Memaknai Peristiwa Gerhana Bulan/ Matahari

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Memaknai Peristiwa Gerhana Bulan/ Matahari

Nusantaramengaji.com - Gerhana Bulan Total (GBT) diperkirakan akan terjadi di Indonesia dan beberapa negara lainnya pada Rabu 31 Januari 2018 mendatang atau bertepatan tanggal 14 Jumadil Ula 1439 H atau pada besok malam kamis. Bagi sebagian orang fenomena gerhana ini merupakan peristiwa unik dan langka sehingga perlu diabadikan dengan baik. Namun, ada makna lain dari peristiwa tersebut yang banyak dilupakan oleh kebanyakan orang beriman, yaitu; sebagai tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT untuk memperingatkan manusia agar sadar dari semua kesalahan dan dosa yang dilakukannya selama ini.

Peristiwa gerhana bulan atau matahari bukanlah peristiwa biasa. Ia seperti sebuah bencana alam lainnya meski tidak menimbulkan korban jiwa atau harta. Karena bulan yang biasanya terbit indah menyinari bumi di waktu malam bisa redup dan tak menampakkan sinarnya. Ia seperti sebuah tanda bagi manusia sebelum tanda besar benar-benar terjadi. Terbitnya matahari dari Barat dan munculnya Dajjal misalnya, bukan suatu yang sulit bagi Allah. Artinya, terjadinya gerhana bulan/matahari bisa jadi tanda awal akan terjadinya peristiwa yang lebih besar berupa terbitnya matahari dari barat atau munculnya Dajjal. Itulah kenapa Rasulullah begitu takut dan gelisah ketika terjadi gerhana matahari atau bulan dan beliau bergegas ke masjid mengajak umatnya untuk melaksanakn solat, berzikir dan berdoa kepada Allah SWT.

Kita tahu bahwa Rasulullah adalah manusia yang paling mengetahui makna dibalik setiap peristiwa tak terkecuali peristiwa gerhana. Jika sosok seperti beliau sampai merasa khawatir dan takut maka sepatutnyalah kita sebagai umatnya lebih takut lagi meski kita tidak mengetahui makna dibaliknya. Ketika semua tentu masih ingat di waktu kecil kita sangat takut ketika terjadi peristiwa gerhana seperti takutnya mendengar petir yang menggelegar, atau di waktu melihat angin tornado. Begitulah seharusnya kita dalam menangkap sebuah peristwa alam sebagaimana Rasul yang suci melihatnya akan kebesaran dan kekuasaan Allah Rabbul Alamin. Karena ketika kecilpun kita masih dalam keadaan polos dari dosa tapi naluri akan Ke Maha Kuasa-an Allah sudah dapat kita rasakan.

Tapi bagaimana dengan kondisi kita sekarang, sungguh berbeda dengan sikap Rasulullah SAW dalam melihat peristiwa alam yang dahsyat.  Merasa teknologi sudah demikian canggihnya, maka kita menganggap peristitwa alam seperti gerhana matahari atau bulan dan lainnya hanyalah sebuah peristiwa alam ‘biasa’ yang tidak perlu disikapi apapun.  Jika Rasulullah takut dan berdoa, kita sebagai umatnya malah gembira. Jika Rasulullah bergegas malkukan solat, kita umatnya malah sibuk berencana foto selfie di puncak atau di lapangan. Jika Rasulullah khawatir akan terjadi kiamat, kita umatnya malah larut dalam rencana pesta kegembiraan.

Meskipun jaman Rasulullah belum ada satelit luar angkasa, belum ada teropong bintang, bahkan belum ada BMG.  Tapi ketahuilah, ilmu yang dimiliki Rasululah adalah yang paling luas, dalam dan lengkap yang pernah dimiliki oleh manusia. Kita hanya tahu peristiwa gerhana matahari hanya dalam perspektif ilmu pengetahuan.  Tapi apa kandungan peristiwa dibalik semua itu, kita buta sama sekali.  Kita tidak punya ilmu sedikitpun untuk menyingkap tabir dibalik peristiwa gerhana yang terjadi di tahun 2018 ini.  Mengapa gerhana tidak terjadi tahun sebelumnya, atau mengapa tidak 4 tahun lagi ?

