Mengungkap Hakekat Makna Puasa

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Mengungkap Hakekat Makna Puasa

Nusantaramengaji.com - Di antara perintah Allah untuk menyelamatkan hambanya adalah berpuasa. Bahkan Allah memilih satu bulan yang secara khusus diwajibkan bagi hambanya berpuasa, yaitu bulan Ramadhan. Sebuah Bulan yang di dalamnya penuh ampunan dan rahmat karena pada bulan ini semua dosa-dosa yang lalu diampuni. Secara bahasa kata Ramadhan berasal dari kata Ramadha’ yang berarti terbakarnya kayu/batu dan biasa terjadi pada musim panas sehingga orang-orang Arab memberi nama musimnya dengan bulan Ramadhan. Dengan akar kata ini dimaksudkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan pembakaran dosa-dosa melalui perintah untuk bepuasa.

Pada bulan Ramadhan umat Islam berlomba-lomba melakukan kebaikan. Tidak ada bulan yang lebh baik dan mulia daripada bulan Ramadhan. Allah membalas semua kebaikan hambanya dengan berlipat-lipat tanpa ada yang dapat mengetahui dan mengukurnya selain Allah sendiri. Jika amal Bani Adam di luar Ramadhan dilipat gandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus maka pada bulan Ramadhan balasan atas kebaikan menjadi luar biasa dan tidak terbatas.

Pada bulan puasa tersebut, pintu-pintu langit terbuka, pintu neraka tertutup dan syetan-syetan dibelenggu. Rahmat dan berkah Allah mengalir memenuhi semesta dan kaum setan tak dapat berkutik dan putus asa karena semua dosa Bani Adam yang berpuasa akan diampuni. Puasa yang dilakukan penuh rasa keimanan dan pengharapan menjadikannya seperti bayi yang baru lahir, bersih tanpa noda.

Seperti dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah r.a, beliau berkata bahwa Nabi SAW bersabda;

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِى مُنَادٍ يَا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِىَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Pada malam pertama bulan Ramadhan syetan-syetan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun pintu yang tertutup, ketika itu ada yang menyeru: “Wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah”. Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan”.

Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya bulan Ramadhan. Terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu neraka memiliki makna orang lebih mementingkan ketaatan kepada Allah dan menjauhi maksiat pada bulan ini. Memilih kebaikan daripada kemaksiatan karena setiap kebaikan yang dilakukan akan mendapat pahala berlipat ganda dan terhapusnya setiap dosa. Oleh karena itu, pada bulan ini para syetan menjadi putus asa dan terbelenggu diikat dengan puasa dan pahala kebikan yang berlapis-lapis.

Bagaimana syetan tidak kecewa dan putus asa jika dengan puasanya itu seseorang terbebas dari dosa dan api neraka. Sungguh setan merasa sia-sia dan kecewa terhadap datanganya bulan Ramadhan. Upayanya selama satu tahun gagal total dengan diampuninya segala dosa dan dilipat-gandakannya semua pahala kebaikan.  Jika pelaku kebaikan bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan sebaliknya pelaku keburukan menjadi bersedih karena terhalangnya pemenuhan syahwat nafsunya.

Maka tidaklah heran jika pada bulan puasa semua masjid dan mushola penuh dengan jamaah meski sebelumnya mereka malas-malasan ke masjid, ayat-ayat Al Qur’an dilantunkan di mana-mana dan di setiap waktu, sholat taraweh dan tahajjud tiba-tiba menjadi marak, orang-orang banyak bersedekah dengan suka rela, kaum dhuafa’ pun bergembira ria dengan keberkahan bulan penuh berkah ini. Sungguh bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan berkah dari Allah SWT.

Imam An Nakha’i rahimahullah pernah mengatakan, “Puasa sehari di bulan Ramadhan lebih utama dari puasa seribu hari di bulan lainnya. Begitu pula satu bacaan tasbih di bulan Ramadhan lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di hari lainnya. Begitu juga pahala satu raka’at shalat di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu raka’at di bulan lainnya.

