Meneladani Sifat Tawadhu' Nabi

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Meneladani Sifat Tawadhu' Nabi

Nusantaramengaji.com - Sikap Tawadhu’ merupakan sifat para Rasul, Shabat dan Auliya’Nya. Tidak semua orang dapat memeiliki sifat ini jika memang tidak dikehendaki Allah. Beruntunglah orang yang mendapat sifat tawadhu’ ini karena ia dapat menjalani kehidupan ini dengan tenang, jauh dari hawa nafsu, ambisi duniawi. Orang yang tawadhu’ semua amalnya diserahkan kepada Allah SWT, dengan ikhlas dan ridha ia akan menerima semua ketentuannya.

Tawadhu’ sebagaimana sifat hati lainnya memerlukan riyadhah atau latihan khusus untuk bisa mencapainya. Ia tidak sekonyong-konyong bisa diperoleh hanya karena pujian dari orang lain atau diam-diam dari dirinya. Hanya Allah yang dapat mengetahui isi hati seseorang, bisa jadi ia dihadapan orang terlihat suka menunduk, tutur katanya ramah dan sopan dan jauh dari sifat dan kata-kata sombong. Namun ternyata di dalam hatinya ada ujub dan ingin dipuji dari sikapnya yang demikian.

Oleh karena itu, tawadhu’ itu sebuah karunia dari Allah yang bisa diraih dengan cara riyadhah atau berguru pada seorang penunjuk jalan spiritual (Mursyid). Mungkin Wasiat Nabi terhadap Abu Dzar ini dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari riyadhah bati:

Sebuah hadis merekam dialog menarik sahabat nabi Abu Dzar Al-Ghiffari dengan Rasulullah SAW. ''Berilah saya wasiat (maksudnya beri saya pelajaran), wahai Rasulullah!

 Rasulullah bersabda, ''Saya wasiatkan kepadamu supaya bertakwa kepada Allah, sebab takwa itu adalah pokok segala urusan! Sahabat itu rupanya belum puas. ''Tambah, ya Rasulullah!'' ''Biasakanlah membaca Alquran, karena itulah cahaya bagi kamu di dunia dan menjadi sebutan bagi kamu di langit,'' jawab Rasulullah.

 ''Tambah, ya Rasulullah!'' ''Janganlah terlalu banyak tertawa terbahak-bahak, sebab hal itu mematikan hati dan memadamkan cahaya muka.'' ''Tambah, ya Rasulullah!'' ''Banyaklah menahan bicara kecuali untuk menyampaikan kebaikan. Sebab, sikap demikian menghalau setan dan menolongmu dalam urusan-urusan keagamaan.'' ''Tambah, ya Rasulullah!'' ''Cintailah orang-orang yang miskin, bergaullah di tengah-tengah mereka.''

''Tambah, ya Rasulullah!'' ''Lihatlah kepada orang-orang yang di bawahmu, jangan kepada orang-orang yang ada di atasmu. Sebab, hal demikian akan menjadi tirai yang menutupi nikmat Allah kepadamu.'' ''Tambah lagi, ya Rasulullah!'' ''Jagalah hubungan silaturahim dengan kerabatmu, walaupun mereka memutuskan hubungan.

''Tambah, ya Rasulullah!'' ''Jangan takut pada jalan Allah lantaran dicela manusia.'' ''Tambah lagi, ya Rasulullah!'' ''Katakanlah kebenaran (al-haq) itu, walaupun pahit." Abu Dzar masih minta tambahan wasiat mengenai intisari ajaran Islam.

 Rasulullah terakhir menjawab, ''Akan datang dari manusia kepadamu berita yang engkau tahu tentang kesalahan dirimu sendiri dan engkau tidak merasa marah pada mereka tentang apa yang diceritakannya itu. Adalah suatu aib, jika engkau baru ketahui dan sadari kesalahan yang kamu lakukan setelah hal itu jadi perbincangan orang lain.''

Hadis di atas, mengajarkan tentang budi pekerti dan kepribadian seorang Muslim yang hanif. Dalam rangka memelihara kesempurnaan hubungan dengan Allah, setiap Muslim diingatkan agar selalu memperhatikan perilaku keseharian biar pun berkenaan dengan hal-hal yang kadang dipandang sepele. Perilaku seorang Muslim selalu dihubungkan dengan nilai keimanan kepada Allah. Rasulullah bersabda, ''Sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan kalau kau tidak melihat-Nya, ketahuilah bahwa Ia melihatmu.'' Demikian, wallahu A’lam

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00