Menjual Barang Masih Kreditan; Bolehkah

Fikih
Foto: 
Ilustrasi

Menjual Barang Masih Kreditan; Bolehkah

Nusantaramengaji.com - Dunia perkreditan merupakan realitas yang tidak dapat dihindari pada zaman ini. Meski ada yang menghukumi haram karena mengandung unsur riba tapi sebagian masyarakat tampak tak peduli dengan fatwa haram tersebut. Membenci sekaligus merindu itulah mungkin gambaran tentang realitas perkreditan ini. Tidak hanya semua bank yang menawarkan kredit barang apapun tapi juga Lembaga-lembaga keuangan lain menawarkan hal yang serupa.

Namun tulisan ini tidak ingin menyoroti dunia perkreditan tersebut tapi pada aspek hukum tentang barang kreditan yang belum lunas tapi sudah dijual oleh nasabahnya, baik itu kredit motor, mobil, rumah, HP dan lain sebagainya. Bagaimana islam memandang realitas seperti ini mengingat tidak sedikit masyarakat yang melakukannya.

Para ualama berbeda pendapat sah dalam masalah ini; Syafi'iyyah dan Hanafiyyah memandang sah dan boleh menjual barang yang masih dalam proses kredit, sedang menurut ulama Hanabilah tidak sah karena belum milkut tamm/milik sepenuhnya.

Menurut Syafi'iyyah hukum jual beli ini sah walaupun barang yang dijual adalah barang hasil dari hutang karena pada dasarnya orang yang menghutangi telah menyerahkan barangnya kepada penghutang. Adapun soal hutang yang belum lunas, adalah tugas penghutang untuk melunasi hutangnya. Misalnya saya beli motor ke dealer dengan cara kredit. Kredit belum selesai motor itu saya jual tanpa syarat. Maka hukum jual belinya sah sebab motor itu statusnya adalah milik saya. Bukan milik bank. Urusan hutang saya kepada bank itu tidak ada hubungannya dengan motor tersebut. Jadi Ulama' khilaf (terjadi perbedaan pendapat), bila nasabah (yang punya hutang) menjualnya.

Dalam kitab Nuhaytuz Zain disebutkan; "Orang yang berhutang berhak memiliki barang yang dihutang dengan diterimanya (barang tersebut) penerimaan barang tersebut dengan seijin orang yang menghutangi, setelah itu dia (orang yang berhutang) boleh membelanjakan barang tersebut".

Jadi, kesimpulannya,  Menurut ulama Hanabilah menjual barang yang masih tahap kredit tidak sah, karena belum milkut tamm. Karena syarat dari jual beli adalah barang milik pribadi secara penuh. Sedang menurut ulama Syafi'yah dan Hanafiyah hukumnya sah. Karena barang itu sudah milik pribadi berdasarkan akadnya. Wallahu A’lam bishowab

Referensi:

- Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaituyyah 22 / 129 :

- ﻭﺍﻟﻨﻮﻉ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻳﻮﻥ : ﻣﺎ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺴﺘﻘﺮﺍ : ﻛﺎﻟﻤﺴﻠﻢ ﻓﻴﻪ ﻭﺍﻷﺟﺮﺓ ﻗﺒﻞ ﺍﺳﺘﻴﻔﺎﺀ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ ﺃﻭ ﻣﻀﻲ ﺯﻣﺎﻧﻬﺎ ، ﻭﺍﻟﻤﻬﺮ ﻗﺒﻞ ﺍﺳﺘﻴﻔﺎﺀ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ ﺃﻭ ﻣﻀﻲ ﺯﻣﺎﻧﻬﺎ ﻭﺍﻟﻤﻬﺮ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺪﺧﻮﻝ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ، ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﻮﻉ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻳﻮﻥ ﻳﺠﻮﺯ ﺗﻤﻠﻴﻜﻪ ﻣﻤﻦ ﻫﻮ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﻐﻴﺮ ﻋﻮﺽ ، ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﺇﺳﻘﺎﻃﺎ ﻟﻠﺪﻳﻦ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺪﻳﻦ ، ﻭﻻ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻌﻪ . ﺃﻣﺎ ﺗﻤﻠﻴﻜﻪ ﺑﻌﻮﺽ ، ﻓﻘﺪ ﻓﺮﻕ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﺑﻴﻦ ﺩﻳﻦ ﺍﻟﺴﻠﻢ ﻭﺑﻴﻦ ﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻳﻮﻥ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺮﺓ . ﻭﺑﻴﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻠﻲ

- Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaituyyah 22 / 130 :

الموسوعة الفقهية الكويتية

ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻟﺪﻳﻮﻥ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﻓﻲ ﺟﻮﺍﺯ ﺗﻤﻠﻴﻜﻬﺎ ﻣﻤﻦ ﻫﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﻌﻮﺽ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﻟﻴﻦ : ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻟﻠﺤﻨﺎﺑﻠﺔ : ﻭﻫﻮ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺑﻴﻌﻬﺎ ﻣﻤﻦ ﻫﻲ ﻋﻠﻴﻪ ، ﻷﻥ ﻣﻠﻜﻪ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻏﻴﺮ ﺗﺎﻡ . ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻟﻠﺤﻨﻔﻴﺔ ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ : ﻭﻫﻮ ﺟﻮﺍﺯ ﺑﻴﻌﻬﺎ ﻣﻤﻦ ﻫﻲ ﻋﻠﻴﻪ ، ﻛﺎﻟﺪﻳﻮﻥ ﺍﻟﺘﻲ ﺍﺳﺘﻘﺮ ﻣﻠﻚ ﺍﻟﺪﺍﺋﻦ ﻋﻠﻴﻬﺎ ، ﺇﺫ ﻻ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻨﻬﺎ

- kitab Nihayatuzzain halaman 241:

ـ ( وملك مقترض ) شيئا مقرضا ( بقبض ) بإذن مقرض وإن لم يتصرف فيه بما يزيل الملك فينفقه

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00