Oleh karena itu, wajib bagi kaum muslimin untuk tidak menyia-nyiakan rahmat dan berkah Allah dalam bulan Ramadhan. Semua hal yang sia-sia dan tidak mendatangkan manfaat seharusnyalah dihindari dan mengisinya dengan sesuatu yang bernilai pahala. Janganlah kita menjadi orang yang merugi ketika Ramadhan pergi sedang amalan kita cuma sedikit. Ibarat perniagaan kita mengabaikan diskon besar-besaran yang diberikan Allah berupa ampunan dari dosa dan murahnya harga pahala yang diberikan.

Tentunya puasa yang kita lakukan bukan sekedar menahan lapar dan dahaga tapi lebih dari itu menahan dari hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasa, seperti, menggunjing, fitnah, riya, dan lain sebaginya. Artinya puasa itu harus lakukan dengan sungguh-sungguh penuh keimanan karena melaksanakan perintah Allah dan penuh pengharapan akan ampunan dan rahmat-Nya. 

Seperti sabda Rasulullah SAW dalam riwayat Muslim, yang mengatakan;

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.”

Makna pengampunan dosa di sini, menurut mayoritas ulama adalah ampunan dari dosa-dosa kecil. Namun tentu saja selama perbuatan itu berkaitan dengan maksiat dan dosa maka tidaklah layak mengistilahkannya dengan dosa kecil atau besar karena sejatinya perbuatan dosa bukan terletak pada kecil-besarnya tapi kepada siapa dosa itu dilakukan. Jika demikian halnya maka setiap dosa adalah pelanggaran berat karena tidak mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dan puasa yang dilakukan dengan penuh keimanan akan dapat menghapus dosa seseorang.

Oleh karena itu, bulan Ramadhan adalah bulan ibrah untuk diambil teladan betapa pentingya puasa bagi seseorang dalam menahan dan menghindari dosa. Dalam perintah puasa sejatinya terkandung makna menaklukkan hawa nafsu. Karena hawa nafsu selalu mengajak kepada kemaskiatan dan melapui batas. Ciri hawa hawa nafsu, menurut para ulama, adalah upaya pemenuhan kesenangnnya yang terus berulang, tak pernah berhenti dan selalu menuntut untuk dipenuhi bagaimanapun caranya. Prinsipnya adalah kesenangan.

Puasa, menurut para ulama, adalah cara paling ampuh menundukkan hawa nafsu dan puasa merupakan rukun pertama, sebelum yang lainnya, dalam menaklukkannya. Menurut Yahya bin Ma’adz Arrazi; rasa kenyang itu seperti api sedangkan hawa nafsu seperti kayu yang menyebabkan terbakar dan tidaklah api itu padam sampai ia membakar pemiliknya. Jadi, syahwat/hawa nafsu itu timbul dan menyala dari perut yang kenyang dan menjerumuskannya dalam kehancuran.  

Imam Al Bushiri menggambarkan nafsu itu seperti anak kecil yang senang menyusu. Jika tidak segera disapihnya/dihentikan maka ia akan terus menyusu. Sedangkan Ibnu Athaillah menggambarkan nafsu itu seperti istri kita yang sedang berada dikedai arak. Kalau tidak ditegur dan dimarahi tapi malah diberi pakaian bagus dan makanan yang enak-enak maka ia akan enggan pergi dari situ. Padahal tugas kita sebagai suami adalah menegur dan menghentikannya. Jika tidak mau maka kita berhak meninggalkannya. Bagitu pula dengan nafsu kalau dibiarkan ia akan betah di situ tapi jika ia diperingatkan dan di usir maka ia kan tunduk dan kembali ke jalan Allah.  Dan salah satu cara mengendalikan hawa nafsu ini adalah dengan kembali kepada ketaatan dengan cara berpuasa untuk mempersempit ruang gerak nafsu.  

Dengan demikian, makna sejati puasa adalah melawan hawa nafsu dan menundukkanya untuk selalu berada di jalan Allah. Nafsu yang dimaksud di sini adalah nafsu Ammarah yang selalu mengrah kepada kesesatan sehingga kalau tidak ditundukkan ia akan menjerumuskan kita pada kemaksiatan dan dosa. Orang yang menjadikan puasa sebagai riyadhohnya menuju Allah akan selalu tenang dan tidak pernah merasa resah (Nafsul Muthmainnah) karena sejatinya yang membuat seseorang itu gelisah dan tidak bahagia adalah membiarkan hawa nafsu terus bersemayam dihatinya. Wallahu a’lam Bisshowab. (Lutfi Syarqawi)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00