Melihat Pesoalan Hidup dari Struktur Alquran (Bagian-II Habis)

Oleh: H. Ziyad Ulhaq., SQ., MA (Kandidat Doktor Tafsir IIUM (Internasional Islamic University Malaysia)

Seperti dipaparkan pada bagian satu bahwa ruang lingkup pembahasan struktur Alquran. Setidaknya, ada tiga ruang lingkup pembahasan,  dan ruang lingkup pertama sudah di ulas pada tulisan dengan judul Melihat Pesoalan Hidup dari Struktur Alquran (Bagian-I),  berikut adalah pembahasan selanjutnya Kedua; memahami sifat dan karakter manusia sebagai objek wahyu. Alquran adalah kitab paripurna yang berlaku hingga akhir zaman. Tak seperti kitab-kitab yang diturunkan kepada Nabi-nabi sebelumnya yang bersifat lokal, terbatas dan bertempo, Alquran selalu update terus menerus dan tak lekang oleh zaman meski pola pikir manusia dan teknologi semakin maju dan canggih. Alquran tak akan bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang merupakan produk dan pemikiran manusia, karena susungguhnya Yang Maha mengetahui dan sumber ilmu pengetahuan adalah Allah swt. Wajar, tak ada satupun penemuan ilmiah mutakhir, terkecuali telah ada isyaratnya dalam Alquran. Allah swt telah berfirman dalam Qs. Al An ‘am (6) : 38 :       Artinya : Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpa-kan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Rabblah mereka dihimpunkan. (QS. 6:38). Bila semua yang ada dalam alam semesta ini, terdapat dalam Alquran baik secara tersurat maupun tersirat, banyak ataupun sedikit, terlebih manusia sebagai objek waktu, kepadanya Alquran diperuntukkan. Sayangnya, pembahasan tentang manusia, khususnya sifat dan karakternya masih terbatas pada kajian verbal redaksional. Misalnya, Allah swt menyinggung salah satu karakter manusia pada Qs. Al Isra (17) : 12:     Artinya : Dan manusia mendo'a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo'a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. Dari ayat di atas, diketahui dari sang pencipta-Nya bahwa manusia itu pada dasarnya memiliki sifat tergesa-gesa dan cenderung menginginkan sesuatu yang instan, melupakan proses. Dalam kajian struktur Alquran, sifat tersebut disimbolkan dengan huruf Sin, huruf ke-12. Sehingga, meski pada prinsipnya secara umum manusia memiliki sifat buru-buru namun demikian seseorang yang memiliki unsur sin (12) kecenderungannya akan lebih besar, bahkan mengarah pada sifat sensitive dan emosional. Demikian juga dalam pemaknaan surah, selain teknis yang telah dijelaskan pada ruang lingkup pertama, surah juga merupakan refleksi dari sifat dan karakter manusia. Sebagai contoh, bila kita mendapati ada seseorang yang suka berbohong atau ingkat janji, amal tak sesuai apa yang dibicarakan maka ini merupakan representasi dari surah Al Munaafiqun (63). Atau kita menyaksikan seseorang yang lamban, baik dalam berpikir dan bergerak, pasif, tak tahu apa yang harus dilakukan, maka hal ini merupakan refleksi dari surah AlBaqarah (2) dan demikian seterusnya. Berhubung surah merupakan unsur ke-dua Alquran yang terbesar, dan masih ada yang lebih besar lagi, yakni Juz, maka dalam kajian struktur sifat dan karakter manusia itu dilihat dari prespektif juz. Dengan memakai pendekatan rangkaian huruf, yakni pada kata Al Juz yang terdapat pada setiap awal juz dalam Alquran (khusus mushaf 18 baris karena penandaan setiap awal juz berbeda pada tiap mushaf), dan ilustrasi berikut merupakan salah satu penjelasan bahwa dalam kajian struktur sifat dan karakter manusia itu di “potret” dengan menggunakan prespektif juz, perhatikan ilutrasi berikut : Ketiga; Representasi salah satu fungsi Alquran (obat, fisik dan non fisik). Salah satu fungsi Alquran adalah obat, baik fisik ataupun non fisik, meski untuk fisik, terjadi perbedaan kecil di antara para ulama. Namun demikian, hadis shahih riwayat sahabat Abu Sa’id al Khudzry yang menceritakan tentang pengobatan fisik menggunakan ayat Alquran telah cukup menjadi bukti bahwa ayat Alquran dapat pula digunakan untuk mengobati penyakit fisik. Ada banyak pendekatan yang telah digunakan dan dikembangan oleh para ulama mengenai pengobatan Alquran ini. Demikian pula dalam kajian struktur, dikenal beberapa tekhnis yang digunakan semisal tanda ‘ain, Halaman, Abjad, dan Surah. Misalnya dalam menyikapi masalah jodoh atau pasangan hidup. Maka dalam kajian struktur dipakai konsep struktur surah. Ada dua surah Alquran yang merepresentasikan masalah tersebut, yaitu Ali Imran (refleksi Gender laki-laki, meski bermakna keluarga Imran) dan An Nisa (gender wanita). Mengapa demikian? Sebab kedua surah tersebut ditempatkan secara berdampingan layaknya suami istri, relevan dengan makna surah Imran (pria) dan An Nisa (jamak imroatun, yang berarti para wanita). Perhatikan ilustrasi berikut : Nah, sehingga bagi yang belum memiliki pasangan dapat membaca kedua surah tersebut, atau dapat pula membaca pertemuan surah tersebut memakai konsep halaman, sebagai ikhtiar memohon kepada Allah swt, ber-washilah dengan pahala membaca Alquran, atas hajat agar diberikan pasangan hidup yang shalih, untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Semoga bermanfaat.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00