Melihat Pesoalan Hidup dari Struktur Alquran (Bagian-I)

Oleh: H. Ziyad Ulhaq., SQ., MA (Kandidat Doktor Tafsir IIUM (Internasional Islamic University Malaysia) Membahas struktur AlQuran tak pernah lepas dari fungsi Alquran sendiri, sebagai Hudal Linnas petunjuk dan panduan bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari, disamping fungsi-fungsi lainnya semisal Al Furqoon (pembeda), Al Bayyinah (bukti nyata), As Syifa (obat, fisik non fisik), at Tibyan (penjelas) dan sebagainya. Dalam pembahasan kali ini, penulis akan memaparkan mengenai ruang lingkup pembahasan struktur. Setidaknya, ada tiga ruang lingkup pembahasan stuktur AlQuran ini; Pertama; alternative pendekatan memahami satu persoalan dalam prespektif Alquran. Bila berbagai metode tafsir telah cukup lama dikenal oleh para pengkaji Alquran, dan posisinya saat ini seakan telah menjadi sesuatu yang paten, baku dan cenderung kaku, wajar bila kajian Alquran saat ini mengalami kebuntuan dalam mengembangkan pendekatan-pendekatan baru. Pendekatan struktur Alquran ini merupakan salah satu alternative yang lebih bersifat memperkuat, melengkapi, dan atau menambahkan wawasan dari pendekatan yang telah eksis, yakni pendekatan verbal redaksional (manquul) dan makna kontekstual (ma’quul). Pendekatan struktur lebih menekankan pada pemaknaan huruf dan kata yang membangun satu kalimat, lalu diurai dengan merujuk beberapa variable struktur yang ada di Alquran itu sendiri, menggunakan teori tasmiyatus suwar (makna dibalik penamaan surah) dan maqashidus suwar (pesan dari surah Alquran). Misalnya dalam memahami kata Jihad, secara etimology berasal dari Jaahada-Yujaahidu-Mujaahadatan-Jihaada, yang berarti bersungguh-sungguh berusaha atau berupaya. Ia terbangun dari 3 huruf pokok;  (Jim, huruf ke-5),  (Ha, huruf ke-27) dan (Dal, huruf ke-8). Adapun huruf Alif sesudah huruf Ha’ merupakan huruf zaidah (tambahan) yang memiliki makna salah satunya adalah penekanan (taukiid). Meski Alquran menyebut kata Jihad dengan berbagai redaksi (musytaqqaat, lihat ulasan selengkapnya di rubric tafsir tematik edisi ini) namun tetap mengandung unsur tiga huruf pokok tesebut. Nah, apabila dipahami dengan menggunakan pendekatan sruktur, diilustrasikan sebagai berikut :Ada beberapa pendekatan dalam mengurai satu kata dalam Alquran menggunakan pendekatan struktur, salah satu yang dapat penulis contohkan di sini misalnya sebagai berikut: Pertama, Menggunakan urutan abjad hijaiyyah lalu dirujuk pada urutan surah, sehingga berdasar stuktur kata Jihad di atas, maka uraiannya sebagai berikut : Huruf Jim, adalah huruf ke-5 dalam urutan abjad hijaiyyah. Bila kita rujuk ke surah, maka surah ke-5 dalam Alquran adalah al Maidah yang berarti hidangan. Kata Al Maidah terulang dua kali yakni pada ayat 112 dan 114 dalam surah yang sama. Salah satunya sebagai berikut :         Artinya : Isa putera Maryam berdo'a:"Ya Rabb kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezkilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezki Yang Paling Utama". (QS. 5:114) Surah Al Maidah merefleksikan suatu pelayanan atau service, sebagaimana ayat tersebut diatas menggambarkan bahwa Allah swt menurunkan hidangan dari langit sebagai “layanan” bagi Isa as dan kaumnya bani israil lantaran mereka berdoa dan memintanya. Nah, jihad mestinya berangkat dan diawali dengan niat yang benar, hanya “melayani” Allah swt dan untuk kepentingan-Nya semata dalam memperjuangkan agamanya. Sebab, tak jarang motif duniawi melatarbelakangi niat seseorang untuk berjihad, misalnya ingin mendapatkan harta rampasan perang, balas dendam, atau bahkan ada kekasih wanitanya yang hendak dikejar.  