Menguak Makna Penamaan Surah Alquran Dalam Prespektif Struktur (Bagian-II)

Oleh: H. Ziyad Ulhaq., SQ., MA (Kandidat Doktor Tafsir IIUM (Internasional Islamic University Malaysia)  

Selain tersirat pada struktur dan formatnya yang selama ini di kaji dan dituturkan Khalifah, Psikologi juga tersurat dalam ayat Alquran secara verbal. Tentu, untuk mengungkapkanya diperlukan pendekatan Tafsir. Berikut ini, penulis ketengahkan beberapa spesifikasi (tabiat, tingkahlaku, sepakterjang) makhluk bernama manusia, yang oleh para ilmuan abad modern disebut sebagai Psikologi. Informasi ini tersirat secara indah dalam untaian kalam suci, Alqan al Karim. (bersambung) 1. Rasa bersalah. Alquran membedakan antara Ruh, Jasad dan Nafsu yang menyatu dalam diri produk makhluk bernama manusia. Ayat-ayat yang menyinggung masalah ini pun bertebaran dalam banyak surah-surah Alquran. Salah satu hasil dari kombinasi ketiga unsur dalam menusia tersebut adalah timbulnya rasa bersalah ketika manusia melakukan atau melanggar sesuatu yang dilarang Allah SWT. Kenapa demikian? Sebab, sesuatu yang titahkan dan dilarang oleh Allah SWT itu bersifat fitrah dan selaras dengan hati nurani manusia. Ketika manusia melanggar, pada saat yang bersamaan Ia akan tersentuh hati nuraninya. Hati nuraninya (fitrah)nya akan berontak. Nah, disinilah manusia sebagai makhluk yang berakal diuji; antara mendengarkan hati nuraninya yang selanjutnya diaplikasikan dengan sikap meninggalkan atau tidak jadi melanggar ketentuan Allah SWT. Sebaliknya, Ia tetap melanggar perintah atau larangan Allah SWT dengan bersikap pura-pura budeg atau tuli terhadap suara hati nuraninya. Alquran telah menceritakan bagaimana tersiksanya perasaan tiga orang sahabat yang secara sengaja tidak mengikutsertakan dirinya berperang tanpa udzur apapun, di saat Rasulullah saw bersama para sahabatnya yang lain saw berjihad mempertaruhkan nyawa mereka demi kejayaan Islam. Simak ayat berikut:

        

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) kepada mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi meraka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang".. (QS. 9:118) Dan juga, “Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik". (QS. 9:120) Ayat di atas mengisyaratkan bahwa di saat mereka menolak untuk berangkat berperang, hati nurani mereka protes. Namun, mereka berusaha memendam dalam-dalam suara jernih nan suci (fitrah) yang timbul dari hati yang paling dalam. Tak ayal, mereka pun sangat menyesal dan bahkan cenderung menyalahkan diri mereka. Digambarkan dalam ayat tersebut seakan-akan mereka merasa bumi ini menyempit dan menjepit mereka sehingga nafas mereka tersengal-sengal. Mereka merasa bahwa perbuatan yang telah mereka lakukan merupakan dosa atau kesalahan yang tak terampuni. Akhirnya, mereka bertaubat tidak mengulanginya kembali. 2. Instink Survive (mempertahankan hidup, diri). Tanpa disadari, manusia, memiliki sikap mempertahankan diri dari kemusnahan ketika ada bahaya yang mengancam dirinya. Ibarat sebuah warning sistem yang setiap saat akan berbunyi saat bahaya muncul. Instink itu mendorong manusia tanggap dan segera menghindarkan diri dari ancaman yang tertuju padanya. Refleks yang muncul dapat berupa sikap menangkis secara fisik atau lari dari objek yang mengancamnya. Jauh sebelum Nabi Muhammad saw diutus, melalui Alquran yang diturunkan kepadanya, Allah SWT telah mengisyaratkan bagaimana sekelompok manusia menyelamatkan diri dari ancaman pembunuhan yang mengancam jiwa mereka. Simak ayat berikut:

(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo'a: "Wahai Rabb kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)". (QS. al Kahfi, 18:10) Mereka lari menyelamatkan diri ke sebuah Gua sampai Allah SWT menidurkan mereka selama kurun waktu 309 tahun lamanya. Ketidaksadaran mereka menghuni Gua selama ratusan tahun itulah yang kemudian menyebabkan mereka dikenal sebagai Ashhaabul Kahfi (penghuni Gua). Pernahkah kita menyangka, kita akan dapat berlari sangat kencang melebihi kecepatan pelari profesional begitu kita dikejar Anjing misalnya, sementara pada saat yang berbeda, kemampuan lari kita dalam keadaan normal mungkin tidak begitu cepat bahkan boleh dikatakan lambat.

Ini-lah yang digambarkan pada ayat berikut ini:

      

"Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka". (QS. 18:18). (bersambung).

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00