Mengenal Tingkatan Salat

Bagi setiap muslim yang sudah baligh wajib baginya untuk menjalankan salat. Dalam Alquran perintah menegakkan salat tercatat sebanyak 12 kali dengan menggunakan lafaz “Aqiimush shalaata” yang bermakna “dirikanlah salat”.

Salat tidak saja menjadi ladang mencari pahala bagi seorang mukmin, namun juga salat dapat mencegah dari perbuatan yang merusak. Allah berfirman dalam Alquran Surah. Al-Ankabuut yang artinya "Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar….”.(Q.S. Al-Ankabuut  ayat 45)

Dalam menjalankan ibadah salat kita juga dituntuk untuk melakukannya dengan khusu’, hal itu demi kesempurnaan salat yang dilakukan. Banyak  ayat yang mengingatkan agar salat dilakukan dengan khusu’. Diantaranya ayat berikut

"Peliharalah segala shalatmu, dan peliharalah shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’." (al-Baqarah: 238)

"Dan mintalah pertolongan [kepada Allah] dengan sabar dan [mengerjakan] shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’." (al-Baqarah: 45)

Berbicara mengenai salat, Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengklasifikasinya  kedalam lima tingkatan shalat :

Pertama.  Tingkatan orang yang zhalim kepada dirinya dan teledor. yaitu, orang yang kurang sempurna dalam melakukan wudhunya, waktu shalatnya, batas-batasnya dan rukun-rukunnya.

Dua. Orang yang bisa menjaga waktu-waktunya, batas-batasnya, rukun-rukunnya yang sifatnya lahiriyah, dan juga wudhunya, tetapi tidak berupaya keras untuk menghilangkan bisikan jahat dari dalam dirinya. Maka dia pun terbang bersama bisikan jahat dan pikirannya.

Tiga. Orang yang bisa menjaga batas-batasnya dan rukun-rukunnya. Ia berupaya keras untuk mengusir bisikan jahat dan pikiran lain dari dalam dirinya, sehingga dia terus-menerus sibuk berjuang melawan musuhnya agar jangan sampai berhasil mencuri shalatnya. Maka, dia sedang berada di dalam shalat, sekaligus jihad.

Empat. Orang yang melaksanakan shalat dengan menyempurnakan hak-haknya, rukun-rukunnya, dan batas-batasnya. Hatinya larut dalam upaya memelihara batas-batas dan hak-haknya, agar dia tidak menyia-nyiakan sedikitpun darinya. Bahkan seluruh perhatiannya tercurah untuk melaksanakannya sebagaimana mestinya, dengan cara yang sesempurna dan selengkap mungkin. Jadi, hatinya dirasuki oleh urusan shalat dan penyembahan kepada Tuhan di dalamnya.

Lima. Orang yang melaksanakan shalat dengan sempurna. Dia mengambil hatinya dan meletakkannya di hadapan Tuhan. Dia memandang dan memperhatikanNya dengan hatinya yang dipenuhi rasa cinta dan hormat kepadaNya. Dia melihatNya dan menyaksikanNya secara langsung. Bisikan dan pikiran jahat tersebut telah melemah. Hijab antara dia dengan Tuhannya telah diangkat. Jarak antara shalat semacam ini dengan shalat yang lainnya lebih tinggi dan lebih besar daripada jarak antara langit dan bumi. Di dalam shalatnya, dia sibuk dengan Tuhannya. Dia merasa tenteram lewat shalat.

Bagaimana dengan salat kita? Mari kita tingkatkan kualitas ibadah salat untuk menyempurnakan  pahala kita. Semoga bermanfaat. (Nusantara Mengaji)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00