Korelasi Kiai dan Santri; Menjawab Krisis Penghormatan Guru

Oleh: M. Nashih Nashrullah

“Siapa yang menyakiti gurunya, ia pasti terhalang keberkahan ilmunya, dan hanya sedikit saja ilmunya ya ng bermanfaat. ”(Burhanuddin az-Zarnuji, 1195 M)

Pernyataan di atas adalah penegasan dari Syekh Burhanuddin az-Zarnuji, tokoh yang tak asing di kalangan pesantren. Melalui karyanya yang sangat fenomenal, ya, //Ta’lim al-Muta’llim//, sosok kelahiran Zarandj (Afghanistan kini) itu, ingin menekankan peran sentral seorang pengajar, entah kiai atau guru, dalam proses mentransfer ilmu.

Institusi pesantren menanamkan satu hal yang sangat mendasar, bahwa hakikatnya keberhasilan proses belajar mengajar, tak hanya ditentukan capaian akademis. Pesantren mengajarkan, ada aspek penting yang mesti terpenuhi bagi kesuksesan proses tersebut, yaitu akhlak terhadap guru.

Pesantren memandang pengetahuan seseorang bukan ditimbang dari seberapa banyak penguasaan santri terhadap deretan kitab kuning, melainkan  sejauhmana dia menggali dan belajar kepada ulama.

Pendidikan pesantren bukan bertujuan untuk mengejar materi, kekuasaan dan keagungan duniawi, tetapi ditanamkan kepada mereka bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Allah SWT (Zamakhsyari : 1995).

Tradisi pesantren mengajarkan kepada santri untuk menghormati kiai dengan berbagai bentuk penghormatan. Di pesantren, kita akan disuguhkan beragam cara unik santri mengabdikan diri, untuk sekadar ngalap berkah, atau berharap keberkahan dari sang kiai. Mereka yang pernah nyantri, tak akan terkaget, mengapa mereka kerap berebut sisa minuman sang kiai, misalnya.

Di beberapa situasi, santri akan menunduk saat berhadapan atau ketika berpapasan dengan panutannya itu. Santri dituntut menjaga etika dan sopan santun bertutur serta berperilaku baik terhadap para pendidiknya, mulai dari kiai, para gus (putra kiai), ustaz pembina, termasuk pula para senior sesama santri. Petuah, nasehat, dan ajaran akan dianggap guidance berharga.

Hubungan antara santri dan kiai, pada akhirnya bersifat kontinu. Korelasinya bisa tak terputus, meski seorang santri tak lagi menuntut ilmu di pesantren. Keterikatan itu dalam banyak kasus, bahkan menjadikan antara satu dan lainnya, layaknya ikatan emosional antara anak dan bapak. Ragam persoalan akan dikonsultasikan si santri itu. Dari soal pendidikan, sosial masyarakat, politik hingga urusan asmara dan jodoh! Tak ada istilah mantan atau bekas santri dalam kamus pesantren.

Pada Abad Pertengahan, potret kedekatan semacam ini—antara guru dan murid—bukanlah pemandangan yang sulit kita dapati. Hubungan keduanya ditautkan pada tujuan yang lebih mulia, bagaimana mengantarkan sang murid benar-benar menjadi ‘orang betulan’ melalui didikan, dedikasi, dan topangan sisi spiritual transendental. Timbal balik serupa dan atau lebih kerap pula dipersembahkan sang murid untuk guru teladannya.

Kita saksikan bagaimana Abu Hamid al-Ghazali (w 1111 M), menghadiahkan risalah yang luar biasa kepada para santrinya. Sebuah karya yang berisikan kalam bijak, nasihat yang sangat subtansial, bekal berharga bagi para santri.

Nasihat tersebut merupakan permintaan khusus sebagai bekal sang murid agar sukses dunia akhirat. Petuah kebajikan itu sedianya, hanya lewat lisan tetapi sang murid menginginkan kekekalan wasiat tersebut.

Tokoh yang berjuluk hujjat al-Islam itu akhirnya mengabulkan lewat karyanya yang berjudul Ayyuha al-Walad al-Muhib, yang bermakna ‘wahai anakku yang tercinta’. Risalah ini juga dikenal dengan sebutan Ar-Risalah al-Waladiyah lantaran banyaknya kata walad (anak) dalam risalah tersebut.