Jawabannya bukan hanya persoalan science. Tapi sesungguhnya ada sesuatu yang menyelimuti hal itu, yang tidak kita ketahui.  Ada ‘suatu pesan’  yang hendak disampaikan Allah Ta’ala dari peristiwa gerhana ini. Sesuatu yang menyelimuti itulah yang diketahui oleh Rasulullah, sehingga beliau merasa khawatir, takut dan waspada.  Dan sebagai solusi dari ketakutan beliau, Rasulullah melakukan shalat kusuf. Beliau bersabda dalam salah satu hadisnya:

عَنْ أَبِى مُوسَى قَالَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِى زَمَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَامَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ حَتَّى أَتَى الْمَسْجِدَ فَقَامَ يُصَلِّى بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ مَا رَأَيْتُهُ يَفْعَلُهُ فِى صَلاَةٍ قَطُّ ثُمَّ قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الآيَاتِ الَّتِى يُرْسِلُ اللَّهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُرْسِلُهَا يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ

Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menuturkan, ”Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadi hari kiamat, sehingga beliau pun mendatangi masjid kemudian beliau mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku’ dan sujud yang lama. Aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat sedemikian rupa. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda,”Sesungguhnya ini adalah tanda tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan-Nya. Gerhana tersebut tidaklah terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Akan tetapi Allah menjadikan demikian untuk menakuti hamba hambaNya. Jika kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdoa dan memohon ampun kepada Allah.”

Al Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan mengenai maksud kenapa Nabi SAW takut, khawatir terjadi hari kiamat. Beliau rahimahullah menjelaskan dengan beberapa alasan, di antaranya:

Gerhana tersebut merupakan tanda yang muncul sebelum tanda tanda kiamat seperti terbitnya matahari dari barat atau keluarnya Dajjal. Atau mungkin gerhana tersebut merupakan sebagian tanda kiamat. Hendaknya seorang mukmin merasa takut kepada Allah, khawatir akan tertimpa adzab-Nya. Nabi SAW saja sangat takut ketika itu, padahal kita semua tahu bersama bahwa beliau adalah hamba yang paling dekat dan paling dicintai Allah.

Lalu mengapa kita hanya melewati fenomena semacam ini dengan perasaan biasa saja, mungkin hanya diisi dengan perkara yang tidak bermanfaat dan sia-sia, bahkan mungkin diisi dengan berbuat maksiat. Siapa yang  tahu peristiwa ini ternyata  adalah tanda datangnya bencana atau adzab ?  Atau tanda semakin dekatnya hari kiamat, misalnya dengan semakin lemahnya tembok yang mengukung Ya’juj dan Ma’juj ?  Atau akan semakin keringlah sungai Eufrat di Iraq ? Sesungguhnyam, ada ‘pesan’ apakah yang hendak disampaikan Allah Ta’ala dari peristiwa gerhana ini ?

Pertanyaan di atas perlu kita ajukan pda diri masing-masing. Tidak patutlah umat Nabi Muhammad menyambut gerhana matahari atau bulan dengan suka cita.  Karena tuntunan Rasulullah menyuruh kita untuk menghadapi gerhana dengan mempertebal keimanan, terus menerus berzikir mengingat Allah dan banyak bersedekah.  Kita tidak tahu bencana apa sesungguhnya yang tengah menanti kita, tapi kita pasrahkan semuanya kepada Allah SWT.

Rasulullah ketika melihat terjadi gerhana atau bencana menyuruh kita memperbanya dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan bentuk ketaatan lainnya.  Dan bukannya malah berpikir untuk foto selfie atau mengagumi peristiwa gerhana/bencana itu sendiri.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi SAW bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044)

Dengan demikian, hendaklah kita berlaku bijak pada diri ketika terjadi bencana gerhana bulan/matahari. ikutilah tuntunan rasul dalam memaknai dan menyikapi gerhana, yaitu; bergegas ke masjid dan melakukan solat berjamaah sampai gerhana itu hilang, menghindari hal-hal yang tidak bermanfaat karena setiap peristiwa alam yang tidak biasa pasti mengandung tanda dan makna yang tidak kita ketahui kecuali oleh Rasulnya. Rasulullah SAW telah mengajarkan bagaimana menyikapi peristiwa alam yang tidak biasa tersebut, dalam hal ini gerhana Bulan, yaitu, solat dengan berjamaah yang disebut solat khusuf. Maksudnya, kalau Solat Gerhana Matahari disebut Solat KUSUF sementara kalau Gerhana Bulan disebut Solat KHUSUF. Wallahu A'lam Bimurodihi.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00