Jihad juga semestinya hanya dilakukan untuk membela agama Islam, bukan atas nama individu, kelompok atau aliran tertentu. Huruf Ha’, huruf ke-27 dalam abjad hijaiyyah. Mari kita buka surah ke-27 Alquran. Benar, surah ke-27 adalah an Naml, yang berarti semut. Kata ini terulang sebanyak tiga kali dalam dalam satu ayat, yakni Qs. An Naml (27) ayat 18; dengan redaksi An Naml dua kali dan namlatun sekali. Perhatikan ilustrasi berikut :     Artinya : Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut:"Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari"; (QS. 27:18) Seperti kita ketahui bersama bahwa semut adalah hewan yang gigih, pantang menyerah dan tak kenal putus asa dalam mencari makan. Nah, idealnya semangat inilah yang selalu ada dalam seseorang yang sedang berjihad, gigih, pantang menyerah dan berjuang sampai titik darah penghabisan. Wajar, bila Nabi menyatakan salah satu dosa besar adalah lari dari medan perang. Sudah semestinya, seorang muslim dengan keimanannya, memenuhi panggilan jihad bila memang diperlukan oleh Agama, tanpa berpikir panjang. Ia tak akan pernah memikirkan dirinya, keluarganya, terlebih hartanya, semua ia tinggalkan untuk menjawab panggilan Allah swt, meninggikan agama-Nya. Huruf Alif, huruf pertama dalam abjad arab. AlFatihah adalah surah pertama dalam tertib mushaf yang berarti pembuka. Inilah yang menarik, sebab kata Al Fatihah tak satupun tertera dalam ayat-ayatnya. Ia dinamakan demikian lebih karena merujuk fungsinya sebagai pembuka (fatihah) Alquran, padahal saat ALFatihah diturunkan belum ada intruksi untuk meletakkannya sebagai surah pembuka Alquran. Inilah yang mendasari eksplorasi penamaan surah dalam kajian struktur, sebab penamaanya tak hanya merujuk secara redaksional, namun lebih dari itu, ada pesan yang hendak disampaikan. Dalam ber-jihad, seyogyanya seseorang yang melakukannya dengan berpikiran terbuka, menerima masukan, bermusyawarah dan mengatur strategi untuk memperoleh kemenangan. Tak ada satupun orang yang berangkat ke medan perang dengan harapan kalah, namun sebaliknya kemenangan yang akan diraih. Dalam arti luas, berjihad juga butuh perencanaan, strategi sebelum dimulai dan evaluasi pasca pelaksanaan. Nabi SAW pernah bersabda bahwa peperangan itu adalah khid’ah (adu strategi), yang menuntut masing-masing pihak untuk memutar otak, mengadu siasat, dan oleh pengetahuan serta pengalaman, dengan satu harapan berhasil dan sukses dalam berjihad. Dal, adalah huruf ke-8 dalam jajaran hijaiyyah. Surah ke-8 adalah al Anfaal yang berarti harta rampasan perang. Relevan dengan konteks jihad dalam arti sempit yang tak dapat lepas dari barang jarahan perang. Kata ini disebut pada ayat yang pertama dalam surah yang bersangkutan sebanyak dua kali dengan redaksi yang sama persis dengan surahnya. Perhatikan ayat berikut :       Artinya : Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah:"Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan diantara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang beriman". (QS. 8:1) Namun, dari pendekatan struktur, al Anfal dimaknai sebagai hasil dari usaha. Sebab, rampasan tak akan diraih bila seseorang tak berusaha berjuang terlebih dahulu untuk bertempur, sekuat tenaga untuk mengalahkan musuhnya. Sehingga, al Anfaal merefleksikan satu konsekwensi yang akan didapatkan dari suatu proses ikhtiar. Menang atau kalah, berhasil atau tidaknya usaha, akan tetap meninggalkan satu kesan, memperoleh hasil dari usaha ataupun belajar satu pelajaran dari kegagalan yang merupakan proses keberhasilan yang tertunda. Nah, dari nilai-nilai di atas diharapkan seseorang yang hendak berjihad, berikhtiar untuk mencapi satu tujuan dapat mengaplikasikan refleksi dari surah-surah yang merupakan jabaran dari kata jihad itu sendiri. Uraian dengan pendekatan pertama ini mengacu pada kata yang secara otentik tertulis dalam ayat Alquran yaitu Jihaad, adapun kata Al yang merupakan awalan (Al Ta’rif) menjadi Al Jihad, tidak tercantum dalam Alquran. Nah, pembahasan tentang Jihad di atas adalah satu satu contoh pembahan satu permasalahan menggunakan pendekatan struktur. Cakupan yang pertama ini meliputi semua pembahasan yang juga menjadi pembahasan dalam tafsir Alquran. (bersambung)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00