Makna Zakat; Antara Syariah dan Hakekat

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Makna Zakat; Antara Syariah dan Hakekat

Nusantaramengaji.com - Zakat merupakan perintah Allah yang selalu disanding dengan perintah solat. Kalau dalam solat kita berupaya disucikan secara pribadi maka dengan zakat kita disucikan dari harta yang kemungkinan mengandung syubhat dan tidak halal. Dengan berzakat, disamping untuk mensucikan diri dan harta kita, juga memiliki dimensi sosial yang dapat meringankan beban sebagian orang yang tidak mendapatkan kelebihan secara materi. Artinya, dalam perintah zakat Allah ingin menyelamatkan diri dan harta kita dari keburukan dan menolong orang lain dari kesusahan. Kewajiban zakat ini tercantum dalam firman Allah dalam surah Al Baqarah ayat 43 sebagai berikut;

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku' “.

Zakat memiliki dua bentuk, yaitu; syariat dan hakekat. Syariah zakat adalah mengeluarkan harta dari hasil usaha duniawi kepada golongan-golongan yang telah ditentukan, pada waktu yang tertentu, setiap tahun dan dengan nisab yang telah ditentukan pula. Pengertian zakat seperti ini terkandung dalam firman Allah dalam surah At-Taubah ayat 103 yang berbunyi;

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Dan juga dalam surah AL Baqarah ayat 261;

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

ayat-ayat di atas, menurut kebanyakan ulama fiqh, menunjukkan bentuk zakat dari harta benda yang dimiliki seseorang baik untuk mensucikan diri dan hartanya maupun untuk menolong orang yang membutuhkan. namun ada sebagian ulama ahli hakekat yang memaknai zakat disitu adalah seluruh potensi kebaikan yang diberikan Allah kepada manusia. maksudnya, setiap orang dapat berzakat/bersedekah dengan seluruh potensi kebaikan yang dimilikinya tersebut tanpa terikat jumalh, ruang dan waktu. inilah makna zakat yang sesungguhnya.

oleh karena itu, zakat secara hakekat ialah setiap bentuk kebaikan yang diberikan seseorang di jalan Allah dari usaha ukhrawi kepada orang-orang yang fakir dalam masalah agama dan miskin dari nilai-nilai ukhrawi. Hakekat zakat ini tidak terikat ruang dan waktu dan bisa diberikan kapan saja. Orang yang selalu lalai dan maksiat kepada Allah dapat disebut fakir-miskin secara moral maupun spiritual sehingga perlu dizakati/disucikan dengan mengajarkanya ilmu-ilmu agama, mendoakan kebaikan, memaafkan kesalahan, dan dengan amal-amal kebaikan lainnya. Sehingga “mustahiq zakat” yang seperti itu mendapat ampunan dari Allah dan kembali ke jalan yang benar. Dan “Muzakki” dengan zakat ruhaninya hanya berharap pahala dan ridha  dari Allah SWT.

Bagi Sang muzakki ruhani ini, tidak ada apapun yang betul-betul menjadi miliknya. Semuanya datang dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Setiap amal kebaikan yang dilakukannya sejatinya berasal dari Allah, Karena itu, seorang hamba dengan segala hal yang dimilikinya adalah milik Tuannya bahkan dirinya sendiri. Perintah zakat dengan demikian, bukan semata dalam arti menolong orang lain yang kesusahan, yang hakikinya masing-masing sudah dijamin, tapi pada bagaiman ia mampu mengalahkan dan mensucikan egonya sendiri dari hal-hal yang memalingkan dari Allah SWT. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa “setiap sesuatu itu ada zakatnya dan zakat badan adalah ketaatan’.

Muzakki ruhani ini kemudian menjadi seorang muflis/bangkrut Karena tidak mempunyai apa-apa bahkan dirinya sendiri. Namun seorang yang bangkrut seperti inilah yang akan dijamin oleh Allah kehidupannya baik di dunia maupun di akherat sebagaimana sabda nabi (Al Muflisu fii Amaanillahi Ta’laa Fiddaarain). Jadi, jangan pernah khawatir dan takut kehilangan sesuatu selama itu masih berada dijalan Allah.

Sayyidah Rabi'ah AI-Adawiyah berucap dalam doanya, "Ya Allah, semua harta duniawi yang menjadi jatahku, berikanlah pada orang kafir, dan semua pahala akhirat yang menjadijatahku, berikanlah kepada orang mukmin. Karena yang kuinginkan di dunia ini hanyalah mengingat-Mu dan yang kuinginkan di akhirat hanyalah bertemu dengan-Mu."

Termasuk pula makna zakat ruhani adalah membersihkan kalbu dari sifat-sifat yang mendorong hawa nafsu. Seperti dalam Firmannya dalam surah As-Syams ayat 9 yang artinya; "Sungguh bahagia orang-orang yang mensucikan jiwanya."

Dengan demkian, makna zakat baik secara lahir maupun batin adalah memberikan segala kebaikan di jalan Allah, mensucikan diri dari selain Allah, ikhlas dan ridha atas semua keputusannya, serta menolong orang lain berdasarkan rasa kasih sayang dan tidak diikuti imbalan atau kata-kata yang menyakitkan. Artinya, zakat berupa harta sangat terbatas sifatnya (secara Syariah) tapi zakat ruhani tidak terbatas dan abadi selama itu berupa kebaikan (secara hakekat). Wallahu A’lam Bisshowab.(Lutfi Syarqawi)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00