Menggerakkan Jari Telunjuk Saat Tahiyyat/Tasyahhud

Fikih
Foto: 
Ilustrasi

Menggerakkan Jari Telunjuk Saat Tahiyyat/Tasyahhud

Nusantaramengaji.com - Ketika melaksanakan solat ada sebagain jamaah ketika sedang tasyahhud mengerak-gerakkan jari telunjuknya ke atas dan ke bawah atau ke kiri atau ke kanan. Hal tersebut bagi kalangan awam yang biasanya hanya mengangkat telunjuk dan tidak menggerak-gerakkannya menjadikan fenomena aneh yang tidak jarang menimbulkan perselisihan yang merugikan kedua pihak secara keseluruhan.

Lalu bagaimana sebenarnya praktek tasyahhud dengan mengangkat telunjuk dan menggerak-gerakkannya, apakah ada hadisnya dari nabi dan bagaimana pula dengan yang mendiamkannya (tidak menggerak-gerakkan jari telunjuknya) ?

Para ulama berbeda pendapat terkait dengan tata cara atau posisi telunjuk ketika sedang tasyahud dengan penjelasan sebagai berikut:  

Terkait hujjah mengangkat telunjuk tapi tidak menggerak-gerakkanya pada saat tasyahud adalah sebagai berikut :ا

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau berisyarat dengan telunjuknya bila beliau berdoa dan beliau tidak mengerak-gerakkannya”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunan-nya no.989, An-Nasai dalam Al-Mujtaba 3/37 no.127, Ath-Thobarany dalam kitab Ad-Du’a no.638, Al-Baghawy dalam Syarh As-Sunnah 3/177-178 no.676. Semua meriwayatkan dari jalan Hajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij dari Muhammad bin ‘Ajlan dari ‘Amir bin ‘Abdillah bin Zubair dari ayahnya ‘Abdullah bin Zubair.

hadis lainnya adalah:

“Dari Ibnu ‘Umar - radhiyallahu ‘anhu - adalah beliau meletakkan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan (meletakkan) tangan kirinya diatas lutut kirinya dan beliau berisyarat dengan jarinya dan tidak menggerakkannya dan beliau berkata : “Sesungguhnya itu adalah penjaga dari Syaitan”. Dan beliau berkata : “adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakannya”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqot 7/448 dari jalan Katsir bin Zaid dari Muslim bin Abi Maryam dari Nafi’ dari Ibnu Hibban.

Dari Nafi’ beliau berkata:

"Abdullah bin ‘Umar apabila duduk di dalam shalat meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya dan memberi isyarat dengan jarinya, dan menjadikan pandangannya mengikuti jari tersebut, kemudian beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ini lebih keras bagi syetan dari pada besi, yaitu jari telunjuk” (HR ِAhmad).

dalam hadis lain disebutkan;

"Dari Abdullah bin Umar bahwasanya beliau melihat seorang laki-laki menggerakan kerikil ketika shalat, ketika dia selesai shalat maka Abdullah berkata: Jangan engkau menggerakkan kerikil sedangakan engkau shalat, karena itu dari syetan. Akan tetapi lakukan sebagaimana yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan. Maka beliau meletakkan tangan kanannya di atas pahanya dan mengisyaratkan dengan jari disamping jempol (yaitu jari telunjuk) ke arah qiblat, kemudian memandangnya, seraya berkata: Demikianlah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan". (HR. An-Nasa’i)

Adapun landasan hadis menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tahiyyat/tasyahhud dalam shalat adalah sebagai berikut:

"Dari Wail bin Hijr, bahwa Nabi saw meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya dan lutut kirinya, dan menjadikan batas siku kanannya di atas paha kanannya, lalu menggenggam di antara jari-jarinya sehingga membentuk suatu bundaran. Dalam riwayat lain: beliau membentuk bundaran dengan jari tengah dan ibu jari, dan memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuknya. Kemudian beliau mengangkat jarinya sehingga aku melihatnya beliau menggerak-gerakkanya sambil membaca doa" (HR: Ahmad).

dua hadis dibawah ini juga dijadikan hujjah namun, tidak menunjukkan secara jelas kecuali hanya menunjuk dengan jari telunjuk;

"Dari Ibnu Umar ra: bahwa Nabi saw jika duduk untuk tasyahhud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan membentuk angka “lima puluh tiga”, dan memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuknya” (HR: Muslim). Yang dimaksud membentuk angka “lima puluh tiga” (dalam tulisan Arab) adalah menggenggam jari-jarinya, dan menjadikan ibu jari berada di atas jari tengah dan di bawah jari telunjuk.

