Makna Sombong Yang Perlu Disombongi

Kolom
Foto: 
ilustrasi

Makna Sombong Yang Perlu Disombongi

Nusantaramengaji.com - Sifat sombong merupakan sifat yang miliki oleh Iblis. Bisa dikatakan bahwa orang yang memiiliki sifat sombong telah mewarisi sifat iblis tersebut. Sifat sombong biasanya dimilki oleh orang yang memiliki tiga hal yaitu, harta yang banyak, jabatan yang tinggi serta istri yang cantik dan banyak. Jarang sekali orang yang berilmu bersifat sombong meski tidak menutup kemungkinan akan hal itu. Karena orang berilmu tahu apa yang harus dilakukannya harus sesuai dengan timbangan syara’.  Sifat dan sikap sombong ini sangat dibenci oleh Allah dan rasulnya karena sombong dapat menjerumuskan manusia pada kemaksiatan dan suka meremehkan orang lain.

Allah berfirman dalam surah Al Aira’ ayat 37 yang berbunyi;

وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُول٣٧)

Artinya; “...Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”.

Dalam ayat ini Allah SWT melarang hambanya berjalan dengan sikap congkak dan sombong di muka bumi. Sebab kedua sikap ini terkandung makna memuji diri sendiri dan meremehkan orang lain. Sebagai manusia yang hanya dibentuk oleh segumpal tanah dan setetes "air" tidaklah layak mengagungkan dan memuji diri karena keagungan dan pujian hanya milik Allah semata. Tidaklah kita patut berbangga diri katika diberi kenikmatan lalu menyombongkan diri dihadapan Allah dengan mealnggar perintah-Nya. Perintahnya sudah sangat jelas melarang kita untuk bersikap sombong karena kehebatan seperti apapun yang kita miliki tidak akan menembus kedalaman bumi dan mencapai tingginya puncak gunung. Adakah orang punya rumah yang setinggi himalaya ?

Syaikh Al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini bahwa, seorang manusia hendaknya jangan berjalan dengan sikap sombong, bergoyang-goyang seperti jalannya raja yang angkuh. Sebab dibawahnya terdapat bumi yang tidak akan mampu manusia menembusnya dengan hentakkan dan injakkan kakinya yang keras terhadapnya. sedang diatasnya terdapat gunung yang takkan mampu manusia menggapai, menyamai dengan ketinggian atau kesombongannya.

Dalam tafsir Al-Qurtubi disebutkan bahwa maksud menyamai gunung adalah manusia dengan dengan kemampuanya ia tidak akan bisa mencapai ukuran seperti itu. Sebab manusia adalah hamba yang sangat hina yang dibatasi dari bawah dan atasnya. Sedang sesuatu yang dibatasi itu terkungkung dan lemah. Dan yang dimaksud dengan bumi, adalah engkau menembusnya dan bukan menempuh jaraknya. Jadi manusia dilingkupi oleh dua benda mati yang kamu lemah dari keduanya. Maka bagi orang yang lemah dan terbatas, tak patut baginya bersikap sombong. Oleh karena itu besikap tawadhu'lah, jangan takabur/sombong, karena kamu hanya makhluk yang lemah, terkurung antara batu dan tanah, serta janganlah kamu bersikap seperti makhluk yang kuat dan serba bisa. Ayat ini merupakan teguran keras, ejekan dan cegahan bagi orang yang bersikap sombong.

Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah menjelaskan tentang makna sombong tu sebagai berikut;

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

"Sombong  ialah tidak menerima kebenaran dan menghina sesama manusia".

Dalam Fathul Bari disebutkan, menurut Raghib Al Asfahani Ia mengatakan, “Sombong adalah keadaan seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri . Memandang dirinya lebih besar dari pada orang lain, Kesombongan yang paling parah adalah sombong kepada Rabbnya dengan menolak kebenaran dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan ataupun mengesakan-Nya”.

Dalam kitab ihya’ ulumuddin Al-Ghazali nendefinisikan sombong adalah suatu sifat yang ada didalam jiwa yang tumbuh dari penglihatan nafsu dan tampak dalam perbuatan lahir.

Orang sombong tentu saja tidak disukai olah orang lain karena dalam sikap sombong terkandung makna meremehkan dan merendahkan orang lain. Namun ada cara yang dianjurkan oleh para ulama untuk menghadapi orang sombong, yaitu; harus dengan kesombongan pula supaya mereka sadar akan kesombongan dan kekeliruannya.

Dalam sebuah sebuah maqola/ungkapan yang masyhur disebutkan bahwa bersikap sombong terhadap orang yang sombong itu baik bahkan disebut sedekah terutama sombong dalam hal harta,

التكبر على المتكبر حسنة وفي لفظ صدقة

"Takabur kepada orang yang takabur adalah kebaikan .Dalam lafadz yang lain,Takabur kepada orang yang takabur adalah sedekah".

Banyak orang beranggpan bahwa maqola di atas merupakan hadis nabi tapi menurut Al-Ajluni dalam Kasyful Khafa (1/360) bahwa kalimat ini bukan hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ucapan manusia biasa. Meskipun kata ar-Razi, secara makna bisa diterima.

Selanjutnya, jika itu benar maknanya, lalu apa makna bersikap sombong di depan orang yang sombong. Muhammad al-Khadimi – ulama hanafiyah – pernah menjelaskan makna perkataan ini,

التكبر على المتكبر صدقة، لأنه إذا تواضعت له تمادى في ضلاله وإذا تكبرت عليه تنبه، ومن هنا قال الشافعي تكبر على المتكبر مرتين

"Takabur kepada orang yang takabur adalah sedekah. Karena jika kita tawadhu’ di dihadapannya, maka dia akan semakin tenggelam dalam kesesatannya. Namun jika kita membalas kesombongannya, dia akan merasa diingatkan. Karena alasan inilah, Imam as-Syafii mengatakan, “Bersikaplah sombong 2 kali bagi orang yang sombong.”

Lalu beliau menukil keterangan beberpa ulama,

وقال الزهري التجبر على أبناء الدنيا أوثق عرى الإسلام،… وقيل قد يكون التكبر لتنبيه المتكبر لا لرفعة النفس فيكون محموداً كالتكبر على الجهلاء والأغنياء، قال يحيى بن معاذ: التكبر على من تكبر عليك بماله تواضع

Az-Zuhri mengatakan, sombong di depan pecinta dunia, termasuk ikatan islam yang paling kuat… Ada yang mengatakan, terkadang takabur untuk mengingatkan orang yang takabur, bukan untuk menyanjung dirinya, sehingga ini takabur yang terpuji, seperti takabur di depan orang bodoh (sombong dengan kebodohanya) atau orang kaya (yang sombong dengan kekayaannya). Kata Yahya bin Muadz, “Takabur kepada orang yang takabur dengan hartanya di hadapanmu adalah bentuk tawadhu’.” (Bariqah Mahmudiyah, 2/186).

Dengan demikian, maksud dari bersikap sombong terhadap orang yang sombong adalah dalam rangka mengingatkan akan kekeliruannya tersebut. Bagaimanapun juga sikap sombong adalah sifat blis yang tdak boleh dimiliki olah bani Adam yang beriman terlebih jka kesombongannya itu untuk melanggar perintah Allah dan maksiat kepada-Nya. Sejatinya, kesombongan adalah kehinaan sedangkan ketawadh'an adalah kemuliaan. Bukankah sebutir padi semakin menunduk jika telah terisi ?. Wallahu A’lam Bisshowab.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00