Menyelami Makna Hakiki Shalat

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Menyelami Makna Hakiki Shalat

Nusantaramengaji.com - Perintah Allah yang paling mudah dan sering ditinggalkan adalah solat. Banyak alasan dikemukakan di antaranya karena sibuknya dalam perkara dunia sampai percuma mendirkan solat tapi hatinya masih lalai. Dua alasan ini memang seolah benar dan masuk akal bagi sebagian orang tapi kalau ditelisik lebih jauh alasan-alasan tersebut maka itu tidak lebih dari alibi untuk menutupi kemalasan badani yang bersembunyi dibelakangnya. Kenapa malas? Karena solat merupakan perintah Allah yang sangat berat bagi hawa nafsu. Ketahuilah ciri utama dari nafsu adalah kesenangan badani/lahiriyah dan tidak menyukai sesuatu yang memberatkannya. Hawa nafsu akan terus berusaha memenuhi kesenangannya tersebut dengan cara apapun tanpa memandang benar atau salahnya. Prinsipnya adalah kesenangan. Nafsu ini menjadi media setan dalam merayu manusia untuk berpaling dari Allah.

Oleh Karena itu, salah satu cara yang diberikan Allah untuk menundukkan setan adalah dengan perintah solat. Karena dalam solat itu terkandung makna perjumpaan antara hamba dan Tuhannya. Tuhan tidak sudi perjumpaan tersebut ada yang mengganggunya. Ketika musolli kusyu’ dalam solatnya maka ia akan jauh dari setan namun sebaliknya jika ia lalai maka Allah allah membiarkannya bersama setan. Tiada ibadah lain yang lebih utama daripada solat bahkan solat ini merupakan tiang agama yang berarti jika fondasi ini rapuh maka bisa dipastikan dalam hal ibadah lainnya juga kurang sempurna. Ibarat sebuah rumah jika pondasi rumah itu lemah maka kerubuhan rumah itu sangat mungkin terjadi. Banyak sekali ayat dan hadis Nabi yang menyatakan bahwa solat yang sesungguhnya itu dapat mencegah seseorang dari perbuatan fahsya dan mungkar. Dan perbuatan “keji dan mungkar’’ ini tidak lain dari perbuatan setan yan terlaknat.

Dalam Al Qur’an Surah Al Ankabut ayat 45, Allah SWT berfirman;

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Pengertian fahsya, dan mungkar menurut Al Qurtubi, kalau fahsya, itu hanya mencakup ucapan dan perbuatan yang buruk secara khusus sedangkan Mungkar adalah semua hal yang mengarah pada kemaksiatan kepada Allah secara umum. Jadi, setiap perbuatan fahsya itu pasti mungkar seperti zina tapi tidak semua perbuatan mungkar itu fahsya namanya seperti mencuri dan lain sebagainya.

Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah juga bersabda;

مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاته عَنْ الْفَحْشَاء وَالْمُنْكَر لَمْ تُزِدْهُ مِنْ اللَّه إِلَّا بُعْدًا” .

“Barang siapa yang shalatnya masih belum dapat mencegah dirinya dari mengerjakan perbuatan keji dan munkar, maka tiada lain ia makin bertambah jauh dari Allah”.

Dengan demikian, gambaran dan tujuan solat itu hakekatnya untuk memelihara umat manusia dari kelalaian dan kerusakan yang diakibatkan oleh lupa diri, karena dalam solat itu terkandung makna dzikir/seruan ingat kepada Allah ketika manusia itu terjerumus dalam kelupaan akan Allah (maksiat). Lupa akan Allah inilah yang coba diingatkan dengan solat sebagai sarana untuk kembali ingat ke hadirah-Nya.   

Seperti kita ketahui bahwa perintah utama Allah kepada nabi pada peristiwa isra mikraj ini adalah solat lima waktu. Kenapa solat? Karena solat merupakan media intim antara hamba dengan Rabbnya. Dalam solat seluruh aktivitas keduniawian untuk sementara wajib ditinggalkan seperti yang tergambar dalam kronologi pra peristiwa terjadinya Isra Mi’raj.  Ketika itu Nabi sibuk dengan aktivitas dakwahnya serta beragam ancaman dari kaumnya, ditambah meninggalnya dua orang yang mengasihi dan dikasihinya dalam duka maupun suka, yaitu; sang istri khadhijah dan sang paman Abu Thalib. Untuk menghindarkan dari kesibukan ini, Allah mengisra-mi’rajkan Nabi untuk menghadap kepada-Nya dan menghibur kekasihnya yang sedang berduka.

Namun meski sang Nabi telah bertemu Tuhannya, ia tidak melupakan kewajibannya sebagai nabi dan rasul untuk membimbing umat manusia di dunia. Ia tidak larut dan tenggelam dalam pertemuan dengan Allah, seperti terjadi pada sebagian pertapa Muslim. Pertemuan itu hanya terjadi sesaat tapi memberikan makna yang mendalam. Pertemuan inilah yang kemudian diabadikan Allah melalui perintah solat kepada hambanya. Jadi ketika seorang hamba ingin berjumpa dengan Tuhannya maka solatlah sarana yang paling mungkin menjumpainya.