"Dari Ibnu Zubair: bahwa Nabi saw memberi isyarat (menunjuk) dengan jarinya jika dia berdoa dan tidak menggerakkannya. (HR Abu Daud dengan isnad yang shahih – disebutkan oleh imam Nawawi)"

Dari katiga hadits tersebut menurut Imam al-Baihaqi menyatakan bahwa hadits pertama yang menyatakan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan saat tasyahhud kemungkinan maksudnya adalah isyarat (menunjuk), bukan diulang-ulanginya gerakkan, karena cocok dengan hadits ketiga yang menyatakan tidak digerakkannya jari telunjuk tersebut.

Lalu bagaimana menurut para ulama madzab tentang apakah saat tasyahhud jari telunjuk digerak-gerakkan atau tidak?

1. Ulama mazhab Syafi’i berpendapat cukup memberi isyarat (menunjuk) jari sekali saja, yakni saat kalimat illalla (الاالله) diucapkan dari lafadz syahadat (Asyhadu alla ilaaha illallah).

2. Ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa memberi isyarat (menunjuk) atau mengangkat jari dilakukan pada saat lafadz nafi, yakni lafadz Laa (dari lafadz Laa Ilaaha illallah), kemudian meletakkannya kembali pada saat lafadz illallah.

3. Ulama mazhab Maliki berpendapat bahwa memberi isyarat (menunjuk) dilakukan pada lafadz nafi juga, yakni lafadz Laa, dan meletakkannya kembali pada saat itsbat, yakni lafadz illallah, kemudian menggerak-gerakkannya ke kanan dan ke kiri hingga selesai salat.

4. Sedangkan mazhab Hambali berpendapat bahwa memberi isyarat (menunjuk dengan jari) dilakukan saat disebut isim jalalah/nama agung atau lafadz Allah selama membaca tasyahhud (bukan hanya pada saat membaca syahadatain saja). Hal itu sebagai isyarat tauhid (keesaan Allah). Dan tidak digerak-gerakkannya jari telunjuk itu. (lihat Sayid Sabiq, fiqih Sunnah, Dar el-Fikr Beirut, Th 1995M/1415H, jilid 1, hal. 124-125)

Imam an Nawawi berkata : “Disunatkan mengangkat jari telunjuk dari tangan kanan ketika melafazkan huruf ‘hamzah’ pada kalimah (Illallah) sekali saja tanpa menggerak-gerakkanya. [Fatawa Imam an Nawawi hal.54].

Imam Al-Baihaqi mengatakan “Yang dipilih oleh ahli ilmu dari kalangan sahabat dan tabi’in serta orang-orang setelah mereka adalah berisyarat dengan jari telunjuk (tangan) kanan ketika mengucapkan tahlil (la ilaaha illallah) dan (mulai) mengisyarat-kannya pada kata illallah….”. (Syarh As-Sunnah III:177)

Syaikh Wahbah Zuhaili dalam kitabnya yang fenomenal Fiqh al Islami, ketika menjelaskan bab sunnah meletakkan kedua tangan pada kedua paha, meskipun beliau menyebutkan tatacara berisyarat jari dalam tasyahud menurut mazhab lain, namun beliau awali dengan perkataan “Posisi kedua tangan dipaha lurus kedepan hingga ujung jari-jarinya diatas kedua lutut kecuali jari telunjuk kanan yang diangkat ketika membaca syahadat dalam tasyahud.” [Fiqh al Islami wa Adillatuhu (2/89)]

Dengan demikian, pendapat yang membolehkan mengangkat jari telunjuk dan menggerak-gerakanya adalah pendapat ulama madzab Maliki sedangkan Jumhur ulama lainnya mengatakan hanya mengangkat jari telunjuk dan tidak menggerakkanya. Wallahu A'lam Bisshowab. (NM)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00