Larangan Memotong Rambut dan Kuku saat Berkurban

Fikih
Foto: 
Ilustrasi

Larangan Memotong Rambut dan Kuku saat Berkurban

Nusantaramengaji.com - Bulan ini kita memasuki bulan Dzul Hijjah, sebuah bulan yang yang dimuliakan karena di dalamnya ada rangkaian ibadah haji umat Islam dan juga anjuran berkurban bagi yang mampu melakukannya.  Berbondong-bondong umat Islam berangkat ke tanah suci dalam rangka memenuhi panggilan illahi ini.

Bagi yang belum mampu berhaji dianjurkan untuk berkurban saja dirumah baik dengan seekor kambing untuk satu orang atau sesekor sapi atau unta untuk 7 orang. Namun bagi orang berkurban ini/shohibul qurban ada batasan untuk tidak mencukur rambut dan memotong kuku dari hari pertama bulan Dzulhijjah sampai binatang itu dikurbankan. Pertanyaannya kenapa orang yang berkurban dilarang untuk mencukur rambut dan memotong kukunya ? hikmah apa yang ada dibalik larangan tersebut ?

Jawaban; larangan tersebut bermakna agar dari tubuh orang yang berkurban, selamat semua dari api neraka. Seperti orang yang sedang ihram, meski bagi shohibul Qurban dibolehkan berhubungan dengan istrinya dan memakai wewangian. Hukumnya menurut ulama hanya Makruh Tanzih,  tidak sampai derajat haram mutlak sperti orang ihram.

Menurut Syaikh Muhammad Zuhri Al Ghamrani; berqurban itu sunnah muakkadah. Artinya, Disunnahkan bagi yang hendak berqurban untuk tidak mencukur rambut dan memotong kuku di 10 hari pertama Dzulhijjah sampai dengan ia memotong qurbannya. Apabila ia menghilangkan sesuatu dari rambut atau kukunya maka makruh tanzih.

Bukan hanya sebatas kuku dan rambut, tetapi juga bagian tubuh yang lain tangan, gigi ,kumis, janggut dan lain sebagainya. Adapun hikmah dibalik itu semua adalah agar semuanya mendapatkan ampunan dan terbebas dari api neraka. Ketentuan ini berlaku baik untuk qurban sendiri atau qurban hadiah

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda;”Jika (salah seorang) telah masuk sepuluh (Dzul Hijjah), sedangkan ia memiliki hewan qurban yang hendak diqurbankan, maka jangan sekali-kali ia mencukur rambut atau memotong kuku." Dan dalam satu riwayat :” hendaknya ia tidak mencukur rambut dan tidak memotong kuku terlebih dahulu."

Para Ulama berbeda pendapat tentang orang yang memasuki tanggal 10 bulan Dzulhijjah dan ingin berqurban. Sa’id bin Musayyab , Rabi’ah, Ahmad, Ishaq, Daud dan sebagian sahabat-sahabat Syafi’I berpendapat : Haram atasnya sesuatu dari rambut dan kukunya sehingga datang waktu berkurban.

As Syafi’I dan Sahabat-sahabatnya berpendapat hal itu dimakruhkan dengan makruh tanzih tidak sampai haram. Abu Hanifah berpendapat tidak makruh. Sedangkan Imam Malik dalam salah satu riwayat berpendapat tidak makruh. Tetapi dalam riwayat lain berpendapat makruh. Dan dalam salah satu riwayat berpendapat haram dalam Qurban sunnah dan tidak haram dalam qurban wajib.

As Syafi’I dan yang lainnya berargumentasi dengan Hadis ‘Aisyah RA dan beliau berkata : Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Aku mengikatkan tali pada hewan qurban Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengikatnya kembali dengan tangan Beliau lalu mengirimnya . Maka sejak itu tidak ada yang diharamkan lagi bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari apa-apa yang Allah halalkan hingga hewan qurban disembelih" diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

As Syafi’I berkata : Mengirim hewan Qurban lebih banyak dari pada ingin berqurban, maka ini menunjukan bahwa hal itu tidak diharamkan dan hadis-hadis larangan membawa pengertian makruh tanzih.

Sahabat-sahabat kami (As Syafi’i) berkata : Yang dikehendaki dengan larangan mengambil kuku dan rambut yaitu larangan memotong kuku atau membelah atau dengan cara lainnya, dan larangan menghilangkan rambut adalah menghilangkan rambut dengan cara mencukur, memotong, mencabut, membakar, mengambilnya dengan kapur atau dengan cara yang lainnya. Apakah itu rambut ketiak, jenggot, rambut kemaluan, kepala dan rambut-rambut lain yang terdapat di badan.”

