Menjadi Mukmin Yang Benar

Mutiara Alquran
Foto: 
ilustrasi

Menjadi Mukmin Yang Benar

Nusantaramengaji.com - Allah berfirman dalam surah Al Hujurat ayat 14 sebagai berikut;

{قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ}

Artinya; Orang-orang Arab Badui itu berkata, "Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, 'Kami telah tunduk,' karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 14)

Dari makna ayat ini, Imam Ibnu Kastir menyimpulkan,  bahwa iman itu pengertiannya lebih khusus daripada Islam, seperti yang dikatakan oleh mazhab Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Pengertian ini diperkuat dengan adanya hadis Jibril a.s. ketika ia bertanya (kepada Nabi Saw.) tentang Islam, kemudian iman, dan terakhir tentang ihsan. Dalam pertanyaannya itu ia memulai dari yang umum, kemudian kepada yang khusus, lalu kepada yang lebih khusus lagi.

Hal tersebut diperkuat dengan Hadis Riwayat Ahmad dari Sa’ad bin Abi Waqash berikut ini;

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَر، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عَامِرُ بْنُ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: أَعْطَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رِجَالًا وَلَمْ يُعْطِ رَجُلًا مِنْهُمْ شَيْئًا، فَقَالَ سَعْدٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَعْطَيْتَ فُلَانًا وَفُلَانًا وَلَمْ تُعط فُلَانًا شَيْئًا، وَهُوَ مُؤْمِنٌ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَوْ مُسْلِمٌ" حَتَّى أَعَادَهَا سَعْدٌ ثَلَاثًا، وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "أَوْ مُسْلِمٌ" ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنِّي لَأُعْطِي رِجَالًا وَأَدَعُ من هو أحب إليّ منهم فلم أعطيه شَيْئًا؛ مَخَافَةَ أَنْ يُكَبُّوا فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ".

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari Amir ibnu Sa'd ibnu Waqqas, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. memberi bagian kepada banyak laki-laki, tetapi tidak memberi seseorang dari mereka barang sedikit pun. Maka Sa'd ibnu Abu Waqqas r.a. bertanya, "Wahai Rasulullah, engkau telah memberi Fulan dan Fulan, tetapi engkau tidak memberi si Fulan barang sedikit pun, padahal dia seorang mukmin?" Maka Rasulullah Saw. balik bertanya, "Bukankah dia seorang muslim?" Sa'd mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali, dan selalu dijawab oleh Nabi Saw. dengan pertanyaan, "Bukankah dia seorang muslim?" Kemudian Nabi Saw. bersabda: Sesungguhnya aku benar-benar memberi bagian kepada banyak laki-laki dan aku tinggalkan seseorang yang lebih aku sukai daripada mereka (yang kuberi bagian) tanpa memberinya sesuatu pun, karena aku merasa khawatir bila kelak Allah akan menyeret mereka ke dalam neraka dengan muka di bawah. Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini melalui Az-Zuhri dengan sanad yang sama.

Dalam hadis ini Nabi Saw. membedakan antara orang mukmin dan orang muslim; hal ini menunjukkan bahwa pengertian iman itu lebih khusus daripada Islam. Kami telah menerangkan hal ini berikut dalil-dalilnya dalam syarah Imam Bukhari Kitabul Iman.

Oleh karena itu, Islam, Iman dan Ihsan, merupakan tiga serangkai ajaran Islam yang tidak bleh dipisahkan. Kurang salah satunya akan mengurangi keislaman seseorang dihadapan Allah dan rasulnya. Maksudnya, melakukan rukun-rukun Islam saja tidak cukup tapi juga harus diresapi oleh rasa keimanan yang kuat. Jika iman seseorang menjadi kuat maka ia tidak akan takut terhadap apapun dan dalam kondisi bagaimanapun. Maksudnya,  Kalau solat tidak hanya menggugurkan kewajiban. Berpuasa tidak hanya menahan lapar tapi seluruh amal/rangkaian ibdahnya hanya murni karena dan untuk Allah semata.

Semua amal ibadah, jiwa dan raga serta hartanya akan disalurkan hanya untuk amal yang diridhai  Allah dan rasulnya. Inilah kenapa Iman dalam ayat tersebut lebih bermakna khusus daripada Islam/ tunduk dan patuh yang bersifat umum. Kalau Islam menyangkut aspek lahir maka iman menyangkut aspek batin/hati seseorang. Sedangkan ihsan mencakup aspek perbuatnnya/akhlaknya.

Jika aspek keislaman seseorang sudah baik, keimananya juga sudah meresap kedalam hati, maka dipastikan semua perbuatannya akan bernilai kebaikan (Ihsan). Karena aspek ihsan ini merupakan wujud dari keislaman dan keimanan seseorang. Orang yang berislam saja belum tentu berihsan, juga orang yang beriman saja belum tentu berihsan tapi orang yang berihsan sudah pasti berislam dan beriman. Karena berihsan berarti ia telah mencapai tingkat keislaman dan keimanan yang tertinggi di mana yang ada hanya Allah sedang yang lain tidak ada. Artinya ketika ia berbadah atau bermuamalah yang dituju hanya Allah dan karena Allah. Orang berihsan akan selalu merasa di awasi oleh-Nya sehingga ia tidak berani berbuat diluar syariahnya.

Hal tersebut berbeda dengan orang yang hanya ibadahnya yang tampak tapi masih sering maksiat atau beriman saja tapi masih sering tidak solat dan puasa misalnya di mana penekanan pada masing-masing akan mengurangi yang lainnya, tapi jika seseorang sudah mencapai ihsan, ia tidak ragu lagi bahwa ia telah mencapai tingkatan tertinggi dari maqam islam dan iman.

Namun demikian, ketiga kategori tersebut meski secara istilah dibedakan tapi secara makna atau substansinya sama saja sebagai waujud dari islam yang Kaffah. Ketiga istilah tersebut hanya digunakan untuk menggambarkan maqam seseorang dalam kedekatannya kepada Allah SWT. Artinya, ingin menunjukkan dan mengajarkan kepada kita tentang maqam-maqam yang harus ditemapuh dalam mendekatkan diri kepada Allah. Inilah kira-kira makna ayat 14 surah Al Hujurat di atas. Wallahu A’lam Bisshowab. (Lutfi Sy)  

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00