Dalam satu hadis riwayat Ahmad dan Abu Dawud, ketika datang waktu solat Nabi Muhammad sangat bahagia dan segera menyuruh bilal berdiri supaya adzan seraya berkata; “Hiburlah kami dengan solat wahai Bilal”. Bagi Nabi solat merupakan saat istirahat dari aktivitas duniawinya dan saat istirahat beliau gunakan untuk menjumpai Tuhannya dengan munajat dan doa. Tiada yang lebih indah dan bahagia disaat kita kita punya waktu luang selain bertemu dan berbincang dengan sang Kekasih. Hadis tersebut menunjukkan bahwa solat sejatinya adalah mi’raj kaum muslimin untuk bertemu dengan Rabb-nya. Sebab hakikat solat sebagai mikraj adalah hadirnya fisik sekaligus hatinya. Mengabaikan salah satunya berarti ia dianggap lalai dalam solatnya.

Makna lalai dalam solat bukan hanya dalam arti fisik tidak melakukannya, tapi tidak menghadirkan hati juga disebut lalai. Hal ini sejalan dengan pendapat kaum arifin. Pengertian larangan mengerjakan solat ketika dalam kondisi mabuk, tidak semata mabuk dalam arti meminum minuman keras. Akan tetapi, mabuk dalam arti, tidak mengetahui apa yang dikerjakan badan dan diucapkan lisan. Seperti solat yang matuk-matuk dan tergesa-gesa layaknya burung mematuk makanan lalu pergi tanpa meninggalkan jejak setelah kenyang.

Padahal kata ulama, solat itu adalah tolak ukur jauh dan tidaknya seseorang dari Tuhannya. Hal tersebut dapat dilihat dari frekuensi dan kualitas solatnya. Jika Tuhan dianggap sebagai atasannya maka tentu ia akan cepat-cepat mendatangi seruannya. Begitu pun kalau Tuhan dianggap kekasihnya, tentu ia ingin segera bertemu dengan kekasihnya. Tiada hal yang lebih menyenangkan daripada bertemu dengan Sang Kekasih dan tiada yang lebih menakutkan selain memenuhi seruan sang Majikan. Inilah nilai penting solat bagi seorang hamba tergantung ia memaknai Tuhannya sebagai Kekasih ataukah Majikannya.

Di samping memiliki impilikasi individual, solat juga melahirkan sikap sosial yang baik. Karena solat secara sosial berarti dapat berbagi kebaikan dan kebajikan terhadap sesama. Dalam makna individual, solat memunculkan intimitas tapi jejaknya dapat dilihat dari sikap sosialnya. Hal ini mengacu pada pertemuan Nabi dengan Tuhannya dalam peristiwa isra mi’raj. Beliau tidak larut secara terus-menerus dalam kenikmatan pertemuan dengan sang khalik. Tapi kenyataanya, belaiu kembali ke bumi dan menyebarkan rahmat dan kebaikan bagi sesama manusia.

Makna ini penting diketahui dalam memahami konsep mi’raj Nabi. Bagi seseorang yang setiap saat berjumpa atau solat bersama Tuhan, maka dapat dipastikan ia jauh dari sikap-sikap yang menodai solatnya tersebut kecuali ia sering lalai dalam solatnya. Jika dalam tinjauan sufi, solat yang tidak menghadirkan hati dianggap solat yang lalai. Apalagi solat yang tidak menghadirkan fisiknya. Ia gagal pada tingkap pertama dalam meneladani mi’roj Nabi dan tentu saja makna hakiki dari solat. Padahal tingkatan-tingkatan selanjutnya lebih sulit dan mengejutkan untuk menjadikan solat sebagai media mi’raj seorang hamba menuju Tuhannya. Ibarat orang mau naik pesawat tapi ia tidak naik ke tangga yang disediakan malah tetap diam beridiri dengan segala lamunan, sampai pesawatnya sudah terbang ke udara.

Dalam perjumpaan Nabi dan Rabbnya disidratil muntaha, Nabi merasakan suatu ektase kebahagiaan puncak bersama Allah dan Allah kemudian mengajarkan bahwa untuk mendapatkan kebahagian puncak bertemua Allah adalah melalui solat yang khusyu’. Kekhusyuan inilah yang selalu dikejar oleh para salikin dan arifin sehingga solat bagi mereka bukan hanya aktivitas ibadah tertentu tapi ibadah mereka sepanjang waktu. Bagi mereka, Peristiwa Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha beserta kejadian-kejadian yang menyertainya dapat diibaratkan solat dalam pengertian fisiknya. Sedangkan Mi’raj dari Masjidl Aqsha ke Sidratul Muntaha dimisalkan seperti kekhusyuan hati dalam shalat. Keduanya tidak dapat dipisahkan.

Tidak ada media yang lebih lengkap dalam rangka menghadirkan Allah selain solat. Karena dalam solat telah terhimpun doa, dzikir, baca Al Quran dan lain sebagainya. Oleh karena itu, orang yang mengabaikan solat ia telah mengabaikan warisan penting dan suci dari Allah dan rasulnya. Karena solat dapat menghibur hati yang kesusahan dan membersihkan kotoran lahir yang berserakan. Dengan solat seseorang akan terjaga dari setiap perbutan keji dan mungkar karena selalu ada Allah dihatinya. Mungkinkah kita membuang Allah di hati dan menggantinya dengan yang lain ?. Wallahu A’lam Bisshowab. (Lutfi Syarqawi)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00