Sahabt-sahabat kami, Ibrahim Al Marjawi dan yang lainnya berkata; hukum seluruh angota badan adalah hukumnya rambut dan kuku, dan dalilnya adalah riwayat yang telah disebutkan; “ lalu hendaknya ia tidak menyentuh sesuatupun akan rambut dan kulit.”

Sahabat-sahabatku berkata; “hikmah dalam larangan itu adalah supaya semua anggota badan tetap dibebaskan dari Neraka, dan dikatakan; “ serupa dengan orang yang ihram. ”Sahabat-sahabatku berkata; pendapat ini salah (karena orang yang berkurban) tidak menghindari istri, tidak meninggalkan wewangian, pakaian dan yang lainnya berupa laranga-larangan ihram. Wallohu a'lam.

Rujukan Kitab:

1.       Anwarul Masalik, Bab Qurban

باب الأضحية هي سنة مؤكدة يندب لمن ارادها ان لا يحلق شعره ولا يقلم ظفره فى عشر ذى الحجة حتى يضحى فان ازال شيأ من ذالك كره كراهة تنزيه

2.       Kitab Busral Karim; 2/1127

و يكره) لمريد التضحية عن نفسه او اهداء شئ من النعم (ان يزيل شيئا من شعره او غيره) كظفره و سائر اجزائه الظاهرة الا الدم على خلاف فيه (فى عشر ذى الحجة) و ما بعدها من ايام التشريق ان لم يضح يوم العيد (حتى يضحى) للامر بالامساك عن ذلك في خبر مسلم. و حكمته شمول المغفرة و العتق من النار لجميعه لا التشبه بالمحرمين و الا لكره نحو الطيب و قيل يحرم مالم يحتاج اليه و عليه احمد فان احتاج فقد يجب كقطع يد سارق و ختان بالغ و قد يسن كختان صبي و قد يباح كقطع سن وجعة . بشرى الكريم ٢/١٢٨

3.      Syarah Muslim (An-Nawawi),

قوله صلى الله عليه وسلم : ( إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره وبشره شيئا ) وفي رواية : ( فلا يأخذن شعرا ولا يقلمن ظفرا ) واختلف العلماء فيمن دخلت عليه عشر ذي الحجة وأراد أن يضحي ، فقال سعيد بن المسيب ، وربيعة ، وأحمد ، وإسحاق ، وداود وبعض أصحاب الشافعي : إنه يحرم عليه أخذ شيء من شعره وأظفاره حتى يضحي في وقت الأضحية ، وقال الشافعي وأصحابه : هو مكروه كراهة تنزيه وليس بحرام ، وقال أبو حنيفة : لا يكره ، وقال مالك في رواية : لا يكره ، وفي رواية : يكره ، وفي رواية : يحرم في التطوع دون الواجب ، واحتج من حرم بهذه الأحاديث ، واحتج الشافعي والآخرون بحديث عائشة - رضي الله عنها - " قالت : كنت أفتل قلائد هدي رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم يقلده ، ويبعث به ولا يحرم عليه شيء أحله الله حتى ينحر هديه " رواه البخاري ومسلم .

قال الشافعي : البعث بالهدي أكثر من إرادة التضحية ، فدل على أنه لا يحرم ذلك وحمل أحاديث النهي على كراهة التنزيه .

قال أصحابنا : والمراد بالنهي عن أخذ الظفر والشعر النهي عن إزالة الظفر بقلم أو كسر أو غيره ، والمنع من إزالة الشعر بحلق أو تقصير أو نتف أو إحراق أو أخذه بنورة أو غير ذلك ، وسواء شعر الإبط والشارب [ ص: 120 ] والعانة والرأس ، وغير ذلك من شعور بدنه ، قال إبراهيم المروزي وغيره من أصحابنا : حكم أجزاء البدن كلها حكم الشعر والظفر ، ودليله الرواية السابقة : ( فلا يمس من شعره وبشره شيئا ) قال أصحابنا : والحكمة في النهي أن يبقى كامل الأجزاء ليعتق من النار ، وقيل : التشبه بالمحرم ، قال أصحابنا : هذا غلط ؛ لأنه لا يعتزل النساء ولا يترك الطيب واللباس وغير ذلك مما يتركه المحرم .

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00