Hal mendasar yang digarisbawahi tokoh bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i itu, Muslim menurutnya harus memiliki iman dan amalan saleh serta kejernihan jiwa. Apa yang ditulisnya merupakan kasih sayang kepada murid.

Satu hal lagi yang menempatkan risalah ini begitu istimewa, adalah penggunaan diksi al-walad. Pemilihan tersebut tentu tidak muncul dari ruang hampa. Ia adalah manifestasi relasi yang dalam, ikatan kuat, dan kontinuitas hubungan dari proses belajar mengajar itu. Berbekal keakraban yang terjalin selama proses belajar mengajar, al-Ghazali menganggap para santri, ibarat anak-anaknya sendiri.

Di sisi yang lain, sejarah juga mencatat bagaimana para generasi salaf memuliakan guru mereka. Imam Syafi’i salah satunya. Dinukilkan dari Manaqib al-Imam as-Syafi’i, tokoh pencetus Mazhab Syafi’i itu, mencontohkan bagaimana bersikap terhadap guru, seperti yang ditunjukkannya di hadapan Imam Malik.

Konon, Imam Syafi’i selalu berhati-hati membuka lembar-demi lembar kitab yang dia kaji, jika berada di depan sang guru, Imam Malik. “Aku tidak ingin membuatnya terusik dengan gesekan kertas,” kata Syafi’i. Beragam cara ditempuh generasi salah sebagai bentuk pemuliaan mereka kepada sosok guru.

Dalam konteks menghadapi infiltrasi sosial dan budaya, kiai, menurut pandangan Dawam Rahardjo (1985), adalah agen budaya  (agen brokers) cukup krusial yang menyaring berbagai budaya luar dan pada titik tertentu, kiai akan memosisikan diri sebagai similtator kebudayaan tersebut. Peran yang dimainkan itu menempatkan posisi vital seorang kiai, tak terbatas pada figur pemberi asupan intelektual, tetapi lebih dari itu, kiai di kalangan pesantren adalah pembimbing segala hal.

Konsep dan tradisi pendidikan holistik yang dipraktikkan pesantren selama berabad-abad ini—tanpa bermaksud berlebihan—terbukti menghasilkan output yang berkualitas. Pesantren melahirkan figur-figur calon pemimpin yang tak hanya dibekali agama, tetapi juga alat menatap kehidupan nyata. Proses transfer ilmu yang berlangsung di pesantren menitikberatkan sisi afektif spiritualistik yang menyentuh titik penting pusat perpindahan ilmu tersebut, yaitu intuisi// (lubb).//

Faktor rendahnya kesadaran dan kematangan intuisi inilah yang mendorong mengapa tak sedikit generasi muda kita gagal menangkap, membaca, dan meresapi tanda-tanda di alam semesta. Gagal menebarkan rahmat bagi sesama. Raibnya nilai-nilai religiusitas dalam intuisi itulah yang menjadi satu dari sekian faktor, mengapa penghormatan terhadap guru di dunia pendidikan nasional kita, kian memprihatinkan.

Ketika guru hanya dipandang sebagai pengajar, karyawan intitusi pendidikan, dan sebatas mentransfer pelajaran, sementara di saat yang sama, murid tak ubahnya diposisikan sebagai obyek, tanpa disertai penempaan intuisi itu, yang tersisa sebenarnya tinggal rutinitas belaka. Pendidikan yang niretika, nihil orientasi, dan jauh dari aspek-aspek religiusitas.

Penulis yakin akan satu hal hingga detik ini, potret tradisi dan pola interaksi kiai dan pesantren tersebut adalah jawaban tepat di tengah kegamangan dunia pendidikan kita saat ini atas rendahnya penghormatan terhadap guru.

Kecuali jika kita, para pegiat pendidikan, dan para pemangku kebijakan negara ini, akan terjebak dalam apa yang diistilahkan Cak Nur (2006) (Nurcholis Madjid, red) sebagai “Batu sudut rumah (negara) yang diabaikan oleh pembangun rumah.” Memandang tradisi khas pesantren itu cuma sebagai kebiasaan kuno yang tak lagi relevan dan atau sebatas bentuk nostalgia sejarah semata. Sayang sekali.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00