat dengan mengabaikan kehiduapn bermasyarakat justru dengan banyak berbuat kebaikan bagi banyak orang merupakan berkah tersendiri yang akan kita dapatkan nanti di hari perhitungan.

Bukankah Nabi telah bersabda bahwa; “ Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. Hadis ini dimaksudkan bahwa kita tidak boleh hidup menyendiri dan mengabaikan kehidupan dunia yang merupakan ladang kebaikan. Hidup dengan cara bertapa tanpa peduli dengan kondisi masyarakat juga tidak dianjurkan oleh syariah. Dunia dan akherat harus seimbang dalam arti tidak larut dalam rayuan pesona duniawi sehingga menyebabkan jatuh pada perbuatan maksiat dan dosa juga tidak terlena dengan aroma seerbak surgawi sehingga mengabaikan tanggung jawab terhadap keluarga maupun masyarakat.

Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk mencari kebahagian di akhirat kelak tanpa mengabaikan kenikmatan duniawi yang diberikan oleh Allah swt kepada kita semua. Serta berbuat baiklah kepada semua orang sebagimana Allah juga telah berbuat baik kepada kita semua. Dan kita juga diperintahkan oleh-Nya untuk tidak melakukan kerusakan di muka bumi baik berupa menyakiti orang lain ataupun kita berperilaku buruk dalam menjaga keselarasan kehidupan di bumi.

Namun demikian, kehidupan dunia memang dipenuhi oleh beragam keindahan dan perhiasan yang dapat melenakan, seperti harta, tahta dan wanita. Banyak manusia jatuh dalam perangkapnya yang seolah-olah baik padahal kenyataanya buruk, terlihat buruk padahal sesungguhnya baik. Bahkan banyak ulama ahli hakekat menyatakan bahwa kebencian Allah kepada orang yang mencintai dunia berdasarkan besar kecilnya kecintaan orang itu pada dunia. Semakil besar seseorang mencintai dunia maka semakin besar pula ketidaksukaan Allah kepadanya begitu juga sebaliknya.

Imam Ghazali mengatakan dalam ihya : “ kebahagiaan dan kenikmatan duniawi merupakan racun mematikan yang berjalan pada urat nadi, sehingga menjauhkan hati dari rasa takut, sedih, mengingat mati dan hari kiamat. Ini merupakan kematian hati dan permohonan perlindungan kepada Allah”.

Firman Allah di atas mengajarkan kepada kita untuk tidak terlena terhadap kehidupan duniawi tapi sebaliknya menjadikannya sebagai ladang memupuk kebaikan baik terhadap diri maupun orang lain. Tentu saja bagi orang-orang yang sudah tertutup hatinya akan selalu mencari kenikmatan duniawi tanpa memperdulikan bagaimana cara mendapatkannya. Ketahuilah sesunguhnya keselamatan duniawi itu adalah bagaimana kita bisa mencegah diri kita terbuai dalam kenikmatan duniawi, serta berbuat sabar, membiasakan berbuat kebaikan kepada sesama. Dengan kata lain, Jadikanlah Nikmat Duniawi yang Allah berikan kepada kita sebagai sarana untuk taat kepada-Nya dan berbuat baik terhadap orang lain. Wallahu A'lam Bisshowab. (Luthfi Sy)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00