Membumikan Alquran dalam Kehidupan

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Membumikan Alquran dalam Kehidupan

Nusantaramengaji.com - Ungkapan “Membumikan Alquran” secara implisit atau kiasan mengandungi makna bahwa Alquran kini masih “Melangit” sehingga perlu diturunkan lagi ke bumi. Perkataan “Membumikan Alquran” memberi isyarat betapa “jauhnya” Alquran dari kenyataan kehidupan yang kita hadapi. Padahal idealnya al-Quran itu seharusnya “dekat” dengan kita. Jadi “membumikan Alquran” mengandung pengertian adanya upaya untuk mewujudkan “yang jauh” menjadi “yang dekat”.

Agar dapat mewujudkan kondisi “Membumikan Alquran” yang ideal diperlukan upaya konkrit yang mendasar berupa aktivitas memahami dan menerapkan Alquran di dalam realitas kehidupan. “Memahami” Alquran adalah aktivitas yang pertama, sedangkan buahnya adalah penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Barangkali dari sinilah, maka “Membumikan Alquran” dapat diartikan sebagai upaya memahami dan menerapkan Alquran secara sempurna dalam realitas kehidupan.

Membumikan Alquran adalah mengembalikan Alquran pada kedudukan dan fungsi sebenarnya, yaitu dengan cara mengaplikasikan seluruh syari’at atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Usaha suci ini tidak akan tercapai tanpa kesungguhan dari individu maupun kelompok untuk membangun kesadaran bersama tentang betapa pentingnya Alquran dijadikan pedoman dalam konteks ruang dan waktu kapanpun dan di manapun. Alquran adalah kitab amal yang sangat perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Isra’ ayat 9, yang artinya;

“Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”.

Allah SWT menegaskan di dalam ayat ini bahwa Alquran adalah petunjuk, sumber segala hukum, keyakinan, peraturan, norma, pandangan hidup dan cara berfikir kaum Muslimin, tidak hanya dalam kehidupan individu saja, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat.

Bagi seorang Muslim Mukmin kitab Alquran adalah pusaka yang sangat agung untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan. Alquran adalah buku petunjuk ke jalan yang benar. Bagi mereka yang memahami hakikat ini dan melaksanakannya dalam kehidupan maka ia akan mengalami ketenangan dan kebahagiaan lahir dan batin, keselamatan di dunia dan di akherat.

Di samping Alquran sebagai pedoman umat Islam, ada satu petunjuk lain yang tidak dapat diabaikan sebagai wujud hidup dari nilai dan ajaran Alquran, yaitu, baginda Nabi Muhammad SAW. Karakter beliau adalah karakter Alquran. Mengikuti beliau berarti mengikuti Alquran.Kedua adalah satu yang tidak boleh dipisahkan.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 36, yang artinya;

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.

Ayat ini menegaskan bahwa bagi kaum muslimin tidak ada pilihan dalam hidup ini kecuali mematuhi ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang tidak berbuat demikian, maka ia akan terjerumus di dalam kesesatan.

Di antara bukti nyata bahwa Alquran belum membumi/terapkan adalah lemahnya daya membaca/istiqomah membaca dan menghatamkan Alquran, minimal satu bulan sekali. Padahal Ayat pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca seperti yang tercantum dalam dalam lima ayat pertama dari Surah al-‘Alaq. Ayat tersebut memberi isyarat bahwa Islam sangat mementingkan dan mendorong aktivitas membaca dan memahami kandungan maknanya. Namun patut disayangkan, justru kebanyakan umat Islam lah umat yang paling malas membaca kitab sucinya dibadingkan umat-umat lain yang sudah maju.

Sikap mengabaikan Alquran ini pernah menjadi kebimbangan Rasulullah SAW sehingga Baginda SAW mengadu kepada Allah sebagaimana tercantum di dalam Alquran:

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. (Al-Furqan : 30)

Berkaitan dengan ayat ini, Imam Ibnu Kathir berkata; dalam ayat ini Nabi Muhammad SAW mengadu kepada Allah SWT tentang sikap kaumnya yang enggan memberi keutamaan kepada Alquran. Mereka enggan membacanya, malas mendengarnya, tidak berusaha memahami kandungannya, serta enggan menerapkan kandungannya di dalam kehidupan sehingga al-Quran seolah-olah tidak pernah turun ke bumi dan membimbing umat manusia ke jalan keselamatan.

Alquran tetap menjadi bahasa langit yang hanya indah diuntaian nada tapi buruk ditingkatan pelaksanaannya. Padahal makna Membaca bukan hanya dalam artian harfiah (lafzhan) tapi juga memahami makna (ma’nan) untuk selanjutnya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari (wa ‘amalan). Inilah maksud dari membumikan Alquran dalam kehidupan dengan tujuan agar al-Quran selalu dekat dengan kita, selalu bersama-sama dengan kita dalam mengarungi kehidupan dunia yang penuh tipu daya ini. Allahumma ma’al Quran. Amiiinn. (NM)   

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00